Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Nasional Diponegoro Universitas Diponegoro, dr. Andreas Arie Setiawan, Sp.PD-KKV menyampaikan tim Dokter RSND berhasil menyelamatkan seorang bayi yang lahir prematur dengan kelainan kongenital atresia duodenum yang  merupakan kasus langka satu diantara 6.000 sampai dengan 10.000 kasus sehingga menjadi sesuatu hal yang sangat membahagiakan, tidak hanya untuk pasien dan keluarga tetapi bagi semuanya karena bisa menyelamatkan seorang bayi.

dr. Agung Aji Prasetyo, Si, Med, Sp.BA, Dokter Spesialis Bedah Anak RSND Undip yang menangani bayi tersebut menyampaikan bahwa pada bayi prematur atau bayi yang baru lahir dengan berat badan yang sangat rendah, rentan terjadi kelainan kongenital khususnya pada bagian saluran cerna. Salah satu yang pernah dijumpai adalah kelainan pada usus dua belas jari dimana usus dua belas jarinya tidak terbentuk dengan sempurna, ada sumbatan atau penyekatan sehingga makanan tidak bisa masuk untuk dicerna melalui usus. Jika tidak dilakukan operasi pada bayi-bayi dengan penyakit kongenital stenosis duodenum atau atresia duodenum bisa mengalami kondisi buruk sampai risiko meninggal dunia.

“Faktor genetik tentu sangat berpengaruh pada  terjadinya atresia duodenum ini, faktor lain yang berpengaruh antara lain bayi dengan berat badan rendah, adanya prematuritas atau lahir sebelum waktunya, bisa karena faktor gizi, faktor genetik dan faktor penyakit selama masa kehamilan. Itu semua akan membuat kondisi dimana terjadi kegagalan pembentukkan usus  atau kegagalan vaskularisasi usus sehingga menyebabkan sumbatan pada usus dua belas jari atau duodenum” tutur dr. Agung.

“Pasien bayi yang ditangani ini kurang lebih satu minggu, memang idealnya semakin cepat terdiagnosis maka angka kesembuhannya atau angka harapan hidupnya akan lebih tinggi daripada pasien yang datang pada kondisi terlambat. Kondisi pasien yang terlambat ditangani  biasanya terjadi karena pasien sudah kekurangan cairan atau dalam kondisi infeksi atau kekurangan nutrisi, itu semua akan membuat keadaan pasien tampak lemah sehingga lebih susah untuk recovery  atau penyembuhannya” lanjutnya.

dr. Agung mengatakan gejala penyakit ini pada umumnya adalah muntah. Setiap kali minum susu, bayi segera muntah, muntahnya bisa berwarna hijau karena hijau adalah warna dari cairan empedu yang dihasilkan di usus dua belas jari. Sehingga jika usus dua belas jarinya buntu cairan ini akan kembali ke lambung kemudian masuk ke kerongkongan dan menjadi muntah, bayi tidak bisa minum susu sama sekali, otomatis jika tidak bisa minum susu, tidak ada asupan makanan sehingga dia juga tidak bisa BAB. Pengobatannya tentu harus dilakukan operasi setelah terdiagnosis dengan baik dan dipastikan memang ada sumbatan di usus dua belas jari, maka terapi satu-satunya adalah jalan operasi, yakni operasi penyambungan usus dua belas jari. Operasi dilakukan dengan bypass, usus dua belas jari dilakukan penyambungan ke usus bagian bawahnya. Tetapi operasi ini sendiri tentu harus dilengkapi dengan fasilitas rumah sakit yang baik, mempunyai ruang intensif atau NICU sehingga perawatannya bisa optimal. Di RSND fasilitasnya sudah lengkap dan bisa melakukan operasi-operasi pada bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir yang rendah.

“Kasus-kasus ini tentu harus ditangani sedini mungkin, yang pertama untuk mencegah penyakit ini harus melakukan screening selama kehamilan. Jika terdeteksi ada masalah saat kehamilan tentu bisa langsung dilakukan penanganan. Pada ibu hamil idealnya dilakukan USG setiap trimester, dari USG harusnya ketahuan, misalnya ditemukan ada cairan ketuban yang berlebih, kita harus waspada jika ada sumbatan di saluran cerna. Cairan ketuban itu biasanya memang diserap di usus bayi, ia meminum cairan ketuban kemudian diserap di usus bayi untuk kemudian kembali ke sirkulasi ibu. Kalau dari pemeriksaan USG ditemukan ada cairan ketuban yang berlebih atau polihidramnion kemungkinan besar ada masalah penyerapan pada usus si bayi, jadi USG sangat penting untuk mengetahui ada masalah atau tidak” terangnya.

