Komisi A Dewan Profesor Senat Akademi (DP-SA) bekerjasama dengan Program Magister Ilmu Lingkungan dan Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro menyelenggarakan Webinar dengan tema “Dibalik Banjir Pantura Jawa Tengah”, Rabu (8/6).

Dalam kesempatan ini hadir sebagai keynote speaker, Walikota Semarang, Dr. Hendrar Prihadi, S.E., M.M. yang menyampaikan progres penanganan banjir di Kota Semarang hingga 2021 presentase wilayah banjir, rob, dan genangan lokal di Kota Semarang berkurang drastis. Upayanya antara lain melalui normalisasi sungai Tenggang, Sringin, Babon, Banger, Kali Semarang, Kali Asin, Kali Garang, Banjir Kanal Barat dan Timur, Pembangunan Waduk Jatibarang, juga pembangunan polder serta embung di sejumlah titik, didukung dengan 49 sistem rumah pompa pengendali air.

“Mari kita bersama-sama memperhatikan persoalan lingkungan, Semarang  kembali ke go green sehingga permasalahan banjir dan rob dapat terkendali dengan baik” tuturnya.

Prof. Suripin (Departemen Teknik Sipil Undip) dalam materinya mengatakan saat ini pantai Semarang mengalami kemunduran yang dipicu oleh berbagai faktor, alamiah maupun aktifitas manusia, bersifat global maupun lokal. Kemunduran pantai akibat kombinasi antara erosi, penurunan lahan-konsolidasi tanah, dan kenaikan muka air laut. Banjir rob dikawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada tanggal 23 Mei 2022, terjadi akibat kombinasi antara pasang surut, wave run-up, wind set-up, sea level rise, dan land subsidence serta terjadi tanggul limpas dan beberapa bagian jebol.

“Perlu pengaturan, pengendalian, pembatasan pembangunan di kawasan Pantai Kota Semarang. Pendekatan engineering antara lain dengan Land Filling atau pengurugan dan Poldering. Bangunan pantai yang sustainable, harus memenuhi 3 pilar yaitu ramah lingkungan, bernilai, dan berkeadilan atau bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Sedangkan bangunan pantai ramah lingkungan yakni yang tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, dapat bersinergi, menyatu, meningkatkan nilai tambah, dan mengamankan lingkungan pantai, serta bangunan indah dipandang” terangnya.

Sementara Prof. Dr. Ir. Sutrisno Anggoro, MS (Departemen Sumberdaya Akuatik FPIK) menuturkan beberapa faktor penyebab bencana banjir rob dan gelombang pasang diantaranya adalah dekomposisi dan konsolidasi alamiah, dataran alluvial dan pembiaran erosi pantai (termasuk pengerukan alur); tanah alluvial muda dan pengambilan air tanah yang tidak terkendali; dan sempadan pantai dan garis pantai tidak dipatuhi, perisai pantai sebagian lemah (yang jebol dinding pembatas/pagar).

“Dalam konsep dasar Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu, tidak mungkin menghilangkan potensi natural hazard, kecuali hanya menurunkan risikonya dengan melakukan risk assessment terhadap seluruh potensi bahaya banjir rob yang ada dan membangun alat mitigasi struktural dan non-struktural yang memungkinkan. Menurunkan kerentanan kawasan terhadap seluruh potensi bahaya yang mungkin terjadi (Banjir Rob, Gelombang Pasang, Banjir, Erosi, Sedimentasi, Amblesan Tanah). Dan memperkuat ketahanan kawasan terhadap seluruh potensi bahaya yang dideteksi dengan penempatan fasilitas-fasilitas publik yang vital, terutama untuk jalur evakuasi pada lokasi yang paling aman (sabuk pantai multi fungsi, dan lain-lain) didukung kolaborasi semua lini dalam Satuan Coastal Cell Teluk Semarang” pungkas Prof. Sutrisno. (Lin-Humas)