SEMARANG- Dewan Profesor Senat Akademik Universitas (DP SA Undip) mendorong penggunaan obat herbal untuk meningkatkan imunitas menghadapi Covid-19. Melalui webinar dengan tema “Peran Obat Herbal di Indonesia dalam Meningkatkan Imunitas Menghadapi Covid-19,’’ yang digelar Sabtu (13/11/2021), coba dilakukan penguatan dengan pendekatan akademik.

Ketua Dewan Profesor Undip, Prof. Dr. Purwanto, DEA, mengatakan obat herbal sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak nenek moyang. “Contohnya, masyarakat yang berusia 50 – 60 tahun, waktu kecil banyak yang diberi obat herbal,’’ katanya saat memberi pengantar pada webinar yang diselenggarakan melalui Zoom dan Youtube ini.

Menurut dia, dalam perkembangannya obat herbal sangat menarik dikembangkan. Karena itu muncul beberapa penelitian yang hasilnya membuat obat herbal yang sifatnya tradisional dan dikenal sebagai jamu itu kemudian dibuat dengan kemasan modern dan higienis.

‘’Kini, orang dengan mudah menggunakan obat herbal. Dibanding dengan obat herbal yang zaman dulu, saat akan mengkonsumsi harus disiapkan dulu ramuannya. Perlu waktu yang lama. Sekarang dengan dibuat lebih modern dan ada kajian ilmiah, potensi pengembangannya sangat besar di Indonesia,’’ paparnya.

Dia berharap, pengembangan ke depan obat herbal bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mengobati Covid, atau setidaknya menjaga ancaman Covid-19 dengan memberikan imunitas yang maksimal.

Sementara itu Ketua Senat Akademik Undip, Prof. Ir. Edy Rianto, M.Sc., Ph.D, IPU, mengatakan  obat herbal merupakan obat tradisional merupakan warisan nenek moyang di bidang kesehatan. “Indonesia sendiri merupakan negara tropis yang mempunyai potensi tanaman yang secara turun termurun digunakan untuk obat tradisional. Bahkan sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia sejak berabad silam memanfaatkan herbal untuk pengobatan dan juga kecantikan,’’ kata Edy Rianto.

Apalagi menurutnya, Indonesia dikenal secara luas sebagai pusat keanekaragaman hayati terbesar kedua setelah Brasil. Kekayaan keanekaragaman ribuan jenis baik tanaman maupun biota laut harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia.

‘’Obat herbal dipercaya bisa melawan Covid-19. Jahe merah, kencur, temulawak, atau ramuan tradisonal sudah dipercaya ratusan tahun bisa menangani penyakit. Oleh karena itu, setiap ada penyakit yang mewabah, seperti Covid-19 ini pun obat tradisonal dipercaya sebagai salah satu untuk penanggulangan penyakit,’’ jelasnya.

Diakui, jika beberapa waktu yang lalu tanaman rimpang harganya melonjak dan diburu banyak orang. Tanaman herbal ini dijadikan obat. Untuk menguatkan manfaatnya, Edy mengajak semua pihak memakai kajian ilmiah sebagai dasar dalam upaya pengembangan kekayaan herbal Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, dr. Mochammad Abdul Hakam, Sp.PD, yang menjadi pemateri pada webinar ini menyampaikan tema “Pemanfaatan Obat Herbal di Isolater Kota Semarang”. Abdul Hakam mengungkapkan orang-orang yang OTG, yang bergejala ringan, rata-rata 14 hari sembuh.

‘’Untuk yang gejala sedang, dirawat di rumah sakit rujukan, pada saat kasus Covid-19 meninggi, ada 20 RS rujukan di Kota Semarang.  Sedangkan yang gejala kritis, harus di ICU di RS rujukan. Perawatan pasien Covid-19 sesuai dengan tata medis, seperti infus, antibiotic, obat-obat sesuai gejala pasien dan lainnya. Juga penanganan non medis, berjemur dan curhat bersama psikolog, serta kegiatan lainnya untuk menunjang kesembuhan pasien agar tak depresi berat,’’ jelasnya.

Pemanfaatan obat herbal, kata dia, digunakan bagi pasien Covid-19 yang dirawat di rumah dinas walikota Semarang. Namun pemberiannya mengacu komposisi sesuai dengan aturan. Obat herbal tersebut diataranya, kayu India, daun sambiloto, pepaya, dan daun kelor.

Dokter Neni Susilaningsih, M.Si., dari Fakultas Kedokteran Undip yang menyampaikan materi  “Pemanfaatan Jamu dan Herbal Indonesia di Masa Pandemi Covid-19” menjelaskan, pemanfaatan jamu dan herbal secara turun-temurun dipercaya digunakan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, berpotensi dikembangkan. Saat ini telah banyak dilakukan penelitian tentang herbal, meliputi standardisasi bahan, uji pra klinik dan uji klinik untuk bukti ilmiah penggunaan herbal sebagai obat herbal testandar dan fitofarmaka.

BPOM juga telah mengeluarkan buku di tahun 2020, tentang informasi seputar kasiat kegunaan dan keamanan obat tradisional dan suplemen kesehatan untuk membantu dan memelihara meningkatkan daya tahan tubuh. Jenis jamu yang banyak dikomsumsi adalah sambiloto, rebusan jahe, habbatussauda, empon-empon seperti jahe, kunyit, sereh, kayu manis, dan gula jawa, dan temulawak.

Sementara itu Direktur Utama PT Indofarma Tbk, Ir. Arief Pramuhanto, MBA, memberikan materi dengan tema “Peran Industri Herbal dalam Menghadapi Masalah Pandemi Covid-19”. Arief mengatakan jika dampak Covid-19 mendorong tren penggunaan obat herbal. ‘’Pembelian dan penggunaan obat herbal mengalami peningkatan, termasuk dalam bentuk suplemen herbal, banyak diburu masyarakat, untuk usaha prefentif, pencegahan penyakit,’’ jelasnya.

Sedangkan pembicara terakhir adalah Prof. Dr. Meiny Suzery, M.S., dari Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Matematika Undip. Prof. Meiny memaparkan materi dengan judul “Pengembangan Obat Herbal: dari Tradisional ke Modern”. ‘’Dengan kekayaan keanekaragaman hayati, diharapkan obat herbal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,’’ harap Meiny.

Untuk sementara, dari kajian medis ada tanaman herbal yang diakui bisa meningkatkan kekebalan tubuh dalam mengahadapi Covid-19. Diantaranya brotowali, kunyit, jahe, dan tanaman kemangi, curcuma, dan masih banyak lagi. ‘’Curcuma misalnya, bisa mencegah replikasi virus Covid-19, karena dihambat oleh senyawa yang ada di dalamnya.’’ (tim humas)