“Menjadi poros maritim dunia merupakan sebuah keinginan luhur yang sudah dicanangkan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2014, pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Modal untuk menjadi negara maritim yang kuat sebenarnya sudah dimiliki Indonesia. Letak yang sangat strategis di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta antara Benua Asia dan Benua Australia, wilayah laut yang sangat luas, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berlimpah, merupakan anugerah yang luar biasa” Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Endang Susilowati, M.A., Calon Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro dalam Presentasi makalah Calon Guru Besar Undip yang diselenggarakan oleh Senat Akademi Undip, Jumat (18/3).

Syarat sebuah negara maritim yaitu letak geografis yang strategis, topografis wilayah lautan dan daratan yang mengarah pada karakteristik sumber daya dan infrastruktur kemaritiman, wilayah teritorial secara legal, jumlah penduduk yang tinggal di seluruh wilayah kepulauan, aspek kemasyarakatan, termasuk tradisi dan budaya maritim, dan sistem pemerintahan yang mendorong implementasi kebijakan yang bermuara pada bidang kelautan. Sejarah juga telah mengajarkan bahwa pada masa lalu Nusantara yang sebagian besar wilayahnya kemudian menjadi Indonesia, sudah menjadi negara maritim yang sangat kuat dan disegani di dunia. Negara-negara di Nusantara dahulu mengandalkan potensi darat (berbagai produk andalan dan infrastruktur pelabuhan) dipadukan dengan potensi laut (jalur pelayaran dan perdagangan serta armada laut yang kuat), ditunjang dengan jiwa bahari yang menjadi jatidiri bangsa, berhasil menjadi poros maritim dunia. Indonesia saat ini seharusnya dapat melanjutkan apa yang dulu pernah dicapai oleh nenek moyang bangsa.

Program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia pada dasarnya merupakan program yang tepat, karena Indonesia telah mempunyai modal dasar seperti letak yang sangat strategis, wilayah perairan yang sangat luas, ribuan pulau, sumber daya alam berlimpah, serta jalur pelayaran antar pulau dan internasional yang merupakan infrastruktur penting bagi terciptanya konektivitas antar suku bangsa dan antar negara di dunia.

“Sejarah telah mencatat bahwa negeri ini pernah menjadi negeri maritim yang hebat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. Di wilayah Indonesia yang dulu bernama Nusantara pernah berdiri kerajaan-kerajaan maritim besar dan hebat yang kekuasaannya diakui hingga ke wilayah mancanegara. Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit telah membuktikan bahwa penguasaan atas lautan dengan segenap aspeknya, ditambah armada laut yang kuat akan menciptakan hegemoni politik, ekonomi dan budaya yang tak tergoyahkan dalam kurun waktu panjang, serta mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi kerajaan dan rakyatnya. Nusantara sebagai cikal bakal Indonesia sudah menjadi poros maritim dunia pada zamannya” tuturnya.

“Untuk membangun negara maritim yang besar dan menjadikannya sebagai poros maritim dunia tidak cukup hanya dengan melakukan eksploitasi sumber daya kelautan, tetapi juga harus dibarengi dengan penciptaan dan implementasi kebijakan pemerintah di bidang kebaharian yang komprehensif, sustainable, dan futuristik. Hal yang tidak kalah penting adalah dilakukannya sosialisasi dan enkulturasi nilai-nilai sejarah dan budaya maritim melalui media pendidikan, seni, sastra, dan sebagainya agar jiwa bahari kembali tertanam pada segenap anak bangsa, terutama pada para pemimpin dan pengambil kebijakan sehingga cita-cita menjadi poros maritim dunia itu bisa diwujudkan pada suatu ketika nanti” pungkas Dr. Endang. (Lin-Humas)