Ikatan Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Ika Mikom Undip) menyelenggarakan webinar  bertajuk “Membangun Ekosistem Digital di Dunia Metaverse”, Sabtu (26/3) melalui aplikasi zoom meeting.

Ketua Panitia Webinar, Heni Indrayani MIKom  menyampaikan dunia metaverse menjadi isu menarik saat ini seiring perkembangan teknologi digital. Bahkan berdasarkan sebuah penelitian, diprediksi di tahun 2025 nanti, 25 persen masyarakat kita akan menghabiskan setidaknnya satu jam sehari untuk belajar, bekerja, berbelanja, dan hiburan dalam Metaverse.

”Bertolak adanya realitas ini, Ika Mikom hadir mengadakan webinar yang  diharapkan dapat memberikan gambaran secara komprehensif tentang ekosistem digital dalam menyambut Metaverse dan juga memberi masukan bagi dunia akademisi dan praktisi” ungkapnya.

Menurut Heni, Metaverse adalah sebuah konsep dunia komunitas virtual yang dibangun saling terhubung satu sama lain, di mana orang dapat bertemu, bekerja, dan belajar, bahkan bertransaksi jual-beli layaknya dunia nyata berkat bantuan teknologi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). Dalam menjawab tantangan teknologi baru dan menyiapkan Metaverse di Indonesia, diperlukan pengetahuan dan pemahaman mengenai bagaimana ekosistem digital dibangun di Metaverse. Alasannya,  realitas digital dalam Metaverse menggabungkan aspek media sosial, game online, augmented reality, virtual reality dan cryptocurrency.

”Banyak yang menyebut Metaverse adalah dunia kedua umat manusia. Realitas tersebut baik secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana manusia berinteraksi. Harapan kami dengan webinar ini kita bisa memahami seputar metaverse bersama nilai-nilai manfaat yang menyertainya” terangnya.

Hadir sebagai narasumber, Budiman Sudjatmiko (Inisiator Bukit Algoritma), Ahmad Khoirudin (Ketua Komite Ekonomi Kreatif Jateng) dan Dr. Triyono Lukmantoro (Dosen Magister Ilmu Komunikasi Undip),

Dalam materinya, Dr. Triyono Lukmantoro menyampaikan Decentraland merupakan dunia virtual berbasis blockchain, memungkinkan para pengguna membangun alat, games, isi, dan market, di antara yang lain dan menyediakan sebuah infrastruktur yang mendukung dunia virtual bersama, lazim Metaverse. Sedangkan Metaverse adalah semesta pasca-realitas, lingkungan pengguna yang abadi dan permanen, menggabungkan realistas fisik dengan realitas virtual, Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR).

“Berita merupakan peristiwa yang dianggap bernilai berita. Mengenai jurnalisme, jurnalisme meletakkan peristiwa, gagasan, informasi, dan kontroversi dalam konteksnya, seleksi dan presentasi serta penilaian terhadap validitas, kejujuran, atau keterwakilan tindakan atau komentar. Sedangkan jurnalisme digital tidak dimulai dengan konsep jurnalisme melainkan digital, bukan jurnalisme ditransformasikan oleh teknologi digital” tuturnya.

“Sementara perbedaan tujuan informasi, persuasi, dan propaganda adalah  informasi mendorong saling pemahaman pengirim-penerima pesan, membagikan gagasan, menjelaskan, dan menginstruksikan. Persuasi mendorong saling pemenuhan kebutuhan pengirim-penerima pesan, pembentukan respons, dan perubahan respons. Propaganda mendukung tujuan pengirim pesan, tidak harus memenuhi kebutuhan terbaik penerima pesan, mengontrol arus informasi, memanajemen opini public serta memanipulasi pola-pola perilaku” pungkasnya. (Lin-Humas)