Di tengah masa pandemi, masyarakat juga harus mewaspadai potensi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) saat memasuki musim penghujan. Infeksi virus tersebut dapat menyerang segala usia mulai dari bayi sampai usia lanjut.

“Demam berdarah dengue atau DBD diperantarai atau fektornya adalah nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD terjadi pada musim peralihan, hujan yang diselingi dengan panas dan akan kita temukan misalnya di luar rumah seperti di pelepah-pelepah pohon atau daun terdapat air hujan yang tersisa, itu bisa menjadi tempat perindukan nyamuk, sehingga nyamuk akan lebih banyak di masa-masa itu dan angka kejadian dengue akan meningkat” tutur dr. Nahwa Arkhaesi, Sp.A., M.Si.Med., dokter spesialis anak Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro

“Gejala pertama yang muncul adalah demam, yang kita lakukan adalah menurunkan demamnya dengan obat penurun panas, kemudian sering minum akan tetapi jangan heran jika sudah turun naik lagi, hal tersebut adalah fase demam dan tidak perlu terlalu panik. Untuk mencegah dehidrasi bisa mengonsumsi air putih atau susu asal tidak yang berwarna merah atau coklat, karena dikhawatirkan pada saat muntah, apakah ini darah atau warna susu. Obat penurun panas yang diperbolehkan khusus untuk dengue adalah paracetamol” lanjutnya.

dr. Nahwa menyampaikan fase atau siklus demam berdarah (DBD) diawali dengan fase demam yang terjadi segera setelah virus mulai menginfeksi. Demam tinggi biasanya berlangsung selama 2 hingga 7 hari. Rata-rata hari keempat sudah mulai masuk ke fase kritis, selanjutnya adalah fase penyembuhan. Masalah timbulnya pendarahan, hal itu karena trombosit turun jadi resiko pendarahan ada tetapi tidak selalu muncul, setiap anak berbeda-beda. Pendarahan bisa muncul di fase demam, dan apabila pada fase kritis tidak teratasi maka akan lebih parah pendarahannya sebab yang dikhawatirkan adalah bocornya pembuluh darah.

“Dalam menyambut musim hujan ini, saya menghimbau agar menjaga kebersihan lingkungan di luar maupun di dalam rumah terutama tempat-tempat penampungan air atau yang tanpa sengaja air tertampung. Kebersihan lingkungan ditingkatkan, bak-bak mandi atau tandon-tandon air harus sering disikat, kunci pencegahan intinya adalah jangan biarkan ada air yang tergenang, membersihkan sampah-sampah yang menimbulkan timbunan air, dan jangan abaikan 3 M, mengubur barang bekas, menutup tempat penampungan air, dan menguras bak mandi. Terkait dengan pandemi yang belum berakhir prokes tetap dijaga, menerapkan perilaku hidup bersih, sehat dan makan bergizi. Apabila ada keluhan demam tinggi harap lebih waspada, jika demam sudah diturunkan, tetapi masih mengalami demam selama 2 hingga 3 hari mohon segera berobat” pesan dr. Nahwa. (Lin-Humas)