SEMARANG – Profesor di bidang genetika Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (UNDIP), Prof. DR. Sultana MH Faradz, PAK, Ph.D mengajak masyarakat untuk memperhatikan gaya hidupnya untuk mencegah kanker usus besar. Seiring perubahan lingkungan dan gaya hidup, kanker usus besar merebak menjadi urutan ketiga kanker yang paling sering menyerang setelah kanker paru-paru dan kanker payudara.

Hal itu disampaikan Prof Sultana pada saat webinar yang digelar dalam rangka memperingati Dies Natalis Fakultas Kedokteran (FK Undip) ke-60 yang diselenggarakan Program Studi Magister Ilmu Biomedik FK Undip. Dalam webinar bertema “Kanker dan Genetik: Deteksi Dini Genetik pada Kanker dan Penanganannya”, guru besar FK Undip itu menyebutkan jumlah kasus kanker usus besar sudah mencapai 10% dari keseluruhan kasus kanker.

Dia menuturkan, selain perubahan gaya hidup, risiko terjadinya kanker usus besar juga dipengaruhi oleh faktor usia, obesitas, diabetes, serta kebiasaan merokok. Gaya hidup yang kebarat-baratan yang ditandai dengan konsumsi daging merah seperti sapi, kambing dan daging olahan, disebutnya sebagai faktor yang signifikan dalam kasus kanker usus besar.

Prof Sultana mensitir, kehidupan di Indonesia yang konsumsi daging merahnya mulai menonjol perlu mendapatkan perhatian. “WHO sudah mengatakan bahwa process meat atau daging olahan merupakan salah satu penyebab kanker. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” katanya, Sabtu (18/9/2021).

Kepada para orang tua dia mengingatkan perlunya mengontrol dan mengedukasi apa yang baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak mereka. “Gaya hidup kita terutama bagaimana memberi makan anak tapi asal senang, tanpa memperhitungkan bahwa itu tidak sehat,” dia menambahkan.

Secara tegas disampaikan beberapa hal terkait makanan yang perlu dihindari dan dijauhi agar terhindar dari risiko kanker usus besar. Yaitu menghindari makanan rendah serat, makanan yang tinggi lemak, makanan yang mengandung zat pengawet dan pewarna, serta kebiasaan meminum alkohol. Dia juga meminta para penderita polip untuk lebih waspada. “Kadang-kadang, tanda-tandanya disertai dengan sakit perut berkepanjangan, disertai dengan bentuk feses yang aneh. Itu juga salah satu pertanda, tidak hanya diare.”

Mengenai usia, orang yang berumur di atas 50 tahun juga memiliki risiko yang lebih besar terkena kanker usus besar. “Yang menyebabkan risiko timbulnya kanker usus besar adalah usia di atas 50 tahun. Kasus di bawah usia 50 tahun jarang terjadi kecuali ada riwayat keluarga yang menderita kanker,” ungkap dia.

Adapun mengenai tahapan perkembangan kanker usus besar, disebutkan dimulai dari stadium 0 di mana kanker hanya pada sel-sel terdalam dari usus. Kemudian pada stadium 1 sel kanker sudah tumbuh di dinding dalam dari usus; selanjutnya adalah stadium 2 di mana mendampak pada jaringan-jaringan di sekitarnya. “Pada stadium 3 sel kanker sudah menyebar ke kalenjar getah bening dan stadium 4 kanker menyebar ke bagian tubuh lainnya.”

Sementara Ketua Departemen Kedokteran FK Undip, Dr. dr. Trilaksana Nugroho, dalam sambutannya mewakili Dekan FK Undip menyampaikan apresiasinya terhadap webinar yang digelar kali ini. “Kami menyambut baik kegiatan ini yang dipelopori oleh Program Studi Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Undip,” katanya.

Menurutnya, studi onkologi ini sangat menarik untuk dikembangkan dari berbagai sudut pandang khususnya genetik. Dalam hal ini kita mungkin jarang menyentuh sampai ranah genetik, yang biasa kita lakukan sebatas pada ranah klinik.

Oleh karena itu sangat relevan kalau Prodi S2 Ilmu Biomedik FK Undip berinisiatif mengkaji aspek genetik pada kanker yang pada intinya merupakan patogenesis dasar dari kanker itu sendiri, yang merupakan suatu penyakit cacat genetik. “Harapannya dari kegiatan ini, nanti para peserta dan kita semua bisa refresh lagi dalam ilmu genetik kanker, serta dapat menemukan atau menginspirasi ide, riset, atau pengembangan penatalaksanaan kanker berikutnya,” harapnya.

Dalam pelaksanaannya, webinar tersebut hadir juga pembicara lain di antaranya pengajar di bagian patologi klinik FK Undip, Dr. dr. Edward Kurnia Setiawan yang menyampaikan materi tentang aspek etik dalam deteksi genetik pada penyakit kanker. Kemudian Kepala Program Studi Magister Ilmu Biomedik FK Undip, Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko yang memaparkan terkait genetik testing and management hereditary breast cancer dan staf pengajar di Universitas YARSI Program Magister Biomedik, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo yang mengupas terkait manfaat deteksi genetik HPV penyebab kanker serviks. (tim humas)