Kedaireka merupakan solusi terkini dalam mewujudkan kemudahan sinergi kontribusi perguruan tinggi dengan komersialisasi industri untuk kemajuan bangsa Indonesia, yang sejalan dengan visi Kampus Merdeka Kemendikbud RI.

Matching Fund adalah bentuk nyata dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia untuk penciptaan kolaborasi dan sinergi strategis antara Insan Dikti (lembaga perguruan tinggi) dengan pihak Industri. Alokasi dana pada tahun 2021 sebesar total Rp250 miliar, Matching Fund menjadi salah satu nilai tambah terbentuknya kolaborasi antara dua pihak melalui platform Kedaireka. Dukungan Matching Fund ini diprioritaskan bagi kolaborasi yang berkontribusi terhadap pencapaian 8 (delapan) Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi. Untuk hal inilah, Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan Sosialisasi Kedaireka sebagai Jembatan Kolaborasi Kerja Sama antara Peneliti Undip dengan Industri, secara daring.

Sejalan dengan itu, Wakil Rektor Riset, Inovasi dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Ambariyanto, M.Sc., menyampaikan dalam pidato pembukaannya, bahwa “program Kedaireka merupakan program yang diluncurkan tahun lalu dan merupakan program yang sangat bagus untuk mempertemukan antara peneliti sebagai penemu inovasi dengan dunia industri yang membutuhkan hasil inovasi tersebut. Bagi Universitas Diponegoro sendiri, hal ini dapat dimanfaatkan untuk turut serta memberikan solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh Industri”.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa, “Meskipun di tahun 2021 Undip baru mendapatkan 8 pendanaan Matching Fund, dan ini lebih kecil angkanya dibanding universitas lain, namun ini dapat menjadi dorongan atau motivasi bagi seluruh peneliti Undip di tahun depannya. Hasil visitasi para asesor kedaireka, 3 program Matching Fund Undip, menampakkan kesan dan hasil yang baik dari apa yang sudah dikerjakan para peneliti Undip.

Beliau berharap agar dengan adanya acara sosialisasi ini dapat mendampingi para peneliti untuk mendaftar atau mengajukan proposal Matching Fund,  sehingga Universitas Diponegoro mampu melakukan hilirisasi hasil inovasi dari para peneliti yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan dunia industri. Prof. Ambariyanto menyampaikan pula ucapan terimakasih kepada para narasumber, panitia, dan peserta yang hadir dan turut mensuskeskan acara ini.

Acara ini juga digawangi oleh Direktur Inovasi dan Kerja Sama Industri Universitas Diponegoro, drh. Dian Wahyu Harjanti, PhD., yang bertindak selaku moderator dengan dibantu oleh Dr. I Made Bayu Dirgantara, S.E., M.M. dan didukung oleh Tim Inovasi (Mas Anantha Budhi Prakosa, ST, M.Si., Novian Rustamaji, S.Kom., Yuni Nurjanah, SS., M.A., dan segenap anggota Tim Inovasi lainnya), dan dihadiri sekitar 200 (dua ratus) peserta dari dosen/ peneliti Universitas Diponegoro.

Dalam acara sosialisasi kedaireka ini, drh. Dian Wahyu Harjanti, PhD. menyampaikan bahwa sebagai Technologi Transfer Office (TTO), Direktorat Inovasi dan Kerja Sama Industri Universitas Diponegoro mengemban tugas untuk memberikan pelayanan dalam meningkatkan kinerja inovasi dan kinerja hilirisasi. Paten, Hak Cipta, dan Hak Kekayaan Intelektual lainnya sudah seharusnya segera dihilirkan, dikomersialkan, dan dikerjasamakan. Untuk itu, melalui program Kedaireka inilah sebagai ajang biro jodoh, jembatan bagi para peneliti untuk menghilirkan dan mengkomersialkan hasil penelitiannya ke dunia industri (DUDI).

Kegiatan ini juga bertujuan salah satunya untuk mempercepat hilirisasi hasil riset ke industri. Terbukti 8 inovator Undip mampu mendapat dana MF dari dikti berupa dana insentif yang digunakan untuk kolaborasi dengan dunia industri, salah satunya Dr. Diana Nur Afifah, S.TP., M.Si.

Sebagai narasumber pertama pada acara sosialisasi ini berasal dari Dirjen Dikti, Drs. Endang Taryono (Analis Kebijakan Ahli Madya). Beliau  menyampaikan pengantar tentang 8 kebijakan kampus merdeka, transformasi 8 Indikator Kinerja Utama (IKU), Kedaireka 2022 mendorong perguruan tinggi sebagai think-thank pencipta iptek dan inovasi melalui penelitian yang dapat dihilirisasikan oleh dunia usaha dan dunia industri (DUDI), yang berdampak pada pembangunan nasional. Disamping itu, beliau juga menyampaikan secara rinci mengenai deskripsi program kedaireka, cara kerja, pola kemitraan, sasaran, ruang lingkup, tahapan seleksi, kriteria penilaian, kelengkapan proposal Maching Fund, persyaratan dan alur pengusulannya.

Sementara menurut Arif Darmawan, S.T., M.M. (PT Inasentra Unistatya), proses penentuan strategi pada dunia industri melewati beberapa alur, mulai dari Analisa SWOT; Pemilihan Strategi; Implikasi Strategi; hingga sampai pada tahapan Financial, Customer, Internal Proses dan Lean. Tidak semua implikasi strategi dapat dihadapi oleh Industri, karena adanya keterbatasan sumber daya. Dan umumnya Implikasi tersebut berhubungan dengan Cost Reduction, Teknologi, Efisiensi, Inovasi dan Pengembangan Produk.

Arif Darmawan juga menyampaikan bahwa masih terdapat beberapa masalah yang dihadapi DUDI, yaitu: disrupsi teknologi  pada era Industri 4.0, dimana semua serba otomasi dan online. Disamping juga terjadi perubahan pola konsumen, karena efek pandemi Covid-19. Serta peningkatan biaya juga regulasi yang terbatas oleh birokrasi. “Program KEDAIREKA dapat menjadi jawaban dari permasalahan tersebut”,tuturnya.

Pada acara ini hadir pula narasumber dari Undip (Peneliti dari Fakultas Kedokteran) Dr. Diana Nur Afifah, S.TP., M.Si, yang menyampaikan materi berjudul “Jalan Menuju Hilirisasi Melalui Kedaireka Matching Fund”. Beliau lebih menyampaikan hal-hal seputar teknis penyusunan proposal Matching Fund yang lengkap, terstruktur dan menarik serta harus sesuai dengan kaedah penyusunan yang ditentukan oleh DIKTI. Termasuk diantaranya memuat tentang roadmap dan desain program, metode pelaksanaan program, penerima manfaat program, luaran dan kontribusi terhadap 8 IKU, Rencana Anggaran Biaya, Jadwal dan kelengkapan lampiran. (Admin-YN)