Semarang (22/12) – Bertepatan dengan Hari Ibu Nasional ke-93 pada 22 Desember 2021, DWP (Dharma Wanita Persatuan) Universitas Diponegoro kembali menyuarakan peran dan pergerakan perempuan Indonesia dalam Webinar Internasional bertajuk “The Role of Gender in Securing Families and Communities during Pandemic Era”. Webinar ini dibagi menjadi dua sesi, dengan menghadirkan lima pembicara pada sesi pagi, dan forum diskusi dengan perwakilan Fakultas dan Sekolah di Undip pada sesi siang.

Ketua panitia Webinar Internasional DWP Undip dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional 2021, Prof. Dr. Dra. Ari Pradhanawati, M.S. secara resmi membuka acara ini. Beliau menyatakan bahwa tema dari acara ini didasarkan dari cinta ibu yang sangat berperan dalam kehidupan manusia sejak kecil hingga dewasa. “We are born of love, love is our mother,” ucap Prof. Ari.

Prof. Dr. Widowati, S.Si., M.Si. selaku perwakilan dari Ketua DWP Undip, Asih Budiastuti, S.H., CN, menyampaikan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah perempuan, di mana mereka mempunyai beberapa peran sekaligus seperti di kantor sebagai pegawai dan di rumah sebagai istri dan ibu. Tujuan dari webinar ini antara lain untuk menguatkan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat, meninjau peran perempuan di masa pandemi dan new normal, dan juga sebagai forum berbagi ide dan strategi untuk bertahan hidup.

Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. mengucapkan rasa syukurnya karena di masa pandemi ini Undip masih dapat menyelenggarakan acara untuk memperingati Hari Ibu Nasional, dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada para narasumber yang hadir serta para peserta yang mengikuti acara ini. “Peran perempuan yang multitasking sangat penting di segala aspeknya. Di era disrupsi seperti ini, peran ibu sebagai pengelola utama keluarga sangatlah penting. Terima kasih DWP Undip telah mengangkat tema ini dan semoga para peserta memperoleh insight yang bermanfaat,” tutur Prof. Yos dalam pidato singkatnya.

Sesi pagi webinar ini menghadirkan lima pembicara, dengan tiga keynote speakers yaitu I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia); Lestari Moerdijat (Wakil Ketua MPR RI); Prof. Prateep Nayak (Project Director V2V Global Partnership of University of Waterloo, Canada); dan dua pembicara dari Undip yaitu Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, MAppSc dan Rika Budi Antawati, S.H., M.Kn., M.M. yang merupakan anggota dari DWP Undip. Presentasi dipandu oleh Prof. Dra. Indah Susilowati, M.Sc., Ph.D selaku moderator.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengungkapkan bahwa Kemen PPPA terus mendukung upaya nyata pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender menuju Indonesia Maju. Perempuan bukanlah pelengkap laki-laki sehingga perempuan tidak perlu mengalahkan perannya di ranah publik karena telah menjadi ibu, di mana kewajiban mengurus keluarga adalah tanggung jawab bersama. Masyarakat juga harus mendukung perempuan untuk berkarya dan berdaya untuk turut serta merealisasikan kesejahteraan bangsa. “Women is the productivity carrier as the manager of the family. Kami mendukung perempuan untuk menjadi lebih tangguh, baik dalam karirnya maupun perannya di keluarga terutama mengenai family empowerment and child protection,” kata I Gusti Ayu.

Presentasi dilanjutkan oleh Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, yang menjelaskan bahwa gender sering diasosiasikan sejajar dan serupa dengan jenis kelamin, padahal pada dasarnya kedua gender tersebut setara karena laki-laki dan perempuan merupakan makhluk dialektis yang tidak perlu mengutamakan perbedaan jenis kelamin. Pandemi dan disrupsi menyajikan ragam ketidakpastian dan berdampak parah pada bidang ekonomi dan sosial khususnya terhadap perempuan. Lestari menegaskan bahwa peran perempuan tidak hanya terbatas pada ruang privat (tugas domestik) dan keamanannya harus dijamin karena ironisnya kekerasan terhadap perempuan justru banyak terjadi di ruang privat.

Keynote speaker dari University of Waterloo, Canada, Prof. Prateep Nayak menyatakan bahwa tujuan SDGs tidak akan tercapai dengan mudah apabila pembagian gender role belum dilaksanakan dengan baik. Dalam konsep V2V (Vulnerability to Viability), pandemi menjadi trigger of vulnerability in society, di mana individu atau suatu kelompok akan terdampak, salah satunya juga berdampak terhadap perbedaan gender. Pemahaman komperehensif, pengembangan database, dan kerjasama dengan masyarakat, pemerintah, dan lembaga non-pemerintah perlu dilakukan untuk mencegah ketimpangan gender role.

Mengangkat tema “Quality of Indonesian Women’s Education”, Prof. Dr. Tri Retnaningsih Soeprobowati, MappSc menjelaskan pentingnya pendidikan formal dan informal bagi perempuan untuk membangun self-respect dan self-dignity. Menurutnya, Indonesia belum mencapai gender equality dalam bidang pendidikan, salah satunya dikarenakan oleh pernikahan dini. Pendidikan sangatlah penting karena perempuan yang memperoleh pendidikan wajib yang cukup cenderung untuk tidak menikah dini, mempunyai kehidupan produktif, mempunyai pendapatan pribadi untuk memperkuat ekonomi, mampu mengambil keputusan bijak untuk dirinya sendiri, serta menyiapkan masa depan keluarga dan anak-anaknya dengan dibekali ilmu yang cukup.

Lebih lanjut, Rika Budi Antawati, S.H., MKn., M.M. mengulas peran wanita di masa pandemi yang bertambah karena membantu ekonomi keluarga dan berperan sebagai pengajar ketika anak menjalankan study from home. Bertambahnya peran juga dapat memberi tekanan kepada perempuan sehingga perlu adanya dukungan baik secara individual ataupun dalam wadah organisasi.

Hal itu sejalan dengan tujuan DWP Undip yang senantiasa memberi dukungan bagi anggotanya yang terdampak pandemi, meningkatkan pemberdayaan diri anggotanya, serta mewujudkan kesejahteraan anggota, keluarga, dan masyarakat sekitar. Selain webinar ini, DWP Undip telah melakukan berbagai kegiatan di bidang ekonomi, sosial, dan budaya dengan menggandeng masyarakat terutama para perempuan agar berdaya dan lebih produktif.

Dengan berbagai ulasan mengenai peran perempuan terutama di masa pandemi ini, DWP Undip berharap agar kegiatan ini dapat membantu Indonesia dalam mewujudkan tujuan ke-5 SDGs (Sustainable Development Goals) yaitu Enforce Gender Equality. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mempunyai para perempuan dan ibu yang tangguh. (Titis – Public Relations)