Site icon Universitas Diponegoro

Peringatan Hari Gizi Nasional 2022, RSND UNDIP Gelar Edukasi Stunting , Obesitas dan Gizi Seimbang

“Kegiatan peringatan hari Gizi Nasional tahun 2022 ini adalah bentuk bakti kami sebagai profesi kesehatan. Stunting dan obesitas di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah untuk mengentaskannya, maka dalam moment ini pakar gizi akan menjelaskannya sekaligus memberikan materi mengenai gizi seimbang. Harapan kami, semoga menjadi bekal yang berharga bagi kita semua” tutur Direktur Utama Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro, Dr. dr. Sutopo Patria Jati, M.M., M.Kes. Dalam acara kegiatan Hari Gizi Nasional 2022 yang diselenggarakan oleh RSND di Kecamatan Tembalang (25/1)

Hadir sebagai keynote speaker, Ketua Forum Sehat Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi, S.H, M.M. Dalam sambutannya ia menyampaikan mengenai aksi bersama cegah stunting dan obesitas. “Stunting dan obesitas menjadi tanggungjawab kita bersama, bagaimana menciptakan generasi muda, generasi yang sehat. Tentunya kegiatan ini sangat memberi manfaat bagi kita edukasi mengenai stunting dan obesitas serta gizi seimbang” ungkapnya.

Sementara dr. Annta Kern Nugrohowati, M.Si., SpGK, selaku ketua panitia kegiatan mengatakan acara ini merupakan kerjasama RSND dengan Kecamatan Tembalang dan Forum Kota Sehat Semarang.

“Di kecamatan terdapat kader Posyandu, PKK dan Dharma Wanita, dalam event ini ada aksi bersama mencegah stunting dan obesitas dengan tema Gizi Seimbang Keluarga Sehat Negara Kuat. Keluarga sehat itu salah satu peran ibu untuk menyediakan makanan dan mengatur makan keluarga. Stunting dan obesitas masih menjadi persoalan sehingga tema ini sangat relevan dimana kita memberikan edukasi kepada para ibu bagaimana memberikan pola makan yang baik untuk keluarga” ujarnya.

Narasumber talkshow dalam acara ini adalah dr. Enny Probosari, M.Si., MED, Sp.GK (K), dalam bahasannya mengenai Gizi Sehat untuk Keluarga Sehat, menuturkan saat ini Indonesia dihadapkan pada beban gizi ganda, suatu kondisi dimana terdapat masalah gizi kurang dan gizi lebih yang terjadi di waktu yang sama.

“Stunting merupakan permasalahan gizi kronis karena kurangnya asupan gizi dalam rentang waktu lama. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun” terangnya.

dr. Enny mengatakan penyebab stunting menurut World Bank antara lain praktek pengasuhan kurang baik, kurang pengetahuan tentang kesehatan dan gizi sebelum dan selama kehamilan, 60% anak usia 0-6 bulan tidak mendapat ASI eksklusif, dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima MP-ASI. Selain itu terbatasnya layanan kesehatan dan pembelajaran dini yang berkualitas, dimana 1 dari 3 anak usia 3-6 tahun tidak terdaftar di Paud, 2 dari 3 ibu hamil tidak konsumsi zat gizi yang memadai, partisipasi di Posyandu rendah dan tidak mendapat akses layanan imunisasi. Kurang akses terhadap makanan yang bergizi turut mempengaruhi, 1 dari 3 ibu hamil anemia dan makanan bergizi cukup mahal. Serta faktor kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi, 1 dari 5 rumah tangga masih BAB di ruang terbuka dan 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses yang baik ke air minum bersih.

“Mengenai obesitas, dampaknya adalah terjadi peningkatan asam lemak bebas sehingga menghambat sekresi, wanita yang obese memiliki risiko hipertensi 3 – 6 kali dibanding wanita dengan berat badan normal, penderita obesitas memiliki jalan nafas yang sempit akibat penumpukan lemak di beberapa otot yang berada di jalan nafas serta penururunan prestasi belajar. Kelebihan energi disimpan menjadi lemak, yang merupakan penumpukan lemak berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu lama. Peningkatan angka obesitas umumnya dikaitkan dengan asupan makanan dengan energi yang melebihi kebutuhan harian” lanjutnya.

“Perhatikanlah gizi seimbang, prinsipnya jika kita sudah memegang gizi seimbang artinya semua sudah terkandung, baik karbohidrat, protein, lemak, protein dan mineral. Selain itu porsi dan jam makan, keragaman atau variasi makanan, cairan dan serat, baik dari sayuran dan buah juga perlu diperhatikan” pungkas dr. Enny. (Lin-Humas)

Exit mobile version