Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, menyelenggarakan kuliah umum “Peran agama dan Budaya Dalam Mengakhiri Pandemi Covid-19: Perbandingan Arab Saudi dan Indonesia” (13/12).

Ketua Prodi Antropologi Sosial Undip, Dr. Amirudin menyampaikan kegiatan ini merupakan refleksi kebudayaan dalam kemasan kuliah umum bagaimana peran agama dan budaya mengakhiri Covid 19- lesson learned dari Saudi dan Nusantara. Agama dan budaya memiliki peran sebanding dengan teknologi epidemologi dan science lainnya yang dikerahkan untuk mengakhiri Covid-19, karena hakekat agama dan budaya adalah “sacred canopy” yang membimbing, menguatkan, bahkan menggerakan masyarakat memiliki ketahanan dan bergerak terus keluar dari penderitaan. Bisa dibayangkan jika agama dan kebudayaan itu tidak mensupport; dalam situasi genting, manusia butuh jalan keluar, escape clausul. Dan syaratnya, agama dan budaya meski fleksible dalam rasionalitas teologis.

“Itulah sebabnya pilihan terhadap suatu vaksin yang konon karena keterbatasan jumlah produksi sementara populasi yang harus dikenai vaksin banyaknya bukan main. Maka terhadap vaksin yang terbuat atau mengandung elemen yang terlarang pun dalam konteks doktrin agama, pada saat itu merelakan menurunkan kadar keterlarangannya (dari haram menjadi makruf) karena kepentingan penyelamatan umat manusia. Agama dan budaya sebangun dengan prinsip lex populi suprema lex esto artinya keselamatan rakyat atau umat menjadi hukum tertinggi dibanding dengan hukum yang lain, demi kesehatan atau keselamatan rakyat” tuturnya.

Narasumber kegiatan ini menghadirkan Prof. Sumanto Al Qurtuby (Guru Besar Antropologi King Fahd Petroleum and Minerals University), Dr. Tony Rudyansjah (Dosen Antropologi Agama, Prodi Antropologi FISIP UI) dan dimoderatori oleh Arido laksono, M.Hum (Dosen FIB Undip).

Dalam materinya Prof. Sumanto mengatakan Covid memberi eksplisit isi bagaimana agama memiliki ragam tafsir luar biasa yang terwujud dalam ragam respon yang menyebabkan ada kesan agama berposisi ambigu, tetapi kemudian menyatu dalam suatu titik, menghindari keburukan jauh lebih penting dari sekedar mengejar kemaslahatan.

Sementara itu, Dr. Tony mengungkapkan bahwa Covid bukan fenomena tanpa arti. Covid hadir sebagai efek sabet dari kapitalisme yang sudah makin pongah untuk kembali pada suatu relasi manusia, alam, dan Tuhan pada suatu keseimbangan bahwa semua spesies memiliki hak (all species right) yang sama, begitupun Tuhan (God right), dan bukan saja manusia (human right). menurutnya Covid adalah pemantik mewujudkan keseimbangan alam, ruang dan waktu yang selama ini telah tereksploitasi total. Covid merupakan bentuk perlawanan terhadap tindakan eksploitatif yang menyebabkan kapitalisme mengalami “ruination”.

Covid menjadi momentum  rekonsolidasi agama dan budaya dan menjadi titik tolak bagaimana hukum-hukum (baik hukum agama, maupun hukum positif) termasuk kebudayaan itu adaptif pada situasi yang tertuju kepada mengatasi bahaya jauh lebih penting daripada mencari kemashalahatan. Itulah yang membuat ikatan antara agama dan budaya flesibel dalam menghadapi situasi saat ini dan disitulah kontribusi yang besar dari agama dan budaya dalam membantu mengakhiri covid. Antara epidemologi dan teknologi kedokteran memang harus bergandengan tangan dengan agama dan budaya. (Lin-Humas)