SEMARANG – Program Studi Magister Teknik dan Manajemen Industri Fakultas Teknik UNDIP (Universitas Diponegoro) menggelar Webinar Series ke-19 mengangkat topik bahasan “Research Edge in Industrial Engineering and Management” dengan fokus pada Logistik Halal. Ada dua pakar yang menjadi pemateri, yakni dosen yang juga Kepala Labratorium Optimasi Industri dan Perencanaan Sistem Industri FT Undip, Prof. Dr. Aries Susanty, S.T., M.T. yang membawakan makalah berjudul “Halal Logistics: Barrier and Framework Measuring System”; dan Ketua Prodi Magister Management FEB Undip, Mirwan Perdana, S.E., M.M., Ph.D yang membawakan materi berjudul “Cooperation A Cultural Perspective”.

Menurut Prof Aries Susanty, ada tiga hal utama yang dipakai sebagai kriteria untuk mengukur logistik halal, yaitu direct contact with haram (kontak langsung dengan barang haram), risk contamination (risiko terkontaminasi) dan perception (persepsi). Untuk mengukurnya ada 20 indikator yang dapat digunakan, yang kesemuanya dibagi dalam dua kelompok, yakni wajib dan preferensi.

Indikator logistik halal yang wajib biasanya menggunakan skala biner yang jawabannya tegas ya atau tidak; sedangkan untuk yang masuk kategori preferensi bisa menggunakan skala yang lebih variatif. Karena itu, Aries Susanty menyarankan kepada lembaga audit untuk lebih memperhatikan aspek transportasi dan penyimpanan dalam mengukur logistik halal.

Selain dalam proses distribusi, pengukuran logistik halal juga dilihat dari perlakuan di tempat penyimpanan, diantaranya memisahkan kargo halal dan kargo non-halal selama proses pergudangan. Tata letak fasilitas gudang pun harus dirancang untuk memisahkan produk halal dan non-halal secara mudah. “Hal-hal yang terkait distribusi dan perlakuan selama trasportasi tidak membolehkan kendaraan pengangkut produk non-halal digunakan untuk mengangkut produk halal tanpa dilakukan pembersihan dengan metode sesuai syariat Islam,” katanya, Jumat (22/10/2021).

Diungkapkan pula, kebutuhan akan produk dan jasa halal di tingkat global , menurut The Workd Population Review (2019), untuk melayani 1,8 miliar umat Islam. Adapun nilai produknya di tahun 2019 mencapai US$ 2,2 triliun dan akan mencapai US$ 3,2 triliun pada tahun 2024 (Dinar Standard, 2019). Ada peningkatan kesadaran yang mengubah pandangan tren di kalangan Muslim tentang produk halal menjadi sesuatu yang harus dilakukan dan didapatkan, selain itu warga non Muslim sudah mulai mengenal dan tertarik produk dan jasa halal.

Mengutip Susilawati 2020, di Indonesia pada 2020 terdapat 268 juta Muslim. Pada 2017 konsumsi produk dan jasa halal senilai US$ 218,8 miliar, dan pada 2025 angkanya dapat mencapai USD 330,5 miliar dengan rata-rata pertumbuhan 5,3%. Besarnya kebutuhan membentuk rantai pasok halal yang terdiri dari Syariah Halalan Toyyiban ditambah rantai pasok yang terdiri dari sumber, manajemen operasi, logistik dan integrasi. Sedangkan yang dimaksud dengan Rantai Pasok Halal (Halal Supply Chain) adalah aplikasi dari prinsip Syariah dalam keseluruhan aktivitas rantai pasok.

Mirwan Surya Perdhana, S.E., M.M., Ph.D selaku pemakalah kedua menyoroti dorongan terjadinya kerjasama, yaitu kesamaan agama dan kesamaan value atau persepsi baik buruk benar salah akan sesuatu. Sayangnya nilai atau value, sebagaimana dinyatakan Henrich dkk 2010, adalah sesuatu yang sifatnya di dalam sehingga tidak bisa diketahui hanya dengan sekilas.

Untuk dapat melihat nilai dari permukaannya salah satunya adalah melalui symbol, karena simbol muncul sebagai perwujudan nilai yang dapat dilihat dengan pendekatan budaya. Melalui budaya maka nilai-nilai akan mewujud menjadi ritual dan kemudian menjadi simbol, sehingga nilainya kemudian dapat dilihat secara langsung. Mirwan mencontohkan penduduk di Jerman, Swiss dan Jepang sangat bangga pada jam tangan yang mereka kenakan, hal ini karena mencerminkan budaya mereka yang sangat menghargai waktu.

Namun Mirwan mengingatkan bahwa penggunaan pendekatan budaya tidak mudah karena tiap budaya memiliki persepsi yang unik dan berbeda. Namun budaya sangat penting karena merupakan determinan dari masyarakat. Untuk memahami budaya suatu kelompok, Mirwan menyarankan penggunaan enam dimensi dari Geert Hofstede yaitu power distance, kolektivitivitas vs individualitas, uncertainty avoidance index, feminimitas vs maskulinitas, short time long term orientation, dan restrain vs indulgence.

Wakil Rektor IV Undip, Prof. Dr. Ambaryanto memberikan apresiasinya atas terlaksananya webinar ke-19 ini karena merupakan program knowledge sharing untuk para pengajar di UNDIP. Kegiatan ini juga dilakukan secara bersama sama antar departemen-departemen yang ada, sehingga memperkuat sinergisitas. Dia berharap webinar series difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan pemeringkatan.

Ambariyanto juga mengapresiasi capaian dimana 80% dosen teknik industri sudah menjadi pemateri dalam webinar series. Hal ini merupakan upaya baik untuk mengetahui apa perkembangan dari rekan-rekan kerja, saling update dengan sesama pengajar, karena terkadang meskipun satu departemen tapi tidak paham apa yang menjadi keahlian khusus dari kolega kita, apa riset yang dilakukan, apa perkembangan risetnya. (tim humas)