Tidak dapat disangkal, makanan di era seperti ini memiliki banyak jenis. Bahkan, ada sejenis makanan bernama junk food atau makanan cepat saji yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh. dr. Tanjung Ayu Sumekar, M.Si.Med, Sp.KJ menjelaskan mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh gangguan makan, antara lain gangguan kardiovaskular seperti penurunan massa otot, denyut jantung melemah, tekanan darah tinggi, masalah pencernaan, gangguan tidur, gangguan sistem rangka atau tulang, perubahan hormon, dan lain sebagainya.

Penjelasan ini disampaikan dalam edukasi online dengan mengangkat topik “Gangguan Makan: Berbahayakah?” yang diadakan oleh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Psikiatri Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro, secara daring via platform Zoom Cloud Meetings dan disiarkan langsung via kanal YouTube Undip TV Official pada Jumat (25/3).

Seminar yang bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Cabang Semarang ini menggandeng dua narasumber kompeten di bidangnya, yaitu dr. Hang Gunawan Asikin, Sp.KJ dan dr. Tanjung Ayu Sumekar, M.Si.Med, Sp.KJ.

“Dalam mendiagnosis kondisi gangguan makan, kita harus melihat apakah itu termasuk gangguan psikis, gangguan pencernaan, kondisi komorbiditas, atau gejala ini merupakan kumpulan dari penyakit-penyakit,” tutur dr. Hang Gunawan Asikin, Sp.KJ.

dr. Tanjung Ayu Sumekar melanjutkan, bahwa gejala gangguan makan seperti anorexia nervosalebih beresiko dari depresi dan memiliki angka kematian lebih tinggi dari gejala gangguan makan lainnya. “Anorexia nervosaberesiko lebih tinggi daripada depresi. Angka kematian dari gejala ini juga lebih tinggi dari gejala gangguan makan yang lain,” pungkasnya.

Sayangnya, sebagian besar penderita gangguan makan tidak menyadari bahkan menolak bahwa mereka tengah menderita gangguan makan. Maka dari itu, dengan adanya forum edukasi ini, dr. Tanjung Ayu Sumekar berharap peserta dapat terbantu dalam mendeteksi gejala gangguan makan pada diri sendiri dan orang sekitar. (Zah – Tim Humas)