Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) bersama dengan Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) telah menggelar Webinar Series mengenai Henti Jantung Mendadak pada Minggu (06/02) pukul 19.00 WIB di platform Zoom meeting dan live streaming IGTV Kardiologi Undip.

Webinar digelar dalam rangka memberi edukasi kepada masyarakat umum mengenai penyakit jantung, khususnya pada kasus henti jantung mendadak. Webinar kali ini menghadirkan dr. Pipin Ardhianto, Sp.JP(K) sebagai narasumber dan dr. Ali Zaenal Abidin sebagai pembawa acara.

Penderita penyakit jantung setiap tahun terus meningkat dan menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di Indonesia, bahkan angka kematian henti jantung mendadak pada usia-usia produktif pun juga meningkat. Pada kasus henti jantung, fungsi utama jantung sebagai pompa darah ke seluruh tubuh seketika akan berhenti. Hal ini bisa diakibatkan karena beberapa kelainan jantung, salah satunya ialah gangguan pada kelistrikan jantung.

“Secara normal jantung itu bisa berdenyut karena dia memiliki listrik. Tanpa listrik maka tidak akan ada denyut. Jantung memiliki listrik yang independen, otonom, dan terpisah dari sistem saraf pusat. Jadi pada dasarnya otot itu akan berkontraksi akibat adanya rangsangan listrik.” ungkap dr. Pipin.

Namun, jika sistem kelistrikan di dalam jantung itu tidak berjalan normal (menjadi sangat lambat atau sangat cepat), maka akan mengakibatkan fungsi pompa jantung terganggu. Hal ini akan menghentikan jantung secara mendadak, atau biasa disebut dengan henti jantung.

dr. Pipin Ardhianto Sp.JP(K) menyebutkan bahwa pada saat kondisi henti jantung, orang tersebut akan kehilangan kesadaran. Seketika suplai darah keseluruh tubuh, termasuk otak akan bekurang sehingga mengakibatkan gejala pingsan. Namun perlu dianalisis dulu pingsan tersebut karena henti jantung atau gangguan lain. “Tidak semua pingsan ini diakibatkan oleh henti jantung, tapi kalau henti jantung pasti pasiennya pingsan. Kalau tidak ditangani pingsan itu bisa berujung pada kematian.” ucapnya.

Gangguan kelistrikan jantung membuat otot jantung hanya akan bergetar sehingga tidak ada aliran darah yang mengalir ke otak. Hal ini mengakibatkan otak akan mengalami penurunan fungsi dan dapat mengakibatkan kerusakan otak yang permanen dan meluas.

Selain itu, dr. Pipin Ardhianto Sp.JP(K) menambahkan orang yang mempunyai keturunan keluarga yang pernah mengalami henti jantung memiliki resiko yang cukup besar terkena masalah henti jantung. “Dari faktor resiko, biasanya pada henti jantung yang non PJK (Penyakit Jantung Koroner) itu biasanya berhubungan dengan faktor keturunan atau riwayat keluarga terutama pada keluarga yang meninggal mendadak.” jelas dr Pipin.

Sebuah penanganan yang tepat sangat diperlukan dalam kasus henti jantung. Bila melihat orang yang tiba-tiba kolaps atau pingsan, segera carikan pertolongan bantuan medis. Kemudian kita cek respon orang tersebut. Apabila tidak ada respon, cek nadi , apabila tidak ada nadi yang teraba, segera lakukan pijat jantung.

“Jika kita melihat orang yang tiba-tiba kolaps atau mengalami henti jantung atau tidak sadarkan diri, maka segera minta bantuan. Sembari menunggu bantuan, kita cek respon dengan memanggil, tepuk-tepuk dadanya, goyang-goyangkan badaninya sambil dicari ada tidaknya denyut nadi. Denyut nadi dapat di cek di sekitar leher. Apabila tidak ada respon, maka segera lakukan pijat jantung. Ketika kita memberikan bantuan, pastikan kita dalam posisi yang aman dan lingkungan sekitar dalam kondisi yang mendukung untuk melakukan tindakan resusitasi jantung dan paru.” ujar dr. Pipin.

Beliau menambahkan alat medis dapat digunakan untuk mengatasi henti jantung. Alat Automated External Defibrillator atau AED, yang tersedia di Bandara, RS, maupun pusat keramaian. Mesin ini secara otomatis akan mendeteksi listrik jantung, dan akan memberikan kejutan listrik, apabila memang dalam kondisi irama listrik jantung yang berbahaya. Lalu pada pasien yang mempunyai Riwayat henti jantung berulang, alat berupa Defibrillator Kardioverter Implan atau DKI, bisa dipasang ditubuh. “Bila terjadi badai listrik di dalam jantung, maka alat DKI ini akan memberikan energi yang cukup besar melalui kabel, kemudian di ujung kabel ini akan dikirim ke dalam jantung tersebut untuk menghentikan badai listrik, sehingga harapannya yang tadi mengalami henti jantung seketika itu juga tidak terjadi.” pungkasnya.

Pemasangan alat Defibrillator Kardioverter Implan ini dapat mengurangi angka kematian pada kasus henti jantung. Sehingga sirkulasi darah tetap terjaga dan tidak menimbulkan kerusakan organ vital lainnya. (Dhany – Humas)