SEMARANG – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia menjadi tamu spesial pada kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Training Legislatif Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Tahun 2021 yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro (UNDIP). Pada Training Legislatif bertemakan “Peran dan Fungsi Lembaga Legislatif Mahasiswa dalam Membangun Legislator Muda yang berwawasan Intelektual dan Profesional Berlandaskan Pancasila” Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, mengingatkan peran penting mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut sosok yang akrab disapa sebagai Bamsoet ini, mahasiswa memiliki peran penting dan strategis sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), serta sebagai penjaga moral dan penjaga nilai-nilai dalam kehidupan bersama (moral force dan guardian of value. Sebagai agent of change, mahasiswa adalah katalisator yang mendorong lahirnya perubahan ke arah perbaikan dalam kehidupan sosial, kehidupan berbangsa, dan bernegara.

“Untuk menjalankan fungsi sebagai penggerak perubahan, mahasiswa dituntut untuk dapat bersikap kritis, berfikir visioner dan melihat jauh ke depan. Selain mempunyai daya kreasi dan imajinasi yang kuat mengenai kondisi ideal yang dicita-citakan,” ujar Bamsoet saat menyampaikan paparannya secara virtual di Jakarta, Senin (18/10/21).

Tokoh yang menjadi Ketua DPR RI ke-20 ini menambahkan, sebagai social control, mahasiswa berperan untuk memperjuangkan keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat, agar tidak terjadi kesenjangan dan ketimpangan sosial. Dalam konsepsi ini, mahasiswa dituntut mempunyai kejelian dalam melihat dan menyelami realitas sosial yang terjadi di sekitarnya.

“Sedangkan posisi sebagai moral force, mahasiswa adalah sumberdaya pembentuk moral bangsa. Mahasiswa harus dapat menjadi contoh dan teladan, yang kehadirannya mampu memberi dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Penguatan komitmen mahasiswa sebagai kekuatan moral ini terasa kian penting, karena seiring dengan pesatnya laju modernitas dan derasnya arus globalisasi, tantangan dalam menghadapi dekadensi moral bangsa akan semakin kompleks dan dinamis, khususnya bagi generasi muda bangsa,” jelasnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, sebagai guardian of value, mahasiswa mempunyai peran untuk menjaga agar nilai-nilai luhur yang menjadi legasi dan jati diri bangsa tetap lestari, tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat.  Dalam konteks ini, mahasiswa selaku insan cendikia mempunyai peran untuk mengembangkan nilai-nilai luhur yang bersifat universal, seperti kejujuran, integritas, gotong royong, toleransi, dan lain-lain, dengan dilandasi kerangka berfikir yang ilmiah.

Pada momentum tersebut, kepada para kader bangsa peserta FGD Training Legislatif Bamsoet juga mengingatkan posisi mahasiswa sebagai iron stock. “Sebagai iron stock mahasiswa adalah sumberdaya potensial bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa dituntut untuk menjadi manusia-manusia tangguh, yang mampu menjawab berbagai tantangan dan dinamika zaman.”

Yang pasti, politisi yang terpilih dari salah satu Dapil di Jawa Tengah ini mengungkapkan bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut cerdas dan terampil, tapi juga harus berkarakter dan mempunyai wawasan kebangsaan yang memadai. Hal ini merupakan bagian penting dalam menyiapkan kepemimpinan nasional.

Dia berharap para mahasiswa yang bergiat dalam lembaga legislatif mahasiswa mau terlibat dalam kancah nasional. Bamsoet berharap para aktivis lembaga legislatif mahasiswa mampu membentuk sikap asertif, yakni kemampuan membangun komunikasi secara jujur, tegas, lugas, dengan tetap menghormati perbedaan pendapat.

“Berbeda dengan sikap agresif, sikap asertif ini mengamanatkan cara penyampaian pendapat tanpa melukai perasaan, mengedepankan keterbukaan pemikiran, dan menghargai hak orang lain untuk mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi setiap persoalan,” pungkasnya. (tim humas)