“Jika bayi lahir prematur, sistem organnya pasti belum berfungsi dengan sempurna, otomatis banyak ditemukan kelainan-kelainan bawaan, salah satunya yang paling sering adalah sumbatan di usus tadi, bisa juga kelainan bawaan lain misalnya kelainan tulang, kelainan jari jemari atau kelainan jantung bahkan kelainan ginjal. Bayi dengan lahir prematur harus dilakukan screening lengkap. Dan tentunya keberhasilan RSND kali ini dalam menangani kelainan atresia duodenum semoga menjadi pembuka untuk operasi-operasi berikutnya yang bisa dilangsungkan secara lancar di RSND dan kami harapkan outcome dari pasien RSND bisa jauh lebih baik” ungkap dr. Agung.

Sementara dalam penjelasannya, dr. Adhie Nur Radityo Suswihardhyono, MsiMed., SpAK., Dokter Spesialis Anak RSND menuturkan indikasi bayi-bayi yang di rawat di NICU atau ruang perawatan level tiga intensif untuk bayi-bayi adalah semua bayi-bayi yang membutuhkan dukungan pernafasan terapi oksigen yang invasif maupun non invasif, misalnya bayi yang membutuhkan terapi oksigen dengan ventilator mekanik akan dirawat di NICU, semua bayi-bayi yang lahir sangat prematur dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu atau dengan berat lahir di bawah 1 kg, bayi-bayi pasca operasi, bayi-bayi yang dilakukan operasi saluran cerna, operasi pemasangan shunting, atau bayi-bayi yang membutuhkan rekonstruksi lain sehingga pasca perawatan harus mendapatkan perawatan intensif di ruang NICU.

“Untuk durasi atau lama perawatan di NICU memang selalu menjadi pertanyaan orang tua bayi, tetapi kita tidak bisa mengatakan berapa kepastian lama rawat dalam hari, bisa dalam hitungan minggu, bisa juga perawatan menghabiskan waktu bulanan. Semua tergantung pada kondisi umum bayi, apakah dilihat dari sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem hematologi, saluran cerna, persyarafan dan juga metabolisme lain sudah dalam keadaan stabil  dan teratasi atau belum. Jika semua keadaan tersebut sudah bisa teratasi dan bayi tidak membutuhkan dukungan suportif terapi oksigen yang invasif kemudian nutrisi parenteral maka bayi sudah bisa dirawat di luar NICU” kata dr. Adhie.

Perawatan di NICU juga melibatkan  semua pihak, baik tim dokter, perawat, ahli gizi, farmasi, dan juga melibatkan peranan orang tua. Karena doa dan dukungan dari orang tua merupakan penyembuh bagi bayi. Dengan orang dapat melihat atau melakukan sentuhan serta berkomunikasi maka proses penyembuhan bayi menjadi lebih baik sekaligus menjadi dukungan mental  tersendiri bagi orang tua dalam mendukung kesembuhan bayinya. Peranan orang tua sangat penting sehingga orang tua dilibatkan dalam melakukan kunjungan, pemberian asi atau penyediaan kebutuhan lain yang dibutuhkan selama bayi di rawat di NICU.

“Berbicara mengenai kelainan bawaan pada bayi, bagi seorang ibu, terutama pasangan usia subur atau yang berniat untuk melakukan program hamil harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Persiapan dilakukan sejak sebelum memulai program kehamilan dan jika sudah terjadi kehamilan, seorang ibu harus melakukan pemeriksaan rutin di bidan atau di dokter kandungan agar kehamilannya terpantau, baik kesejahteraan janin maupun kelainan-kelainan yang bisa dideteksi sejak usia dalam kehamilan. Saat bayi akan dilahirkan kita sudah mempunyai rencana, apakah bayi ini bisa dilahirkan di fasilitas kesehatan primer atau mungkin dilahirkan di tempat yang mempunyai persiapan ruang perawatan bayi yang membutuhkan perawatan intensif nantinya pasca kelahirannya. Perawatan atau rawat intensif merupakan salah satu pelayanan yang bisa dilakukan di RSND, kami memiliki tim baik dokter maupun keperawatan, farmasi, ahli gizi serta mempunyai fasilitas penunjang dari ruangan, inkubator, ventilator dan peralatan lain serta dukungan laboratorium dan radiologi yang mendukung keberhasilan perawatan bayi-bayi yang membutuhkan perawatan intensif.” pungkasnya. (Lin-Humas)