SEMARANG – Empat mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (Prodi TRKI) Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip) berhasil mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan bahan baku limbah (ampas) teh menjadi sabun antiseptik atau hand wash. Sabun dari limbah teh yang diberi nama Polytea ini dapat membunuh virus corona yang menjadi penyebab penyakit Covid-19.

Inovasi yang dilakukan Mahendra Farih Sholawa, Rega Ardiansyah, Fellanda Harfiana dan Palupi Diah Utami tersebut terjaring melalui Program 100 Wirausaha Muda Sekolah Vokasi Undip. Ketua Tim TRKI Vokasi, Mahendra Farih Sholawa, mengatakan Polytea memanfaatkan ampas teh yang selama ini dibuang begitu saja sebagai bahan baku. Ampas teh yang semula hanya dilihat sebagai limbah, ternyata memiliki kandungan senyawa bioaktif berupa flavonoid dan tanin sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan sebagai minyak atsiri yang memberikan wangi khas, serta saponin yang berfungsi untuk merusak protein dinding sel.

Untuk memperkuat zat-zat tersebut, para mahasiswa memakai ekstrak daun suji sebagai penguat anti bakteri, pencegah radikal bebas dan sebagai zat pewarna hijau alami yang mengandung banyak klorofil. Dipilihnya daun suji adalah karena potensi daun suji yang besar di lingkungan dan banyak orang belum mengetahuinya, padahal daun suji dapat digunakan sebagai bahan pembuat hand wash yang lebih ramah lingkungan.

“Dengan memanfaatkan bahan limbah teh, kami berempat berhasil membuat inovasi produk hand wash yang sepakat kami namai Polytea. Produk ini dari hasil uji diketahui dapat membunuh virus dan bakteri serta bisa mencegah penyebaran Covid-19,” kata Mahendra, mahasiswa Prodi TRKI 2019, kepada tim humas, Kamis (25/11/2021).

Adapun cara pengolahan handwash ini sangat mudah dan biaya yang digunakan sangat ekonomis. Bahan yang digunakan dalam pembuatan Polytea yaitu ekstrak ampas teh yang dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut terbaik, pewarna alami dari daun Suji, NaCl, texapon dan aquades. Proses pembuatannya sebelumnya dilakukan dengan skala laboratorium terlebih dahulu untuk menentukan kualitas dari produk ini dan pada akhirnya Polytea bisa diproduksi dalam skala home industry.

“Cara pembuatannya adalah dengan mencampurkan semua bahan hingga homogen dan tunggu selama 2×24 jam untuk mendapatkan larutan polytea hingga siap digunakan. Polytea ini sudah melewati tahap uji organoleptik seperti bau, rasa, tekstur, ketahanan, dan warna. Kemudian sudah uji pH, viskositas dan densitas sehingga siap dikemas dan dipasarkan,” ungkapnya.

Anggota tim lainnya, Rega Ardiansyah, menambahkan bahwa produk Polytea ini juga sudah dijual secara terbatas per botol ukuran 250 ml seharga Rp. 13.000 sebagai uji coba. Target pemasarannya yaitu para pelajar, masyarakat umum, rumah makan, tempat publik, kantor, apotek, Puskesmas, dan rumah sakit. Omsetnya sudah bisa mencapai 1.399.000/bulan.

“Proses pemasarannya, kami baru menggunakan metode word of mouth ke orang terdekat, promosi melalui sosial media WhatsApp, Line, Instagram dalam media jualnya. Dalam beberapa bulan kedepan kami sedang berproses untuk dapat masuk dan bersaing di dunia e-commerce atau startup seperti shopee, tokopedia, lazada, dan yang lainnya,” kata Rega yang juga mahasiswa Prodi TRKI Angkatan 2019.

Rega dan anggota tim lainnya merasa bersyukur, produk hand wash Polytea ini terbukti sebagai pencegah Covid-19 dan bakteri yang banyak di lingkungan seperti Staphylococcus aureus dengan daya hambat yang besar untuk memutus kontak virus dan bakteri di tubuh manusia. Keempat mahasiswa tersebut bertekad bisa mengembangkan lebih lanjut hasil temuannya dengan bimbingan para dosen dan pimpinan Sekolah Vokasi Undip.

“Dengan adanya inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk penanganan limbah ampas teh, memanfaatkan potensi lokal daun suji. Sehingga dapat menciptakan masyarakat yang sehat dan dapat tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia atau Sustainable Development Goals nomor 3 yaitu Good Health and Well Being,” pungkasnya. (tim humas)