Saat ini penduduk lanjut usia di Indonesia semakin hari semakin bertambah banyak. Hal ini dikarenakan harapan hidup para lansia semakin baik. Namun, di sisi lain dengan bertambahnya jumlah penduduk lansia, maka kerentanan pada lansia ini juga akan bertambah dan akan mudah terserang penyakit.

Untuk mengatasi persoalan itu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik (PERDOSRI) Jateng-DIY, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI), Pemerintah Kota Semarang, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) dan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (IKA MEDICA), dengan bangga meluncurkan Model Circuit Station, Penilaian Paripurna, Edukasi, dan Penanganan Kesehatan Lanjut Usia Peserta Prolanis di Puskesmas dan Klinik Pratama Kota Semarang.

Kegiatan ini termasuk dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan masih dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran Undip ke-60. Diadakan pada Minggu (19/09) pukul 09.00 WIB di Klinik Graha Syifa, Gunungpati Semarang ini dihadiri oleh Dekan FK Undip, Wakil Dekan 1 FK Undip bidang Akademik Kemahasiswaan Penelitian Pengabdian dan Kerjasama, para Kepala Departemen FK Undip, para Ketua Prodi dan Ketua Bagian di lingkungan FK Undip, Direktur Umum RS Nasional Diponegoro, Direktur Operasional dan Umum RS Nasional Diponegoro. Serta turut mengundang Walikota Kota Semarang, Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Kepala Puskesmas dan Pengelola Klinik Pratama Kota Semarang.

Walikota Semarang, Hendrar Prihadi (kiri), bersama dengan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, dr. Lily Kresnowati, M.Kes. (kedua dari kiri), saat melakukan peluncuran inovasi model Circuit Station di Klinik Graha Syifa (19/09).

Walikota Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dalam pidatonya mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan oleh tim dari Fakultas Kedokteran Undip. “Saya ucapkan terima kasih kepada pak Dekan dan seluruh timnya yang melakukan pengabdian masyarakat di wilayah Kota Semarang. Kita tahu bahwa wilayah kesehatan ini menjadi wilayah yang sangat penting untuk kita bisa prioritaskan untuk warga Semarang”, jelas Hendrar Prihadi.

Pandemi Covid-19 yang saat ini masih terjadi di seluruh dunia menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi Pemerintah Kota Semarang, khususnya mengenai masalah SDM (Dokter dan Perawat) serta fasilitas kesehatan. Dengan adanya inovasi Circuit Station ini akan semakin memperkuat SDM dan fasilitas kesehatan yang telah dimiliki sebelumnya.

“Kita melakukan upaya-upaya baik di tingkatkan Pemkot maupun di tempat pihak ketiga untuk meng-upgrade ruang-ruang pelayanan kesehatan yang semakin baik. Pengalaman pandemi Covid-19 ini membuka mata kita, kalau ternyata ketersedian Dokter dan jumlah kamar rumah sakit masih sangat kurang, khususnya di Kota Semarang. Kami sampaikan ucapan terima kasih yang luar biasa untuk kawan-kawan dokter, selama menangani Covid-19 ini oke semua, luar biasa”, jelas Hendi, sapaan akrab Walikota Kota Semarang.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kedokteran Undip, Prof. Dr. dr. Dwi Pudjonarko, M.Kes.,Sp.S. (K)., menyebutkan Circuit Station merupakan inovasi yang tercipta dari tim FK Undip. “Ini merupakan inovasi dari dosen-dosen kami, ini adalah hasil karya yang harus kita hilirisasi, harus bisa dinikmati oleh masyarakat”, ucap Prof Dwi Pudjonarko.

Peran Puskesmas dan Klinik Pratama akan menjadi ujung tombak pada program ini. Mereka akan mendeteksi lebih dini gejala-gejala yang timbul pada para lansia. “Ini baru program pecontohan, nanti akan diikuti oleh berbagai tempat”, lanjut Prof Onang, sapaan akrab Dekan FK Undip itu.

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, dr. Lily Kresnowati, M.Kes., menyambut baik atas terobosan inovasi yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Undip. “Sebagai perwakilan dari BPJS Kesehatan dan juga sebagai alumni FK Undip, saya mengucapkan terima kasih, apresiasi, dan bangga atas peluncuran model Circuit Station penilaian paripurna edukasi dan penanganan kesehatan lanjut usia peserta Prolanis di Puskesmas dan Klinik Pratama Kota Semarang”, ungkap dr. Lily.

Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, dr. Lily Kresnowati, M.Kes. (kiri), bersama dengan Ketua Panitia Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Undip, Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, SpM(K)FISCM. (kanan), saat peninjauan pelaksanaan model pelayanan Circuit Station di Klinik Graha Syifa (19/09).

