SEMARANG – Berawal dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukannya, sontak Prof. Dr. Aji Prasetyaningrum, S.T., M.Si yang sehari-hari menjadi pengajar di Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (FT Undip) tergerak untuk mendalami potensi rumput laut. Tumbuhan laut yang kini banyak dibudidayakan masih menjadi komoditas yang prosesnya minimal sekali, ada yang dijual mentah ada juga yang menjualnya dalam bentuk kering jemur padahal kandungan yang tersimpan di dalamnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

“Sangat disayangkan jika rumput laut Indonesia kurang maksimal dalam meningkatkan perekonomian. Padahal memiliki kandungan karagenan yang banyak dipakai sebagai zat aditif pada makanan, bahkan untuk obat hayati,” kata Prof. Dr. Aji Prasetyaningrum, S.T., M.Si, Kamis (28/10/2021), saat menyampaikan orasi pengukuhannya sebagai guru besar yang diberi judul “Inovasi Teknologi Pengolahan Karagenan untuk Bahan Baku Produk Pangan dan Obat Hayati Berbasis Sumberdaya Rumput Laut”.

Karena itu, perempuan kelahiran Pati, 2 Oktober 1969 yang saat ini menjabat sebagai Ketua Laboratorium OTK dan Proses Teknik Kimia FT Undip menyarankan dilakukannya proses pengolahan untuk mendapatkan nilai keekonomian yang lebih baik. ’Pengolahan rumput laut menjadi karagenan akan meningkatkan nilai ekonomi produk. Jika dijual dalam bentuk rumput laut kering harganya sekitar Rp. 8.500/kg, sedangkan jika diolah menjadi karagenan semi murni nilai jual menjadi Rp. 80.000/kg. Nilai ekonominya akan naik dua kali lipat menjadi Rp 160 ribu jika diproses menjadi karagenan,” ujarnya.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020 jumlah ekspor rumput laut Indonesia pada tahun 2019 mencapai US$ 324,84 juta/tahun atau tumbuh 11,31% dibandingkan pada 2018 yang mencapai US$ 291,83 juta/tahun. Selama rentang waktu 2014-2019, ekspor rumput laut nasional juga tercatat tumbuh rerata per tahun sebesar 6,53%. Untuk produksi pada 2020  mencapai 10,99 juta ton dan diproyeksikan mencapai 12,33 juta ton pada 2024.

Hal lain yang perlu dicermati, kata dosen yang menyelesaikan pendidikan S1 dan S3 di Teknik Kimia Undip dan S2 di ITB ini adalah kenyataan bahwa di sisi hilir, formulasi branding produk olahan yang berasal dari bahan mentah rumput laut masih sangat kurang. “Padahal potensinya sangat besar karena pertumbuhan rumput laut di Indonesia sangat baik. Kondisi iklim dan letak geografis Indonesia dengan cahaya sinar matahari, arus, tekanan, kualitas air serta kadar garam yang sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan rumput laut sangat mendukung,” ungkap dosen yang mengampu 9 mata kuliah ini.

Rumput laut yang banyak ditemukan di Indonesia adalah jenis Eucheuma cottonii yang merupakan bahan baku pembuatan karagenan. Sayangnya, hasil rumput laut Indonesia 80% diekspor dalam bentuk produk kering, sehingga industry pengolahan keragenan dari bahan rumput laut perlu didorong. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, keragenan merupakan bahan aditif yang aman untuk makanan, keragenan merupakan sumber yang baik untuk produk obat hayati.

Adapun proses pengolahannya dilakukan dengan cara ekstraksi, bisa memakai gelombang ultrasonik maupun prosses multi tahap. Keragenan yang dihasilkan dari proses tersebut terbagi menjadi dua kategori, yaitu keragenan dengan bobot molekul tinggi yang biasanya dimanfaatkan untuk makanan dan minuman; dan keragenan dengan bobot molekul rendah untuk bahan obat hayati.

Penggunaan teknologi ekstraksi berbantu ultrasonik dapat meningkatkan kualitas tekstur gel karagenan (>1.200 g/m2), lebih ramah lingkungan dan sesuai diaplikasikan untuk ekstraksi bahan karagenan yang tidak tahan terhadap panas. Sedangkan penggunaan sistem ekstraksi multi tahap dapat mengisolasi sisa karagenan yang masih ada sehingga tingkat kemurnian dan rendemen karagenan yang dihasilkan akan meningkat (+/- 35%). Aplikasi proses recycle dapat mengurangi kebutuhan pelarut, menurunkan biaya produksi dan  mengurangi residu bahan kimia.

Upaya pengembangan lanjutan keragenan di antaranya produk turunan edible film berbahan dasar karagenan mampu memperpanjang masa simpan dan memperbaiki kualitas produk pangan. Aplikasi keragenan untuk pangan sudah dilakukan di antaranya untuk produk yoghurt, jelly drink, permen jelly, dodol, sirup dan coklat keragenan. Hilirisasinya sudah sampai pada aplikasi di industri.

Sedangkan pemanfaatan keragenan untuk obat hayati, secara jujur Aji Prasetyaningrum menyatakan masih butuh penelitian lebih lanjut untuk bisa mencapai tahap hilirisasi. Namun dia optimis, pengembangan menjadi bahan baku obat hayati sangat terbuka. ”Metode teknologi oksidasi maju potensial untuk depolimerisasi produk karagenan yang menghasilkan produk dengan spesifikasi bobot molekul 21 kDa dan kadar sulfat 11,52-12,14% memenuhi persyaratan untuk bahan baku obat hayati, seperti anti oksidan dan anti kanker,” ungkap ibu dua anak ini.

Atas pencapaiannya ke jenjang akademik tertinggi, justru mendorong istri dari Drs. H. Soedijanto Oetomo ini makin fokus meneliti pengembangan karagenan bobot molekul tinggi untuk bahan tambahan produk pangan dan karagenan bobot molekul rendah untuk sumber bahan obat hayati. Dia berharap teknologi pengolahan karagenan ke depan bisa dikembangkan dan diaplikasikan pada industri, baik skala Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun industri.

Yang pasti dia merasa bersyukur bisa menyandang gelar profesor di usianya yang ke-52. “Bagi saya pencapaian sebagai guru besar merupakan rahmat dari Allah SWT. Semoga pencapaian ini bisa memberi manfaat bagi Undip dan masyarakat. Doakan saya bisa memberikan kontribusi positif,’’ harapnya. (tim humas)