Jumat (25/3) – Seiring dengan kemajuan zaman yang pesat, masyarakat dituntut menjadi lebih kritis untuk mengimbangi arus globalisasi. Tidak hanya kemajuan sains dan teknologi yang terus bergerak, permasalahan sosial budaya juga terus berkembang mengikuti perubahan zaman terlebih di era generasi milenial. Menyikapi persoalan budaya yang timbul di masyarakat, Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro (Undip) menggelar Kuliah Umum Bahasa, Sastra, dan Budaya bertema “Multikulturalisme di Indonesia pada Era Kekinian”, dengan mengundang tiga pembicara yang merupakan ahli humaniora dari berbagai universitas di Indonesia.

Secara resmi membuka acara ini, Dekan FIB UNDIP, Dr. Nurhayati, M.Hum. menyampaikan bahwa topik yang diangkat dalam kuliah umum ini adalah topik yang menarik terlebih untuk para akademisi. “Tema ini sangat relevan dengan situasi saat ini, tugas kita sebagai akademisi sosial humaniora untuk menyelesaikan permasalahan sosial di Indonesia yang multikultural. Semoga kuliah umum ini bisa memberikan jawaban dari permasalahan tersebut dan menambah insight baru untuk kita semua,” ucap Dr. Nurhayati.

Pembicara pertama, Prof. Dr. Munirah, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Makassar, membahas “Peranan Multikulturalisme dalam Pendidikan Indonesia di Era Kekinian”. Menurutnya, keragaman budaya perlu dikenalkan kepada generasi milenial untuk membentuk kesadaran multikulturalisme, salah satunya melalui pendidikan. Budaya masyarakat yang terus bergerak dan berubah dapat dijadikan objek kajian sehingga terjadi gerakan pembaruan pendidikan, contohnya melalui teks pembelajaran yang mengenalkan karakteristik berbagai etnis dan ras di Indonesia. “Pemahaman multikulturalisme menumbuhkan toleransi yang bermanfaat ketika individu melakukan interaksi sosial. Saya sangat mendukung program pertukaran mahasiswa yang diadakan pemerintah, karena dari program itu mahasiswa dapat belajar tentang Kebhinnekaan,” ungkap Prof. Munirah.

Lebih lanjut, pembicara kedua yakni Prof. Dr. Benny Ridwan, M.Hum. dari IAIN Salatiga menjelaskan “Multikulturalisme di Indonesia pada Era Kekinian”. Prof. Benny menyebutkan bahwa multikulturalisme merepresentasikan budaya yang citra positifnya harus kita bentuk, di mana dalam prosesnya tidak cukup hanya dengan hidup berdampingan, tetapi harus saling mengenal dan menghargai perbedaan. Multikulturalisme mencakup nilai-nilai universal kemanusiaan, sehingga Indonesia dengan masyarakat majemuk tidak seharusnya terpisahkan karena penggolongan kelas sosial, suku, agama, ras dan golongan. “Tantangannya ada dua, yaitu globalisme dan fundamentalisme. Pentingnya persatuan harus ditanamkan, salah satunya dengan penghargaan terhadap liyan (orang lain),” tutur Prof. Benny.

Sedangkan pembicara ketiga, Prof. Dr. Muhadjirin Tohir, M.A. dari Universitas Diponegoro menyampaikan materi mengenai “Multikulturalisme dalam Konstruksi Keindonesiaan”. Multikulturalisme di Indonesia menunjukkan ke-bhinneka tunggal ika-an sebagai the way of life berlandaskan Pancasila sebagai tatanan moral. Dalam konstruksi antropologik, manusia dapat hidup layak jika kebutuhannya terpenuhi, termasuk kebutuhan pokok, kebutuhan sosial, dan kebutuhan keadaban.

Multikulturalisme akan sulit terbentuk di masyarakat yang masih miskin dan kesulitan bahkan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Kebudayaan dapat digunakan sebagai acuan sumber kebenaran, secara konstitutif melalui dongeng, mitologi, religi; secara kognitif melalui local knowledge dan scientific knowledge; secara evaluatif berupa tradisi “yang bertuah”; dan secara ekspresif melalui kepantasan etis dan aestetis. “Hal yang berbeda dengan keyakinan kita bukan berarti salah, contohnya pawang hujan yang bisa dikategorikan sebagai local knowledge,” pungkas Muhadjirin.

Di penghujung acara, Kaprodi S1 Sastra Indonesia Undip, Dr. Sukarjo Waluyo, M.Hum. selaku moderator menyimpulkan bahwa budaya memiliki aspek tangible dan intangible, sehingga pemahaman multikulturalisme merupakan proses berkelanjutan yang terus bergerak mengikuti perubahan era. (Titis – Public Relations)