Rumah Sakit Nasional Diponegoro Universitas Diponegoro dan Prodi Spesialis Gizi Klinis Undip bekerja sama dengan Forum Kota Sehat Semarang menggelar kegiatan Workshop dan Pembinaan Kader Posyandu Lansia dalam rangka Hari Gizi Nasional Tahun 2022 dengan tema “Penapisan Risiko Malnutrisi pada Lansia” di Gedung Balaikota Semarang, Rabu (25/5).

Hadir Ketua Forum Sehat Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi, S.H, M.M., dalam sambutannya sangat mendukung kegiatan ini. Menjaga kesehatan sejak dini merupakan investasi yang berharga, sehingga pada saatnya nanti setiap individu mampu menjadi lansia yang berdaya guna,  sehat,  aktif, dan mandiri.

Sementara Dr. dr. Sutopo Patria Jati, M.M., M.Kes. selaku Direktur Utama Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Universitas Diponegoro menyampaikan bahwa Undip dan Forum Kota Sehat Semarang akan berupaya untuk mensejahterakan dan menyehatkan warga Kota Semarang, mulai bayi hingga lansianya.

“RSND dan FK Undip memiliki tenaga-tenaga ahli yang bisa memberikan kontribusinya dalam upaya menyadarkan, memberikan pemahaman, dan pengetahuan yang sangat diharapkan bisa menjadi modal untuk melakukan perubahan-perubahan yang lebih sehat ke depannya. Semoga lansia semakin sehat, sejahtera, makin bersemangat untuk memberikan manfaat sesuai dengan apa yang bisa diberikan pada lingkungannya serta tidak menjadi beban keluarga atau lingkungan terdekatnya” ungkapnya.

Narasumber dalam webinar ini yaitu dr. Etisa Adi Murbawani, M.Si., Sp.GK (Dokter Spesialis Gizi Klinik RSND Undip) dan dr. Annta Kern Nugrohowati, M.Si., SpGK (Dokter Spesialis Gizi Klinik RSND Undip) serta dimoderatori oleh dr. Enny Probosari, M.Si., Med., Sp.GK (K) (Dokter Spesialis Gizi Klinik RSND Undip).

Dalam materinya dr. Etisa Adi Murbawani mengatakan faktor yang memengaruhi kesehatan lansia antara lain keturunan, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan perilaku (asupan makan/gizi dan aktifitas fisik). Faktor gizi merupakan salah satu hal yang dapat diubah untuk mencegah penurunan fungsi fisik dan meningkatkan kekuatan fisik dari lansia.

“Bertambahnya usia berhubungan erat dengan penurunan fungsi organ pada lansia dan perubahan organ sering menyebabkan lansia mengalami kurang gizi. Sedangkan gejala dan tanda ketika lansia mengalami malnutri antara lain penurunan berat badan, hilangnya massa otot, hilangnya lemak subkotan atau di bawah kulit, bengkak akibat terkumpulnya cairan tubuh pada bagian tertentu, kelemahan, kelelahan, dan mudah sakit” terangnya.

“Faktor yang memengaruhi asupan makan lansia adalah penurunan kemampuan mencerna dan penyerapan, gangguan penglihatan, penghidu, indera perasa dan rasa haus, pengosongan perut melambat, sulit mengunyah dan menelan, serta adanya penyakit tertentu seperti gula, ginjal, jantung dan tensi tinggi” lanjut dr. Etisa.

dr. Annta Kern Nugrohowati memberikan materi mengenai Penapisan Risiko Malnutri pada Usia Lanjut di Posyandu. Menurutnya, status gizi usia lanjut harus dipantau karena berdasarkan data 59, 2 % berisiko mengalami malnutrisi, 37,6% tidak berisiko malnutrisi, dan 3,2% mengalami malnutrisi. Malnutrisi merupakan kondisi ketika terjadi ketidakseimbangan, baik itu kekurangan atau kelebihan, nutrisi di dalam tubuh seseorang.

“Pemantauan status gizi usia lanjut dapat dilakukan pada saat pelaksanaan kegiatan Posyandu Lansia dan diperlukan untuk menentukan apakah terdapat risiko malnutrisi. Tujuannya untuk skrining adanya risiko malnutri, mencegah peningkatan angka kesakitan dan kematian, serta menentukan tatalaksana lebih lanjut apabila terdapat risiko malnutrisi. Pemantauan status gizi usia lanjut dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan, setelah didapatkan hasil pengukuran Tinggi Badan dan Berat Badan selanjutnya dilakukan perhitungan Indeks massa Tubuh atau IMT. IMT adalah perbandingan antara berat badan dan tinggi badan” pungkasnya. (Lin-Humas)