“BPJS Kesehatan menyambut baik dengan diluncurkannya model Circuit Station, penilaian ini sebagai upaya untuk memberikan informasi dan sosialisasi tentang penanganan kesehatan lanjut usia secara paripurna melalui sarana edukasi berupa buku, video senam yang diharapkan mampu melengkapi panduan klinis yang telah kami siapkan sebelumnya”, tambahnya.

Program Circuit Station akan mendukung program BPJS Kesehatan khususnya dalam pelayanan kesehatan Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Tujuan dari Prolanis sendiri ialah untuk mencapai kualitas hidup yang optimal bagi peserta Prolanis dengan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien.

Menurut data dari BPJS Kesehatan sampai dengan bulan Agustus 2021, peserta Prolanis dengan Diabetes Melitus sebanyak 321.873 peserta, khusus untuk Kota Semarang berjumlah 18.397 peserta. Sedangkan untuk peserta Pronalis dengan Hipertensi sebanyak 492.661 peserta, khusus untuk Kota Semarang sebanyak 12.551 peserta. Dari jumlah tersebut, presentase peserta lansia untuk Prolanis Diabetes Melitus 56% dan untuk Prolanis Hipertensi sebanyak 54%.

Prolanis Diabetes Melitus dan Hipertensi sendiri merupakan fokus utama dari BPJS Kesehatan. Lebih lanjut, dr. Lily mengungkapkan dari kedua penyakit tersebut akan menimbulkan penyakit-penyakit lainnya. “Jadi kita harus mengendalikan dulu Diabetes Melitus dan Hipertensi untuk mencegah terjadinya Penyakit Katastropik. Penyakit Katastropik itu menempati rangking tertinggi dari kasus yang ditangani BPJS Kesehatan dan biayanya juga paling tinggi. Selain itu penderita Komorbid ini merupakan kelompok rentan yang angka kematiannya tertinggi pada kasus Covid-19”, jelas Alumni Fakultas Kedokteran Undip itu.

BPJS Kesehatan berkomitmen akan terus bekerja sama dengan Pemerintah Daerah untuk memberikan prioritas, baik dalam pengendalian komorbidnya maupun dalam program Vaksinasi Covid-19. Melalui Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, akan memiliki peran besar dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan memastikan kondisi para peserta prolanis khususnya lanjut usia untuk dalam keadaan optimal, stabil dan terkontrol.

Sebelumnya, dalam laporannya, Ketua Panitia Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Undip, Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, SpM(K)FISCM., mengungkapkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk aplikasi langsung kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu poin dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Kebetulan di FK ada hibah, penelitian dan pengabdian ini adalah salah satu bentuk hibahnya. Hibah itu akan berhenti menjadi hasil penelitian, data saja, kalau tidak diaplikasikan di masyarakat. Oleh karena itu, kami berkewajiban menyampaikannya kepada masyarakat. Bagaimana mencurahkan ide kami supaya dapat diterapkan di masyarakat dan terjangkau serta sesuai dengan sistem yang berlaku”, ungkap Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, SpM(K)FISCM., yang juga merupakan Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jawa Tengah.

dr. Trilaksana menambahkan sistem yang diterapkan dalam Circuit Station merupakan bentuk modifikasi dari program BPJS Kesehatan yang sudah banyak dikenal masyarakat, yaitu Prolanis. “Saat lansia itu berkumpul untuk diperiksa, nampak mereka seperti reuni. Tidak merasa seperti periksa ke RS atau dokter yang menakutkan, sehingga kami berpikir mumpung suasananya itu membahagiakan bagi para lansia, kami periksa skrining penyakit-penyakit secara keseluruhan terutama penyakit lanjut usia atau kronis”, tambahnya.

Apabila terdapat lansia yang terdeteksi suatu penyakit, maka akan segera dilakukan sistem rujukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sasaran dari kegiatan ini ialah lansia yang mempunyai penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus.

“Nanti akan kami serahkan hasil dari pemikirian kami berupa buku panduan dan video tutorial dalam mencegah penyakit lanjut usia dan penyakit kronis kepada masyarakat”, pungkasnya.

Lebih lanjut, dr. Trilaksana berharap adanya sinergi dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah Kota Semarang, untuk kelancaran kegiatan pengabdian masyarakat ini. “Harapan kami, mohon dukungan dari pak Walikota terhadap kesehatan lanjut usia, supaya lansia itu sehat, tetap aktif dan berdaya. Sehingga lansia itu produktif dimasa sepuhnya”, imbuhnya.

Dalam program Circuit Station terdapat beberapa station, yaitu station 1 aktivitas kehidupan sehari-hari, station 2 resiko jatuh, station 3 frailty, station 4 nutrisi & covid-19, station 5 kognitif & depresi, station 6 pemeriksaan mata, dan station 7 lansia berdaya.