Banyaknya berita di media mengenai orang tua yang dititipkan anak-anaknya di panti jompo atau panti wreda menuai pro dan kontra atau masih menjadi stigma buruk di Indonesia. Sebagian berpendapat, apapun alasannya orang tua harus dirawat oleh anaknya sendiri. Karena secara budaya dan agama masih tampak aneh jika ada anak sesibuk apapun menitipkan orang tuanya ke panti jompo. Tetapi tidak semua beranggapan demikian, ada juga yang menilai bahwa tinggal di panti jompo bukan pilihan yang buruk. Saat ini banyak panti jompo yang menawarkan kehangatan dan kenyamanan bagi para lansia.

Prof. Dr. Dra. Ari Pradhanawati, M.S., Sosiolog dan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro menuturkan dari sisi sosiologi fenomena di Indonesia, secara budaya nampaknya kurang patut menitipkan orang tuanya di panti jompo, tetapi pandangan setiap orang berbeda dalam menyikapi persoalan tersebut.

“Budaya di Indonesia, anak merawat orang tuanya atau orang tua ikut anaknya, tetapi di jaman milenial ini sekarang sudah lain artinya perkembangan jaman mengikuti kegiatan kita sehari-hari. Merawat orang tua itu harus disetujui kedua belah pihak, suami istri atau ibunya suami atau ibunya istri harus setuju. Jika tidak setuju nanti terjadi persoalan, sementara budaya kita merawat orang tua itu adalah keharusan tetapi kasuistik dan ada positifnya ketika kita ingin merawat orang tua di panti jompo” ungkap Prof. Ari.

“Dalam pikiran kita jika mendengar kata panti jompo atau panti wreda seolah menganggap orang tua dibuang padahal sebenarnya tidak begitu juga, karena memang ketika mendengar kata jompo atau wreda terkadang membuat pikiran malah stres. Artinya bagaimana kita membuat istilah yang membuat nyaman, misalnya sebuah rumah masa tua dimana ada fasilitas yang komplit. Sehingga konotasi kita terhadap panti jompo atau panti wreda untuk lansia diubah menjadi suatu istilah-istilah yang mengena di hati dan anggapan ke panti jompo itu tidak berarti dibuang dan orang tua mesti diberi pemahaman” lanjutnya.

Sementara Dr. Unika Prihatsanti, M.A., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Undip menyampaikan zaman dulu orang tua mengasuh anak-anaknya, terkadang orang tua mempunyai harapan bahwa anak-anak ini adalah investasi di masa depan. Artinya jika mereka tua mereka akan diurus oleh anak-anaknya, namun demikian generasi saat ini berubah dengan pergeseran tersebut situasinya sangat berbeda dengan generasi lalu sehingga perlu dipahami bersama.

“Kami tidak lagi menggunakan istilah jompo atau lansia tetapi menggunakan istilah adiyuswa, adi itu artinya bagus, yuswa adalah usia jadi kalau  digabung diartikan menjadi usia bijaksana. Sehingga lebih berkonotasi positif dan secara psikologi siklus kehidupan manusia itu seperti kurva normal, dari yang tidak bisa atau bayi lalu memuncak kemudian turun. Adiyuswa ini mengalami yang disebut tahapan kehidupan yang memang mulai menurun, ada juga yang namanya kualitas hidup, ketika ia bisa mencapai setidaknya tiga hal, yaitu kesejahteraan fisik, psikologis, dan interpersonal. Artinya fisik, kognitif, sosial atau emosional terpenuhi. Keluarga memiliki peran yang sangat besar bagi adiyuswa, bahkan tidak hanya adiyuswa tetapi semua di circle kita” katanya.

Pada masa tua, ada fase dimana mereka melihat masa lalu sebagai keberhasilan-keberhasilannya tetapi tidak semua orang dalam tahap perkembangan secara fisik atau psikologis itu bisa diperbandingkan atau memukul rata semua kasus. Memang sebagian besar akan mengalami fase kesepian, tingkatan kesepian juga beda-beda, artinya banyak hal yang membuat adiyuswa ini mengalami kesepian, misalnya kelonggaran pengasuhan, berkurangnya teman, aktifitas terbatas dan ketiadaan pasangan. Kesepian yang berbeda-beda muncul karena kebutuhan emosional yang kurang terpenuhi.

“Kita tidak bisa menyalahkan jika seorang anak tidak bisa mendampingi orang tua di masa tua karena anak-anaknya bekerja, sementara itu ada orang yang berpandangan terbuka, misalnya orang tua merasa senang berada di panti adiyuswa karena temannya banyak. Sedangkan mengenai pemberdayaan adiyuswa di beberapa negara yang sudah diaktifkan, kebijakan itu bagus untuk melibatkan orang tua di dunia kerja dan saat ini menjadi hal umum. Sejauh tentunya kontrol secara kesehatan dan mereka sehat, ini adalah kebijakan yang bagus supaya dampak psikologis adiyuswa ini teratasi, dengan mereka bekerja akan mengatasi rasa kesepian tentunya pekerjaan itu disesuaikan dengan kondisi fisik” pungkas Dr. Unika. (Lin-Humas)

 

Foto&Sumber: Live IG @unik_oke