Departemen Sejarah FIB Undip-Semarang. Departemen Sejarah baru-baru ini kembali menyelenggarakan Workshop Metodologi Seri VI dengan topik besar Sejarah Pariwisata, pecan lalu. Pada kesempatan ini, tema yang diangkat adalah sejarah pariwisata. Workshop ini sengaja diinisiasi oleh departemen untuk menyuguhkan alternatif topik bagi para mahasiswa S1 Sejarah yang saat ini sedang memformulasikan topik riset atau skripsi.

 Dr. Nurhayati, M. Hum. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya menyambut dan membuka acara ini dengan sebuah kepercayaan bahwa para mahasiswa sejarah Undip akan melahirkan ide-ide brilian terkait sejarah pariwisata setelah belajar dari workshop ini. “Luaran dari tema sejarah pariwisata ini dinilai akan berguna untuk menyukseskan agenda penting dari Sustainable Development Goals (SGDs), khususnya dalam promosi budaya.” Terang Dr. Nurhayati, M. Hum.

 Dr. Awaludin Nugraha, M.Hum. dari Program Studi Sejarah Universitas Padjajaran diundang secara khusus sebagai pembicara karena kepakaran beliau linier dengan tema besar workshop ini. Dimoderatori oleh Dr. Haryono Rinardi, M. Hum., workshop ini berjalan begitu dinamis dengan mengungkap berbagai hal penting di antaranya terkait makna dasar dari sejarah pariwisata, konsep dan teori yang bisa dipakai sebagai pisau analisis atau guideline, dan peluang-peluang tema yang menarik untuk ditinjaklanjuti sebagai sebuah riset yang sungguh-sungguh.

Kajian tentang pariwisata (tourism) tidak bisa dilepaskan dari waktu luang yang dimiliki oleh wisatawan. Waktu luang adalah waktu yang dimiliki setelah menyelesaikan kebutuhan primer. “Saat ini, ada pergeseran paradigma tourism. Tourism sudah tidak lagi menargetkan jumlah wisatawan yang membludak (wisatawan massal). Tetapi, menarget pada jumlah wisatawan yang sedikit, namun memiliki waktu yang panjang (quality tourism).” Terang Dr. Awaludin sambil menegaskan betapa menariknya mengkaji tentang pergeseran paradigma tourism ini.

Partisipatori wisatawan lokal dan pemerintah dalam bersinergi untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas. Kehadiran wisatawan dalam durasi waktu yang lama dinilai lebih menguntungkan secara finansial, seorang wisatawan akan membelanjakan uang di tempat wisata dalam durasi waktu selama tinggal di sana.  Masyarakat lokal juga memahami bahwa pariwisata menjadi mata pencaharian sekunder yang lebih banyak diperoleh. Dengan demikian, mereka mengamankan pariwisata dan wisatawannya.  Sikap masyarakat lokal ini merupakan akibat dari pendekatan partisipatori. Sebagai contoh konkret, di Yogyakarta ada sebuah desa wisata Nganggeran di mana masyarakat lokal turut terlibat aktif dalam menjaga lingkungan agar tetap asri dan nyaman untuk para wisatawan.

Dalam konteks riset sejarah, sangat menarik  untuk melihat index iritasi, yaitu terkait dengan penerimaan masyarakat lokal terhadap perkembangan pariwisata. Penerimaan tersebut sangat terkait dengan proses-proses yang dinamis, misalnya dari antusiame lalu merasa terganggu kemudian iritasi dan menolak atau melawan kehadiran wisatawan, misalnya wisata Kampung Adat Naga dan Baduy yang semakin dibatasi oleh warga lokal, bahkan berangsur ditutup.

Tema lain yang tampak remeh, namun tetap menarik untuk diangkat adalah penyewaan tandu pada masa kolonial untuk masuk objek wisata atau mengenai Dewan Tourism Indonesia. Ada apa sesungguhnya di balik dewan tersebut. Kajian ini tampak masih minor diungkap dalam narasi mainstream sejarah pariwisata.  Selain itu, pergeseran fungsi Hotel yang semula menjadi tempat istirahat beralih sebagai tempat meeting juga tidak kalah menarik sebagai tema riset.

“Mudah mudahan dari workshop ini akan menghasilkan proposal yang menarik dan relevan dengan kebutuhan kita. Namun, jangan sampai terjebak pada tema parisiwata yang mengarah pada terapan, karena keduanya memang memiliki irisan. Dengan demikian, perlu kecermatan untuk melihat perbedaan di antara keduanya.” Ungkap Ketua Departemen Sejarah, Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum. (Fanada Sholihah/ Sejarah).