SEMARANG – Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro (UNDIP), Dr. Drs. Hadi Warsono, MTP., mendorong semua dosen memiliki kualifikasi S-3 (Strata 3) atau Doktor untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan tinggi yang diselenggarakannya. Dia berharap di masa kepemimpinannya minimal 60% dosen di Fisip Undip berkualifikasi pendidikan S-3 bisa dipenuhi.

Hal itu dinyatakan Dekan Fisip Undip, Dr. Drs. Hadi Warsono, MTP, seusai menghadiri kegiatan Orasi Ilmiah Doktor Baru bertema “Tata Kelola Sosial Politik Menuju Indonesia Baru” yang digelar secara hybrid, luring dan daring, Rabu (8/12/2021). Kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian Dies Natalis ke-53 Fisip Undip tersebut menandai hadirnya empat doktor baru di lingkungan Fisip Undip. Mereka adalah Dr. Drs Sri Suryoko M.SI; Dr. Dra R.R. Hermini Susianingsih M.SI; Dr. Dra Diyah Lituhayu M.SI; dan Dr. Supratiwi S.Sos, M.SI.

Saat memberikan sambutan, Hardi Warsono menyebutkan momentum ini bisa mendorong para dosen lain yang belum berkualifikasi S-3 untuk segera mempersiapkan studi, dan bagi yang sedang studi bisa segera menyelesaikan pendidikannya. Disebutkan, saat ini Fisip Undip memiliki 105 dosen, namun baru 48 dosen yang berkualifikasi doktor, atau baru 45,71 persen.

Menurut dia, proporsi tersebut belum ideal dan belum mencukupi. Sebab, idealnya menjadi fakultas mampu bersaing dengan yang lain harus memiliki minimal 60 persen doktor dari jumlah dosen yang ada, sehingga Fisip Undip membutuhkan tambahan 15 orang doktor baru lagi. “Setelah saya identifikasi bersama wadek, saat ini di Fisip sudah ada 10 orang atau dosen yang sedang bersekolah. Artinya tinggal 5 orang lagi agar kita bisa mencapai target. Jadi teman-teman dosen yang muda atau yang tua juga boleh, bahkan kami dukung dan kami motivasi bagi para dosen yang serius melanjutkan studi S-3 untuk meningkatkan kualitas pendidikannya,” ujarnya.

Ia menyampaikan, kalau dulu ketika ada doktor baru tidak ada sesuatu yang special, tetapi mulai saat ini ada indikator kinerja kegiatan atau IKK-nya. Kampus tidak bisa memberikan insentif honor dan sebagainya tetapi kampus bisa memasukan nilai di dalam hitungan Sasaran Kerja Pegawai atau SKP yang kemudian bisa masuk IKK. “Oleh karena itu sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf karena tidak bisa memberikan lebih baik kepada ibu-ibu kita yang hari ini menjadi presenter dalam orasi ilmiah,” dia menambahkan.

Pada kesempatan tersebut, Dekan Fisip juga mengucapkan terima kasih kepada empat doctor baru yang sudah menyelesaikan studinya dengan baik. Momentum orasi ilmiah yang dilakukan diharapkan menjadi semangat kepada teman-teman yang sedang merintis atau sudah berniat melanjutkan studi. Diceritakan pula, dirinya kuliah sekitar tahun 2000-an masih minim sekali yang bersekolah, sehingga nampaknya semangatnya tidak begitu kuat. Namun sekarang keadaannya, meminjam jargon transmigasi “Tan Keno Ora Penting Kudu Sukses”artinya wajib bagi dosen-dosen muda yang baru masuk bisa segera melanjutkan studi.

“Saya ingatkan sekolah itu tidak mudah. Tidak berada di comfort zone, kita berada di situasi yang sangat-sangat menekan. Banyak sekali kita sekolah ini memiliki persoalan -persoalan baik keluarga, pekerjaan dan lainnya namun semua itu memang tantangan yang harus diselesaiakan sebuah proses yang harus dilewati,” tegasnya.

Meski memiliki keterbatasan, Fisip Undip tetap berprestasi. Informasi terbaru, tahun 2021 ini Fisip Undip berhasil masuk ke ranking dunia 605+ by subjek. “Prestasi ini tentu sangat membanggakan bagi kita dan kita tidak paham indikator real rincinya apa. Sehingga saya minta Pak Wadek bisa berkonsultasi ke lembaga pemeringkat supaya kita bisa mempertahankan predikat itu, stukur bisa bisa lebih meningkat. Selama ini kita yang penting berusaha semaksimal mungkin. Untuk nanti penilaian ada di universitas bahkan peringkat dunia.”

Pada orasi ilmiah Dr. Dra Sri Suryoko M.SI mengangkat tema “Menelusur Non-Product Output Meraih Eko-Efisiensi (Kajian Pada Industri Mikro, Kecil, dan Menengah Usaha Tahu di Adiwerna Kabupaten Tegal”. Sedangkan Dr Dra R.R. Hermini Susianingsih M.SI mengangkat tema “Demokrasi Berujung Pemakzulan Komoreksitas Kepemimpinan Politik lokal di Temanggung 2003-2008”.

Sedangkan Dr. Dra Diyah Lituhayu M.SI mengangkat tema “Tantangan Birokrasi dalam membangun Perilaku Anti Korupsi”, sementara itu terakhir Dr. Supratiwi S.Sos, M.SI mengangkat tema “Otonomi Daerah Sebagai Kesaksamaan Intrumentasi Kebijakan: Belajar dari Kesulitan Mengelola Isu Lingkungan Hidup”. (tim humas)