Sebagai upaya peningkatan pemahaman kekayaan intelektual khususnya paten dan hilirisasi/ komersialisasinya  bagi dosen/ peneliti di lingkungan Universitas Diponegoro, Direktorat Inovasi dan Kerja Sama Industri  menyelenggarakan kegiatan  webinar dengan tema Strategi Meningkatkan Nilai Komersial Paten, yang diikuti oleh peserta dari kalangan dosen/ peneliti maupun inventor dari semua fakultas di lingkungan Universitas Diponegoro, pada hari Senin, 6 Desember 2021 melalui media zoom dan disiarkan langsung melalui channel youtube Dirinovki Undip. Lebih dari 100 orang peserta hadir dan mengikuti acara dengan antusias dan seksama. Pelaksanaan kegiatan webinar komersialisasi Paten ini terkait dengan Goal ke- 9 pada SDGs yaitu mendukung industrialisasi dengan manajemen inovasi yang tangguh, serta membangun infrastruktur yang inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Rektor Riset, Inovasi dan Kerja Sama Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Ir. Ambariyanto, M.Sc. dalam sambutannya menyampaikan bahwa, sejak 2016 jumlah paten meningkat luar biasa tajam karena peran UNDIP untuk turut mendorong dan mendaftarkan paten, hak cipta dan HKI lainnya dari para inventor yang juga sangat antusias dan memiliki semangat yang luar biasa. Bahkan pada tahun 2018 – 2019 Undip mendapatkan penghargaan jumlah pendaftaran paten tertinggi dari seluruh PTN yang ada. Namun hal ini masih belum sejalan dengan jumlah Paten yang dapat dihilirissai dan dikomersialkan, sehingga terjadi sesuatu yang terputus, missing link  atau gap dimana seharusnya semakin banyak paten yang diberikan (granted) selayaknya semakin banyak pula produk teknologi yang dapat komersialkan.

Wakil Rektor Riset, Inovasi, dan Kerja Sama juga menyampaikan bahwa pada tahun ini UNDIP sudah mulai membayarkan maintenance fee / annuity paten karena sudah mulai masuk tahun ke 5. Sehingga upaya untuk mengkomersialisasi paten menjadi keharusan untuk dapat segera terlaksana.

Direktur Inovasi dan Kerjasama Industri UNDIP, drh. Dian Wahyu Harjanti, PhD menyampaikan bahwa Paten sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk melindungi kreativitas dan hasil penelitian saja, namun para invetor juga sebetulnya bisa mendapatkan manfaat ekonomi atas hasil ciptaan atau invensinya. Kedepan diharapkan semakin meningkatnya jumlah Paten, diikuti dengan semakin banyaknya produk inovasi yang dihilirkan dan dikomersialkan. Jika membahas mengenai inovasi, maka inovasi itu tidak sekedar semata-mata invensi saja. Sebuah invensi yang mengandung unsur kemanfaatan ekonomi itulah yang kemudian menjadi inovasi yang sesungguhnya.  Acara webinar ini merupakan wujud komitmen untuk mendorong hilirisasi dan komersialisasi dari produk teknologi  hasil penelitian sivitas akademika UNDIP, serta melayani kebutuhan industri sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Dede Mia Yusanti selaku Direktur Paten, DTLS dan RD – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual – Kementerian HAM RI dalam paparannya menyampaikan beberapa hal terkait komersialisasi paten, yaitu: mengapa paten perlu di komersialisasi?, meningkatkan nilai komersialisasi suatu produk; dan beberapa catatan penting terkait perlindungan paten.

Masih menurut Dede Mia Yusanti paten perlu dikomersialisasi karena:  pelindungan Kekayaan Intelektual (KI) penting dalam perdagangan, KI  sama dengan ekonomi, biaya riset tinggi, reward terhadap hasil karya intelektual, komersialisasi paten dimanfaatkan untuk pengembangan lebih lanjut dalam menghasilkan paten lain yang bernilai komersial, invensi tanpa komersialisasi ≠ Inovasi (tantangan terberat saat ini, atau bagian dari strategi ??). Terkait hal tersebut, kita bisa cek data di: FORBES. on line. 18 Juni 2014, bahwa: “In the United States: Of today’s 2.1 million active patents. 95 percent fail to be licensed or commercialized.  These unlicensed patents include over 50.000 high-quality patented inventions developed by universities.”