“Rongga mulut secara alamiah merupakan tempat hidup beratus-ratus spesies kuman, yang  dalam keadaan normal akan saling menjaga keseimbangannnya sebagai ‘flora normal’ rongga mulut, Beberapa bakteri flora normal rongga mulut akan berperan sebagai bakteri pioneer pembentuk plak gigi. Plak gigi akan terus menerus terbentuk meskipun sesaat setelah menyikat gigi. Hal ini terjadi akibat adanya saliva atau air ludah dalam rongga mulut kita. Komponen protein atau musin yang terdapat dalam air liur akan membentuk lapisan pertama yang melekat di permukaan gigi dan permukaan lainnya dimana lapisan tersebut ideal untuk dilekati oleh bakteri pioneer pembentuk plak gigi” tutur drg. Tyas Prihatiningsih, M.D.Sc, Dokter Gigi Rumah Sakit Nasional Diponegoro Universitas Diponegoro.

Lebih lanjut ia menyampaikan bakteri pioneer tersebut dari golongan Streptokokkus. Sp., bakteri ini akan menggandeng bakteri berikutnya yang bisa jadi bersifat merugikan, contohnya golongan bakteri kariogenik atau bakteri penghasil asam yang dapat menyebabkan karies atau perlubangan gigi. Bakteri merugikan lain yang dapat ditemukan dalam plak diantaranya adalah bakteri penyebab kerusakan jaringan penyangga gigi, sebagi contoh P. gingivalis, P. intermedia, A. actinomicetemcomitans. Selain itu rongga mulut juga dapat menerima tambahan kuman dari makanan dan minuman serta kebiasaan buruk pada anak seperti menghisap jempol, menggigit benda-benda, dan lainnya. Hal tersebut bisa berpotensi menambah kelainan yang dapat muncul di rongga mulut ataupun kelainan yang penyebabnya masuk melalui mulut, seperti contohnya infeksi herpes simplek, kelainan periapical pasca perawatan saluran akar dan lainnya.

“Kelainan rongga mulut seperti karies, karang gigi dan radang jaringan penyangga seperti radang gusi, dan infeksi di ronga mulut lainnya dapat menimbulkan gangguan sosialisi berupa bau mulut dan gangguan estetika ketika kelainan terjadi di gigi depan. Bau mulut dapat timbul dari dua faktor, pertama dari rongga mulut kita semisal misalkan sisa makanan, makanan yang berbau, merokok, kelainan di rongga mulut, jaringan yang mati, karies, abses rongga mulut, karang gigi, radang jaringan penyangga gigi dan kandidiasis. Sedangkan faktor kedua berasal dari sistemik misalkan pada penderita diabetes militus dan gagal ginjal. Gangguan estetika dapat berpengaruh pada kepercayaan diri seseorang saat mereka bicara dan tersenyum” terangnya.

Menurut drg. Tyas untuk mengatasi berbagai masalah tersebut dapat dikategorikan menjadi upaya perawatan kuratif dan preventif. Kelainan seperti karies atau lubang gigi, radang gusi, serta infeksi jaringan rongga mulut lainnya dapat dilakukan perawatan kuratif seperti penambalan, perawatan saluran akar scaling maupun kuretase, sedangkan upaya preventif meliputi penyikatan gigi secara teratur minimal dua kali sehari di waktu yang tepat pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur, dengan durasi minimal 2 menit, serta metode penyikatan yang tepat. Menyikat gigi merupakan metode utama untuk mengkontrol timbulnya plak, sedangkan apabila masih terdapat sisa kotoran yang tidak bisa terambil dengan penyikatan gigi dapat dibantu dengan penggunaan dental floss atau siakt interdental.

“Pemakaian obat kumur setelah penyikatan diperbolehkan secara ‘terbatas’ pada kondisi tertentu dan tidak dalam jangka waktu lama, oleh karena akan mengganggu microflora normal ronga mulut. Kandungan alkohol pada beberapa obat kumur dapat menyebabkan mulut kering, dan hal ini dapat berakibat pada gangguan sekresi saliva sehingga pembersihan berkurang, serta mengganggu keseimbangan microflora rongga mulut.  Obat kumur merupakan agen kimiawi untuk mencegah pembentukan plak, tetapi tidak bisa membersihkan plak maupun karang gigi yang sudah terbentuk sebelumnya, sehingga upaya preventif utama untuk menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut kita adalah dengan menyikat gigi” ungkapnya.

Upaya pembersihan karang gigi  tidak bisa dilakukan dengan menyikat gigi karena kotoran yang ada di rongga mulut telah menumpuk dan terjadi mineralisasi sehingga menjadi keras jadi butuh dihilangkan dengan suatu alat  ultrasonic scaler. Karang gigi dapat muncul Kembali apabila pada saat control plak dengan penyikatan gigi masih ada sisa kotoran yang bertahan, lama kelamaan akibat adaya elektrolit saliva maka terjadi mineralisasi kembali menjadi karang gigi.

Sedangkan cara mengatasi bau mulut pun tidak hanya kontrol plak, namun juga konsumsi makanan yang mengandung vitamin dan serat, tidak terlalu banyak gula dan tidak bersifat lengket. Aktifitas pengunyahan memacu otot-otot pengunyahan rongga mulut untuk berkontraksi, hal ini mengakibatkan efek memeras kelenjar saliva dan tersekresinya saliva. Saliva yang tersekresi akan mempunyai banyak fungsi salah satunya untuk self cleansing rongga mulut. Bau mulut akibat penyakit sistemik dapat dikonsultasikan dengan dokter yang merawat kelainan tersebut sehingga kelainannya dapat terkontrol.

“Pencehagan terakhir sebagai upaya menjaga kesehatan rongga mulut adalah dengan periksa rutin ke dokter gigi minimal dua kali dalam setahun, atau kurang dari itu sesuai dengan kondisi pada masing-masing individu” pesan drg. Tyas. (Lin-Humas)