JAKARTA — Bertempat di Padang Golf Pondok Indah pada hari Sabtu (18/12), Diponegoro Golf Community (DGC) menggelar turnamen golf bertajuk ”Golf with Charity”. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda tutup tahun, tetapi juga bertujuan melakukan  penggalangan dana dalam rangka melakukan pembinaan golf di kampus Universitas Diponegoro melalui Yayasan Bina Golf Diponegoro.

Saat ini Undip merupakan satu-satunya perguruan tinggi negeri yang telah memiliki unit kegiatan mahasiswa (UKM) golf, dimulai sejak tahun 2020 dan diresmikan pada 11 April 2021 lalu. Hingga pertengahan Desember 2021 tercatat sebanyak 68 mahasiswa telah ikut aktif menjadi anggota UKM tersebut.

Dorongan untuk lebih serius dalam pelatihan dan pembinaan turut diperkuat oleh fakta keberhasilan empat mahasiswanya sukses meraih trofi pada gelaran Intercollegiate Golf  Series (IGS) I yang diadakan pada 21 November 2021 lalu. Pada seri yang diinisiasi oleh Ciputra Golfpreneur Foundation (CGF) dan Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (Himpuni) itu, Nadya Maharani (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 2021) sukses menyabet Best Nett Overall, Rykho B. Harahap (Fakultas Hukum 2020) meraih Best Nett I Flight A, Akbar Hidayat (Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2018) menjuarai Best Gross Flight B, dan Darendra Hartono (Fakultas Teknik 2020) memenangkan Best Nett 1 Flight B.

Kesadaran bahwa golf membutuhkan konsistensi latihan dan pembinaan, yang tentunya membutuhkan anggaran dan pengelolaan yang baik, mendorong terbentuknya Yayasan Bina Golf Diponegoro. Niat mulia inilah yang kemudian mendorong sebanyak 146 peserta untuk ikut berpartisipasi dalam ajang ”Golf with Charity” di Padang Golf Pondok Indah tersebut. Dari kegiatan akhir pekan tersebut, dana sebesar Rp100 juta pun berhasil terkumpul dan menjadi modal awal yang sangat berharga untuk lebih mengembangkan kegiatan UKM Golf Undip tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua Ikatan Alumni Universitas Diponegoro Drs. H. Akhmad Muqowam menyampaikan bahwa pembentukan Yayasan Bina Golf Diponegoro ikut terinspirasi oleh ajang IGS yang diselenggarakan oleh CGF bersama Himpuni, yang melibatkan alumni dan mahasiswa (student athlete).

”Saya kira kompetisi di dalam student athlete juga menjadi bagian penting dari IKA Undip dan DGC, oleh karena itulah kami membentuk yayasan yang merupakan bentuk kerja sama IKA Undip, DGC, dan Undip. Bantuan sebesar Rp100 juta ini diharapkan bisa membantu dalam rangka meningkatkan kualitas dan memotivasi student athlete dari Undip agar terus berprestasi,” ujar beliau.

Adapun Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D., yang bertindak sebagai pembina, menjelaskan bahwa UKM golf ini sengaja dibentuk dengan dua tujuan.

”Pertama, kami ingin bisa menciptakan atau membentuk mahasiswa yang memiliki kompetensi dan karakter yang terintegrasi dengan nilai-nilai di golf ini, mengingat golf sebagai hobi bisa memberi nilai tambah tersendiri dalam kriteria penilaian tingkat internasional. Dengan demikian, dalam konteks employability prospek para lulusan Undip nantinya bisa lebih meningkat,” papar Prof. Budi.

”Yang kedua, kami juga ingin Undip menjadi salah satu universitas yang menjadi pelopor dalam mempromosikan olahraga golf. Sebagai olahraga, belakangan ini golf memiliki tren yang positif sehingga saat merekrut mahasiswa baru banyak di antara mereka yang sudah meminati golf sejak awal. Kami berpikir, mereka perlu kami fasilitasi dan arahkan agar bisa berprestasi. Dengan dukungan dari alumni, melalui Yayasan Bina Golf Diponegoro, tentunya kegiatan ini akan bisa lebih banyak diikuti oleh mahasiswa di kalangan Undip.”

Melengkapi penjelasan Prof. Budi tersebut, Ketua DGC Lukman Hidayat menambahkan bahwa pihaknya selaku perpanjangan tangan IKA Undip untuk kegiatan golf, DGC turut berkomitmen untuk ikut berbagian dalam mendorong prestasi para mahasiswa yang tergabung dalam UKM golf ini. ”Kehadiran pembina dan elemen pendukung lainnya tentu agar bisa memfasilitasi kegiatan akademik para mahasiswa ini sambil terus bisa berlatih dan berprestasi di lapangan, bukan dengan mengorbankan pendidikannya. Dengan demikian, kampus Undip bisa menjadi contoh.”