SEMARANG –Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) mengundang pakar kebudayaan yang berkompeten untuk membahas implikasi budaya pascapandemi. Tema kajian yang dikemas dalam webinar bertajuk “Manajemen Budaya: Bahasa, Sastra dan Budaya Pascapandemi” itu dikupas bersama sastrawan yang juga menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dr. Seno Gumira Ajidarma, M.Hum; dosen FIB Undip, Dr. Ken Widyawati, M.Hum.; dan dosen Unika Soegijapranata, Dr. Krisprantono, M.A.

Sebagai narasumber pertama, Dr. Ken Widyawati, M.Hum menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah nilai sosial budaya yang berimplikasi pada perubahan di berbagai bidang. Di antaranya perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat hal kesehatan. Kini muncul kebiasaan dan budaya baru memakai masker, cuci tangan, jaga jarak, tidak berkerumun, membatasi jumlah orang di tempat ibadah, penggunaan hand sanitizer, WFH (work from home), dan dilakukannya pembelajaran online.

Menurut Ken, kondisi tersebut menjadikan hubungan solidaritas dan kekerabatan  manusia sebagai makhluk sosial terkikis dan bergeser pada nilai dan pola pikir kehidupan baru. “Muncullah kreativitas sosial budaya pascapandemi, seperti  bagaimana merespons konsep tatanan budaya baru menjadi sebuah kreativitas melalui media virtual untuk tetap menjaga kelestarian budaya. Pelaksanaan tradisi dan ritual pun memakai cara baru termasuk pentas seni. Hal lainnya, rempah-rempah kini kembali mendapat tempat di masyarakat,” jelasnya.

Narasumber lain, Dr. Seno Gumira Ajidarma, M.Hum., mencoba menjahit pemahaman kebudayaan kaitannya dengan perubahan pascapandemi. Kebudayaan sebagai praktik yang melaluinya kita berbagi dan mempertandingkan makna diri satu sama lain adalah jaringan makna-makna yang darinya kita berbagi sekaligus bertentangan.

Menurut dia, kebudayaan ditandai oleh perjuangan untuk melakukan artikulasi, disartikulasi dan reartikulasi makna, ideologi dan politik tertentu. “Pada kebudayaan pascamodern tidak lagi mengenal pembedaan antara kebudayaan tinggi dan populer,” katanya.

Dalam forum ini Seno menyebut tiga konsep identitas untuk memahami realitas. Yang pertama identitas dirumuskan sebagai bentuk produksi, bukan esensi yang tetap dan menetap sehingga identitas ini selalu berproses, selalu membentuk, di dalam dan bukan di luar representasi.

Kedua, politik identitas dimana identitas merupakan perangkat bagian dari politik budaya yang berkepentingan dengan kuasa untuk memberi nama dan membuat sejumlah deskripsi bermakna tetap. Representasi identitas menjadi politis karena merupakan pertanyaan atas kuasa sebagai bentuk regulasi sosial yang menjadi produksi diri yang memungkinkan suatu jenis identitas mengada ketika mengingkari yang lain.

Ketiga, identitas gagasan sebagai proyek yang mengacu kepada penciptaan naratif identitas-diri yang berlangsung terus menerus menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Meskipun pernah dibatasi oleh kelompok-kelompok yang relatif statik dan secara etnis homogen, ruang-ruang dan tempat-tempat dalam kehidupan sehari-hari sangatlah pluralistik.

Kehidupan yang plural menyebabkan terjadi perebutan atas pembebanan makna dan secara tetap yang kemudian ditegaskan kembali melalui proses relokasi dan hibridisasi kultural. Konsekuensinya populasi lokal di suatu tempat tertentu menjadi semakin multi-etnik, multikultural, wilayah fisiknya semakin tersaling-silang dan menerima semakin banyak kelompok temporer, seperti turis sehingga identitas tempat tersebut akan semakin terpecah-pecah.

Seno mengingatkan identitas plural dapat menjadi sumber kekayaan maupun sumber konflik yang disadari atau tidak merupakan praksis politik identitas manusia dalam membangun ruang hidupnya sendiri melalui cara berbahasa. Dalam cara berbahasa terdapat politik identitas; bukan karena ketika berbahasa seseorang juga menunjukkan siapa dirinya, melainkan karena dalam bahasa telah hidup dan bekerja segenap wacana yang terungkap bersamanya dan kemudian menjadi ruang  yang diperjuangkan agar-nyaman dan memenuhi kepentingannya.

Dosen Unika Soegijapranata, Dr. Krisprantono, M.A., mengungkapkan tentang bagaimana perlunya menghadirkan kembali memori perjalanan budaya masa lalu bangsa kita sebagai dasar untuk memahami perubahan. Disebutkan, situs pabrik gula dan kota-kota lama sebagai memori yang darinya kita bisa memahami bagaimana revolusi industri yang melanda Eropa pada abad 19 pengaruhnya sampai ke Indonesia yang pada masa itu masih dikenal sebagai Hindia Belanda.

Krisprantono menceritakan bagaimana Prometheus datang ke Jawa dalam bentuk teknologi mesin uap, baja, dan modal raksasa, sehingga dalam waktu kurang dari seratus tahun menjadikan Jawa sebagai pemasok gula terbesar di dunia setelah Kuba. Proses transformasi di Pulau Jawa menarik dicermati, karena di sini budak tidak pernah menjadi kekuatan tenaga kerja pembangun ekonomi. Karena itu ketika kekuatan modal dari Eropa ingin ikut mengikuti keberhasilan VOC di pesisir Jawa dengan membangun kekuatan kawasan industri berbasis tenaga kerja yang besar, mereka mengalami kegagalan saat memulainya.

Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB Undip, Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., mengatakan, webinar manajemen budaya yang diselenggarakannya adalah program rutin yang sudah dan akan senantiasa diagendakan untuk mendiskusikan isu-isu penting dengan menghadirkan ilmuwan-ilmuwan yang memiliki reputasi nasional maupun internasional.

Saat dihubungi tim humas, Kamis, (11/11/2021), Sukarjo berharap kegiatan yang diinisiasi Prodi Sastra Indonesia bisa membantu memahami isu-isu baru yang relevan. “Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk membangun cara pandang yang lebih luas dalam merespons dinamika isu-isu sosial budaya yang seringkali berjalan dinamis dan sangat cepat,’’ tukasnya. (tim humas)