SEMARANG – Ilma Zulfa dan Maydi Hanivirgine yang merupakan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP), berhasil meraih juara pertama dalam lomba IT-Venture Pekan Informasi dan Teknologi (PING) 2021 bidang IT-Paper S1/D3 Tingkat Nasional yang diselenggarkan oleh Himpunan Mahasiswa Informatika (Himaster) Universitas Sebelas Maret (UNS) baru-baru ini.

Mereka yang merupakan tim, mengusung tema Tepekota (Terapi Pengayaan Kosa Kata): Pemanfaatan Aplikasi untuk Ruang Interaksi terhadap Gangguan Berbahasa pada Penderita Afasia. Menurut Ilma, latarbelakang dipilihnya tema ini adalah untuk membantu berkomunikasi penderita Afasia, yang mengalami kendala.

Alfasia adalah salah satu penyakit saraf yang disebabkan tersumbatnya aliran darah ke otak dan menyerang jaringan otak komunikasi (bahasa). Para penderita afasia mengalami gangguan bicara, membaca, menulis, dan berhitung.

Penyebab afasia adalah cedera otak; pada kebanyakan kasus afasia disebabkan oleh pendarahan otak. Beberapa hal seperti kecelakaan juga dapat menjadi penyebab afasia, selain karena tumor dan juga stroke.

Di Indonesia terdapat 550.000 pasien stroke setiap tahunnya, dan sebanyak 82,37% atau 453 pasien stroke menderita gangguan bicara. Hal ini tentu butuh perhatian yang sungguh-sungguh mengingat komunikasi merupakan kebutuhan penting bagi manusia. Proses komunikasi yang baik akan tercapai dengan adanya bahasa sebagai alat komunikasi. Namun, jika terjadi gangguan berbahasa, tentu proses komunikasi tidak bisa berjalan lancar.

Gangguan berbahasa biasanya berhubungan dengan adanya gangguan pada otak manusia. Jika otak mengalami gangguan maka fungsi saraf pada alat ucap tidak bisa berjalan dengan baik. Hal itu terjadi pada penderita afasia. “Maka media pembelajaran berbahasa sangat diperlukan bagi para penderita afasia,” Ilma Zulfa menegaskan.

Mengenai Aplikasi Tepekota yang dirancangnya bersama Maydi adalah aplikasi yang didedikasikan untuk membantu penderita gangguan berbahasa dalam berkomunikasi khususnya penderita afasia. Mereka yang menderita afasia dapat mengerti bahasa dengan baik, tetapi mengalami kesulitan untuk merangkai kalimat sehingga diperlukan alat bantu.

Aplikasi Tepekota rancangan mahasiswa Undip ini diyakini bisa membantu penderita afasia karena memiliki 3 fitur utama yaitu materi terkait afasia, permainan, serta info aplikasi. Dengan Tepekota, penderita afasia bisa melatih kemampuan berbahasanya secara perlahan.

Secara keseluruhan aplikasi ini dilengkapi dengan empat model pembelajaran dasar, yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Kemudian panduan pengembangan menggunakan analisis neurolinguistik dan SWOT serta manajemen risiko aplikasi Tepekota. “Intinya, adanya aplikasi Tepekota merupakan inovasi yang digunakan untuk membantu penderita afasia dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi,” paparnya.

Diharapkan melalui aplikasi ini penderita gangguan berbahasa dapat memperbanyak kosakata dengan model yang sangat ringan, tentunya materi yang akan disampaikan mudah dipahami. Seorang penderita afasia akan mudah mengingat dengan bantuan audio-visual.

Dasar komunikasi yaitu membaca, menyimak, berbicara, dan menulis dibuat agar ramah dengan kondisi penderita afasia. Permainan pada aplikasi ini disusun atas beberapa level, di mana level pertama dimulai dengan materi huruf Alfabet.

Kreator Aplikasi Tepekota optimis karyanya cukup efektif membantu penderita afasia memulihkan kemampuan komunikasinya, karena di dalam aplikasi ini mencakup keseluruhan terapi. Pada terapi kognitif linguistic, ditekankan pada komponen emosional bahasa. Juga diberikan program stimulus dalam terapi menggunakan berbagai modalitas sensori, termasuk gambar-gambar dan musik.

Ada juga Stimulation-Facilitation Therapy yaitu jenis terapi bagi penderita afasia yang lebih fokus pada semantik (arti) dan sintaksis (susunan kalimat) dari bahasa. Juga terapi kelompok (group therapy) yang membantu pasien belajar berkomunikasi dalam konteks sosial untuk mempraktekkan kemampuan komunikasi yang telah mereka pelajari selama sesi pribadi.

Diungkapkan, salah satu basic dari program ini adalah PACE (Promoting Aphasic’s Communicative Effectiveness, suatu bentuk terapi pragmatik yang paling terkenal. Jenis terapi ini bertujuan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan percakapan sebagai alatnya.

Kreator juga menyediakan program Terapi Intonasi Melodi pada aplikasi yang dirancangnya mengingat metode ini bisa membantu pasien dengan curah verbal yang sangat kurang yang disebabkan oleh kelainan dihemisfer kiri, sedangkan hemisfer kanan masih utuh. ‘’Di dalam aplikasi ini dapat membantu kerja otak dalam pengolahan bahasa pada penderita afasia,’’ paparnya.

Sementara itu Ketua Prodi S1 Sastra Indonesia FIB Undip,  Dr. Sukardjo Waluyo, S.S., M.Hum, saat dihubungi pada Kamis (6/1/2022)  mengatakan hasil karya mahasiswanya melalui proses yang berat, dan dibuat dengan perencanaan dan kerja keras dengan bimbingan dosen yang dipilih sesuai dengan kompetensi dan keahlian. Peneguhan sebagai pemenang lomba adalah salah satu bentuk pengakuan bahwa iniovasi ini memiliki manfaat bagi masyarakat

‘’Kami terus membuat peta potensi sumber daya manusia mahasiswa, melakukan pelatihan, dan pendampingan agar lebih banyak karya yang bisa dihasilkan. Saya melihat potensi melimpah dan akan terus berprestasi ke depan. Yang pasti, dalam berkarya kami terbuka untuk berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain agar karya yang dihasilkan lebih berdaya guna,’’ jelasnya. (tim humas)