SEMARANG – Berkat ketekunannya meneliti pemakaian jamur sebagai pengganti antibiotik pada pakan ternak, Dr. Dra. Turrini Yudiarto, M.Sc. berhasil mencapai jenjang akademik tertinggi sebagai guru besar. Dosen Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip) ini menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Eksplorasi Jamur yang Berasal dari Tanah, Tanaman, dan Ternak untuk Meningkatkan Produktivitas Ternak Unggas di Indonesia” di hadapan Sidang Terbuka Senat Akademik Undip, Kamis (28/10/2021), yang menandai awal karirnya sebagai profesor.

Pengampu Mata Kuliah Biologi dan Mirkobiologi di FPP Undip ini mengaku prihatin banyaknya peternak yang menggunakan antibiotik atau Antibiotic Growth Promoters (AGPs) untuk meningkatkan produktivitas ternaknya. Konsekuensi pemakaian AGPs adalah dampak negatif yang lebih besar yang ditimbulkan dari residu bahan tersebut. “Pemakaian AGPs bukan saja berbahaya bagi hewan ternak, tapi juga bagi yang mengkonsumsinya. Ternak kemungkinan akan resisten terhadap bahan kimia yang digunakan secara terus menerus dan residu bahan kimia yang ada pada hasil ternak akan ikut dikonsumsi oleh manusia,” kata perempuan kelahiran Semarang, 2 Desember 1959 ini.

Karena itu menjelang terbitnya larangan Pemerintah dalam hal penggunaan bahan kimia sebagai imbuhan pakan sebagaimana tertuang dalam Permentan No 14/2017, Turrini mencoba mencari solusi bagaimana agar peternak bisa meningkatkan produktivitasnya tanpa harus menambahkan AGPs pada pakan ternaknya. Dia mencari alternatif pengganti antibiotik yang berbahaya dengan bahan yang aman digunakan, yaitu mikroorganisme, dalam hal ini adalah jamur, fungi, cendawan atau kapang.

Bagaimanapun, penggunaan bahan kimia antibiotik untuk ternak menyimpan banyak risiko yang berbahaya, sehingga Turrini bertekad menemukan pengganti yang alamiah agar para peternak tetap bisa menjalankan usahanya secara efisien dan aman. Negara lain sudah lebih dulu melarang penggunaan APGs untuk ternak, sementara Indonesia baru memberlakukannya per 1 Januari 2018.

Dari kajiannya, jamur yang di alam tropik sangat menonjol namun kurang mendapat perhatian, ternyata punya potensi besar mengubah pakan dasar ternak menjadi pakan yang berkualitas dan mampu mempercepat pertumbuhan. Jamur alam yang dikesankan kotor ternyata bukan hanya berperan mendegradasi bangkai dan sampah serta sisa-sisa bahan organik lainnya akan tertumpuk di sembarang tempat, tapi bisa mengubah bahan organik sisa menjadi pangan yang dapat dimanfaatkan oleh mikrorganisme lain serta menjadikan alam ini bersih.

Kemampuan jamur memfermentasi substrat, mensekresikan berbagai enzim, hormon, vitamin, dan asam organik, juga mendegradasi toksin, diketahui mampu menghasilkan antibiotik. Ada kelebihan jamur yang tidak dipunyai oleh mikroorganisme yang lain, yakni mampu tetap hidup pada lingkungan dengan kondisi lingkungan yang ekstrim yaitu dalam bentuk spora istirahat “dormant spore”. Selain itu, jamur dapat ditemukan dimana- mana baik, di udara, di laut, tanah, tanaman, ternak dan juga di dalam tubuh manusia.

Mengacu pada potensi, manfaat, keberadaan serta kelebihannya, Turrini yang kini menjadi ibu bagi dua anak dan nenek dari satu cucu ini melakukan eksplorasi. Berbagai jamur yang berasal dari tanah, tanaman dan juga dalam tubuh ternak sekaligus digali potensi dan kemampuannya serta dibuat produk kultur keringnya untuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan dan pakan fungsional untuk ternak unggas.

Peraih gelar Magister dari The Royal Veterinary and Agricultural University (RVAU) Copenhagen, Denmark dalam bidang ilmu Plant-Biology tahun 1990 ini mengekslporasi kemampuan jamur memfermentasi berbagai bahan organik sisa seperti nasi aking, ampas tahu, ampas sawit, dan dedak, ternyata hasilnya sangat menjanjikan. “Ternyata jamur mampu meningkatkan nilai nutrisi bahan-bahan  organik sisa, termasuk meningkatkan kadar proteinnya,” kata isteri dari Drs. Bambang Prihanto T.Y.

Begitu kajian dirasa cukup, pemilik beberapa paten ini lantas mencoba mengaplikasikan proses fermentasi jamur temuannya ke para peternak unggas yang menjadi mitra. Mereka sudah merasakan manfaat karena bahan organik sisa bisa ditingkatkan kadar proteinnya dengan jamur. “Memang penelitian ini untuk pakan ternak untuk semua jenis unggas, belum kami coba di ternak jenis lain,” ungkap lulusan Program Doktor Ilmu Peternakan Undip ini.

Ditanya mengenai perasaannya atas capaian sebagai profesor di Universitas Diponegoro, Turrini Yudiarti mengaku sangat bersyukur. “Ini anugerah Allah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Gelar guru besar akan melecut saya untuk bisa berbuat lebih baik lagi,” pungkasnya. (tim humas)