Direktorat Inovasi dan Kerja Sama Industri Universitas Diponegoro, dengan beberapa Tim Peneliti yang fokus pada Kendaraan Listrik dan Hybrid melakukan kunjungan industri ke Viar Motor Indonesia Semarang, pada hari Jumat, 19 November 2021. Tujuan kunjungan industri yang dilakukan adalah menggali permasalahan yang ada di industri untuk mencari penyelesaiannya agar dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan kerja sama, tutur drh. Dian Wahyu Harjanti, Ph.D. selaku Direktur Inovasi dan Kerja Sama Industri Undip, selain juga sebagai salah satu awal  dari  kegiatan hilirisasi hasil riset. Lebih lanjut Dian mengutarakan tentang bagaimana mekanisme kerja samanya, seperti apa bentuknya, masalah apa yang akan kita angkat sebagai fokus penelitian yang akan dihilirisasi dan dikomersialisasikan dan seperti apa bentuknya, dipersilakan untuk dibahas oleh tim riset beserta tim Viar.

Berdasarkan hasil pemeringkatan The Times Higher Education (THE) Impact Rankings, Universitas Diponegoro telah berhasil meraih peringkat 200 universitas terbaik di dunia yang menerapkan Sustainable Development Goals (SDGs) di tahun 2021. Untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi itulah, Universitas Diponegoro merasa wajib mewujudkan  goals dari SDGs tersebut, yang dua diantaranya selaras dengan kegiatan Kunjungan Industri untuk Kerja Sama Riset Kendaraan Elektrik ini, yaitu Affordable and Clean Energy (Goal 7) dan Industry and Innovation and Infrastructure (Goal 9). Kegiatan ini juga menjadi salah satu cara untuk mengajak semua pihak mendukung jejaring kemitraan sehingga dapat turut mensukseskan program SDG’s Universitas Diponegoro dengan melakukan banyak hal dan kerja yang substantif. Pengembangan jejaring kemitraan dibutuhkan karena pemerintah tidak bisa secara sendiri melakukan pembangunan. Disamping itu, posisi kemitraan harus dikembangkan sehingga bukan hanya sekedar  Memorandum Of Understanding (MoU) saja, namun diwujudkan dalam tindakan nyata para pihak yang sesuai dengan porsinya masing-masing dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS)/ Memorandum of Agreement (MoA). Jika jejaring kemitraan terbetuk dengan bagus dan terjaga keberlangsungannya maka sudah tentu  akan mendukung program-program  yang terintergasi dalam misi SDGs Universitas Diponegoro. Demikian yang diutarakan dan dipesankan oleh Wakil Rektor Riset, Inovasi dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Ambariyanto, M.Sc. kepada Tim Inovasi Undip.

Pada acara kunjungan ke Viar Motor Indonesia yang beralamat di Kawasan Industri Bukit Semarang Baru (BSB) Blok A5 no. 9, Jatibarang, Mijen Semarang, Jawa Tengah 50219 ini, Direktorat Inovasi dan Kerja Sama Industri Undip mengajak serta Wakil Direktur Inovasi dan Kerja Sama Industri, Dr. I Made Bayu Dirgantara, S.E., M.M. dan Tim Peneliti Bis Listrik Undip (Devtrec) yang terdiri dari: Dr. Ing. Ir. Ismoyo Haryanto, M.T. (Leader), Dr.Eng. Gunawan Dwi Haryadi, S.T., M.T. (Monev Manager), Dr.Eng. Munadi, S.T., M.T, (member) serta Tim Inovasi – Biro Inovasi dan Kerja Sama yang terdiri dari: Mas Anantha Budi Prakosa, S.T., M.Si., (Manajer Inovasi), Novian Rustamaji, S.Kom. (Supervisor Pengelolaan Kekayaan Intelektual), dan Yuni Nurjanah, S.S., M.A. (Supervisor Hilirisasi Hasil Riset).

Menurut General Affair Viar Motor, Dimas Tommy Radityo, beberapa kerja sama yang pernah dilakukan dengan peneliti dari universitas negeri lain masih dirasa kurang optimal. Terutama dalam hal kekuatan baterai yang masih sangat rendah ketika dilakukan pengujian. Daya tahan baterai kendaraan listrik masih tampak menurun kinerjanya dan kurang bisa bertahan lama, sehingga perlu untuk men-charging ulang dalam jarak tempuh yang tidak terlalu jauh.

Senada dengan pernyataan tersebut,  R & D Manager Viar Motor Indonesia, Heru Sugiantoro, mengatakan bahwa, issue yang paling krusial dalam kendaraan listrik dan hybrid adalah masalah  recharge yang di Indonesia sendiri masih belum memiliki Stasiun Pengisian Mobil Listrik atau EVCS (Electric Vehicle Charging Station) yang banyak serta belum menyebar, sehingga dibutuhkan minimal 3 atau 4 baterai cadangan dalam satu kendaraan listrik, dan ini dirasa masih menjadi kendala utama, karena fast charging yang juga masih terbatas.

Lebih lanjut, Heru mengatakan bahwa, jangkauan jarak juga menjadi issue berikutnya. Umumnya mobil elektrik dapat berjalan rata-rata antara 200 hingga 400 kilometer dan untuk kendaraan listrik dan hybrid, bisa di bawah itu, dalam sekali pengisian bahan bakar. Angka tersebut tentu tak masalah jika hanya untuk kebutuhan komuter. Namun ketika akan digunakan untuk jarak jauh, maka perlu penyesuaian kebiasan dan persiapan yang agar tak mengganggu perjalanan.

Kesimpulan dari hasil kunjungan ini adalah, untuk awal kerja sama segera ditentukan pola dan mekanisme kerja sama penelitian yang akan dilakukan oleh Universitas Diponegoro dan Viar Motor Indonesia, dengan mengangkat beberapa issue utama, yaitu Kendaraan Listrik Roda Tiga untuk Pedagang (pengangkut orang sekaligus barang) yang juga ramah Kaum Divable serta keberlangsungan serta pencapaian goal-goal dari SDGs Universitas Diponegoro. (Admin-YN)