Dalam rangka peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2021, Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Univeristas Diponegoro bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Undip dan IDI Kota Semarang memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pencegahan infeksi dan penularan HIV-AIDS melalui kegiatan webinar  dengan tema Mitos dan Fakta Seputar ODHA (Orang dengan HIV-AIDS) (18/12).

dr. Tuntas Dhanardhono, M.Si.Med., SpKF, M.H., dalam materinya mengenai Antideskriminasi ODHA: Tinjauan Biometik dan Tanggungjawab Masyarakat, menyampaikan HIV merupakan virus yang menyebabkan AIDS sedangkan AIDS adalah kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV. Permasalahan yang dialami ODHA antara lain permasalahan psikologis, depresi, ansietas, gangguan kognitif, gangguan psikologis, hingga gangguan kepribadian, merasa dirinya tak berguna, takut, sedih, tidak ada harapan, dan merasa putus ada. Permasalahan sosial, diskriminasi, stigmatisasi, perceraian, pemberhentian dari pekerjaan, beban finansial yang harus ditanggung oleh ODHA, serta dijauhi oleh kerabat dekat. Selain itu permasalahan biologis, infeksi oprtunistik gejala simptomatik yang berhubungan dengan AIDS, efek samping dari obat ARV, serta sindrom pemulihan kekebalan tubuh.

“Diskriminasi terjadi karena prasangka, ketidakpahaman, ketidakpedulian, ketakutan, cap buruk. Secara umum tanggung jawab masyarakat adalah setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berpartisipasi dalam perlindungan, penegakkan, dan pemajuan hak asasi manusia, menyampaikan laporan atas terjadinya pelanggaran hak asasi manusia, mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakkan yang berkaitan dengan hak asasi manusia, dan melakukan penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia. Dukungan moril, untuk tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk menjalani hidup dan beraktivitas seperti biasa dan dukungan sosial untuk mengembalikan rasa kepercayaan diri” lanjutnya.

Sementara dr. Rebriarina Hapsari, M.Sc., Sp.MK(K) menuturkan virus HIV ditularkan melalui cairan tubuh, darah, air mani (termasuk cairan praejakulasi), cairan vagina, cairan dubur, dan ASI.

“Cairan tubuh yang mengandung virus HIV masuk tubuh dengan cara aktivitas seksual yang tidak aman, dari ibu ke janin atau bayi selama masa kehamilan, melahirkan atau menyusui, pemakaian jarum suntik tidak steril, dan donor darah atau organ yang terinfeksi HIV” ungkapnya.

Sementara Ika Hayu Haryatmi, S.KM., M.Kes mengatakan yang dirasakan saat terdiagnosa HIV, penderita akan mengalami perasaan sedih, suatu perasaan yang menyeret setiap orang untuk menjalaninya dalam kesunyian dan kesendiriaan, perubahan dalam diri seseorang yang sedih akan menggerogoti dirinya dan mempengaruhi orang-orang disekitarnya, duka cita akan menyebabkan rasa emosional, tidak percaya, cemas, putus asa, serta merasa menderita yang terkadang diikuti dengan tangisan, bahkan tidak jarang muncul keinginan untuk bunuh diri.

Sedangkan dr. Julian Dewantiningrum, M.Si.Med, SpOG(K) membahas tentang keterbukaan status HIV pada pasangan dan petugas kesehatan sangat mendukung dalam perencanaan kehamilan,  perlu dukungan konselor atau pendukung sebaya untuk melakukan pendampingan dalam menginformasikan status HIV kepada pasangan. Selain itu melibatkan dan mengajak pasangan dalam perencanaan kehamilan, perencanaan kehamilan merupakan keputusan dan komitmen dengan pasangan. Konsekuensi jika tidak saling jujur dan terbuka adalah terdapat potensi penularan HIV kepada pasangan serta tidak mendapat dukungan dari pasangan dalam menjalani kehamilan dan setelah melahirkan, baik ibu maupun bayi. (Lin-Humas)