SEMARANG – Hasil penelitian yang dilakukan seorang mahasiswi Fakultas Perikanan dan  Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) menyebutkan jumlah spesies ikan endemik (Ikan yang khusus ada di suatu daerah dan sulit ditemukan di daerah lain) di Rawa Pening Kabupaten Semarang terus menurun. Pada penelitian tahun 2006 tercatat ada beberapa spesies ikan endemik di danau alami tersebut, namun pada penelitian yang dilakukan pada Maret – Oktober 2021 tinggal tiga spesies ikan endemik yang ditemukan.

Melalui Penelitian Morfologi, Morfometri dan Keanekaragaman Genetik DNA Barcoding yang dilakukan mahasiswi Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Undip, Nisrina Septi Haryani, yang dibimbing Prof. Dr. Ir. Agus Hartoko, MSc dan Dr. Diah Ayuningrum, berhasil dideteksi 3 spesies ikan endemik di danau yang terbentuk secara alami melalui proses letusan vulkanik yang mengalirkan lava basalt dan menyumbat aliran kali Pening.

Tiga spesies ikan endemik yang berhasil dideteksi dari analisa 33 individu yang diperoleh adalah ikan Nilem atau ikan Lumajang (Cycloceilichthys enoplos), ikan wader Ijo (Osteochilus vittatus) dan ikan wader Bintik Dua (Barbodes binotatus). Mengacu catatan penelitian tahun 2006, ada 5 spesies lain yang pernah ada, yaitu ikan wader Pari (R. lateristriata), wader Putih (R. jacobsoni), wader Andong (B. canchonius), dan wader Cakul (P. binotatus).

Menyusutnya jumlah ikan endemik di danau yang semula adalah lembah hutan tropik tersebut, mengindikasikan ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Merosotnya jumlah spesies ikan endemik yang hidup di perairan air tawar adalah masalah yang serius. Di Indonesia saat ini terdapat 275 spesies ikan endemik yang keberadaannya sedang terancam karena kerusakan lingkungan dan erosi lahan serta kerusakan habitat.

Indonesia merupakan negara terkaya ketiga di dunia dilihat dari aspek keanekaragaman spesies ikan air tawar. Para ahli menyebutkan, ada 1.193 spesies yang ada di kawasan air tawar di Indonesia yang tersebar di tiga daerah sebaran geografis, yaitu Paparan Sunda, Daerah Wallace, dan Paparan Sahul. Sebagian besar terancam kepunahan karena kerusakan yang terjadi di kawasan perairan darat.

Dekan FPIK Undip, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., mengatakan terus mendorong para mahasiswa dan dosen untuk menghimpun informasi dan melengkapi pendataan jenis spesies ikan endemik berdasarkan analisa morfologi, teknik morfometri atau meristik dan analisa molekuler dengan metoda DNA Barcoding dan hubungan filogenetik serta tingkat keragaman genetiknya. “Kami sangat mengapresiasi, paling tidak untuk melakukan antisipasi jangan sampai ikan endemik di Rawa Pening itu punah,” kata Prof Tri Winarni, Selasa (14/12/2021).

Secara tegas dia berharap ada upaya-upaya untuk pelestariannya melalui upaya konservasi atau cara lainnya untuk mempertahankan dan mengembalikan fish diversity di danau alami terbesar yang ada di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Yang pasti, FPIK Undip siap bekerjasama untuk melakukannya, karena lingkup studi perikanan yang ada di Undip bukan hanya laut, tapi air tawar dan payau.

Menurut dia, ikan endemik merupakan kekayaan yang patut dijaga kelsetariannya mengingat keberadaannya bukan saja merupakan kekayaan hayati, namun juga memiliki manfaat ekonomi yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Potensi ikan endemik selain untuk konsumsi, juga ada yang potensial sebagai ikan hias.

Kelebihan ikan endemik dalam konteks konsumsi yakni punya citarasa khas dan ini penting sekaligus bisa menjadi daya tarik pemasaran sumberdaya perairan setempat. “Dalam kaitannya dengan ekowisata juga penting karena orang pasti ingin mencoba mencicipi jenis ikan tersebut di tempat ikan itu berada,” tukasnya. (tim humas)