SEMARANG Hasil riset mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip), Kornelia Retno, tentang gender di Jawa mendapat apresiasi dari para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil riset yang dipresentasikan dengan judul “Ujaran Pantang dan Ketimpangan Gender dalam Masyarakat Jawa” itu mengungkap masih adanya ketimpangan gender antara perempuan dan laki-laki di Indonesia.

Dalam presentasi yang dilakukan via media zoom ini, Kornelia yang pernah magang selama dua bulan sebagai asisten peneliti pada Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN ini mengungkapkan, berbagai ujaran dan pantangan di Jawa masih mengandung bias gender. “Misalnya bentuk ujaran pantang yang berkembang di Indonesia, khususnya orang Jawa seperti wong wedok ojo cewawakan yang diartikan perempuan itu kalau tertawa jangan terbahak-bahak,” ujar Kornelia yang masuk FIB Undip Tahun 2018 ini.

Ungkapan lain yang mengandung bias gender di Jawa adalah wong wedok ki sing alus, sopan, sumeh, ojo jegadul. Hal ini diartikan jika perempuan itu harus lemah lembut, sopan, murah senyum, jangan cemberut. Padahal dalam tata karma pergaulan, sikap sopan dan ramah seharusnya berlaku untuk laki-laki maupun perempuan.

Kornelia menyebutkan, ketimpangan gender bahkan sudah diberlakukan sejak usia anak-anak pada perempuan. Anak perempuan dilarang main sepakbola yang terwujud dalam ungkapan “Wong wedok ojo seneng bal-balan, tapi dolanan boneka utawa pasaran wae” yang diartikan anak-anak perempuan itu jangan atau tabu main bola, lebih pantas bermain boneka dan pasaran saja.

Menjelang dewasa dalam masa menjelang usia pernikahan, perempuan di Jawa juga masih mengalami tekanan gender melalui berbagai ujaran yang berkembang. Ada pemahaman yang masih berkembang yang menginginkan terjaganya peran domestic perempuan melalui ujaran “Wong wedok kudu iso masak, gawean omah, kudu duwe anak ben disayang bojo”. Ini diartikan, perempuan harus bisa masak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan harus punya anak agar disayang oleh suami.

Ada lagi, wong wedok ojo kesuwen ngelajang, ndang rabi, mengko ndak dadi perawan tuwo. Ini diartikan kalau perempuan jangan terlalu lama melajang, cepatlah menikah, nanti jadi perawan tua.

Dalam sesi yang dipandu oleh Fanny Henry Tondo, hadir juga peneliti senior yang banyak berkecimpung dalam riset etnisitas, nation building, dan multikulturalisme, Thung Ju Lan, M.Sc., Ph.D. Thung menghargai berkembangnya penelitian interdisiplin. Menurut dia, penelitian dengan data-data bahasa lokal bisa juga dikaitkan dengan ideologi atau kepentingan bagaimana data-data bahasa Jawa yang diangkat bisa muncul dan cukup populer dan dikenal luas sebagai diksi yang lumrah dan lazim dalam masyarakat Jawa.

Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi Sastra Indonesia, FIB, Undip mengungkapkan rasa bangganya pada forum yang dihadiri sekitar 20 para peneliti senior BRIN dan beberapa dosen dari Prodi Sastra Indonesia. Sukarjo juga mengapresiasi riset yang dilakukan mahasiswanya sebagai bagian dari upaya membangun tradisi penelitian di kalangan akademisi.

Yang pasti, dia berharap lahir kajian-kajian baru dalam lingkup studi sastra yang bersifat interdisiplin khususnya yang berkait dengan pandemi Covid-19 yang dinilai sudah mengubah nilai sosial budaya yang berdampak pada perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. “Kondisi ini menjadikan hubungan solidaritas dan kekerabatan manusia sebagai makhluk sosial terkikis dan bergeser pada nilai dan pola pikir kehidupan baru”, kata Sukarjo Waluyo, Kamis (18/11/2021).

Dia berharap kerjasama Program Studi Sastra Indonesia FIB Undip dan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN bisa berlanjut, khususnya untuk pelaksanaan program magang mahasiswa serta penelitian bersama. (tim humas)