Perencanaan dan pembangunan perdesaan sebelumnya harus dapat mengenali sifat multi-fungsionalitas dan ruang yang dapat dikelola. Multi-fungsionalitas ditujukan untuk melihat dan menilai wilayah perdesaan dari tantangan aktual yang dihadapi. Tantangan aktual ini berhubungan dengan nilai-nilai, komunitas, ekonomi, dan perubahan lingkungan yang kemudian menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan dan membutuhkan respon berupa desain kebijakan dan perencanaan yang terintegrasi dan terkoordinasi dalam satu kerangka gradien ruang.

Hal ini disampaikan Prof. Dr. sc.agr. Iwan Rudiarto, S.T., M.Sc., dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Multi-Fungsionalitas dan Gradien Ruang dalam Perencanaan dan Pembangunan Perdesaan” yang disampaikan di depan Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Diponegoro pada acara pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik (FT) Universitas Diponegoro (Undip) yang berlangsung pada Selasa (14/06) di Gedung Prof. Soedarto SH kampus Undip Tembalang.

Ia menjelaskan Gradien ruang merupakan parameter dalam ruang di dalam suatu wilayah yang merupakan refleksi dari aspek ekonomi, sosial, administratif, politik, budaya, dan kondisi lingkungan dari masyarakat perdesaan. Kondisi dan perkembangan sosial ekonomi masyarakat desa sangat erat kaitannya dengan ketersediaan sumber daya (sumber daya alam maupun sumber daya manusia) yang didukung oleh sumber daya lain seperti finansial, sosial, dan fisik atau yang disebut dengan livelihood asset.

Ketersediaan sumber daya ini menjadi kunci dalam perencanaan dan pembangunan perdesaan dimana sebagian besar masyarakat perdesaan masih menggantungkan hidupnya dari ketersediaan sumber daya terutama sumber daya lahan. Peran sumber daya lahan mempunyai peran yang penting untuk menentukan terjamin atau tidaknya kehidupan masyarakat. “Gangguan terhadap kondisi fisik lingkungan akan berdampak secara langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat seperti degradasi lahan.” ungkap Prof. Iwan.

Menurutnya, permasalahan degradasi lahan di wilayah perdesaan secara nyata berdampak pada kehidupan masyarakatnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti untuk dapat mengembangkan penilaian kerentanan (vulnerability) dan ketahanan (resilience) masyarakat perdesaan sebagai akibat dari adanya degradasi lahan.

“Penilaian ini berperan dalam hal pengambilan keputusan tentang apa sebaiknya yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan degradasi lahan dan kerentanan ketahanan masyarakat desa. Tantangan ini juga relevan dengan fenomena global perubahan iklim yang banyak terjadi di berbagai wilayah perdesaan yang secara langsung berdampak pada tingkat produktivitas.” jelas Ketua Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI) periode 2021-2023 ini .

Suami dari Prof. Dr.–Ing. Wiwandari Handayani S.T., M.T., M.P.S. ini menjelaskan bahwa multi-fungsionalitas dalam perencanaan dan pembangunan perdesaan tidak hanya melihat konteks wilayah perdesaan itu sendiri. Dalam konteks hubungan desa-kota, hal yang dapat dilakukan adalah dengan melihat gambaran yang lebih dinamis dari pergerakan masyarakat desa dan juga perkembangan di sekitar wilayah perdesaan terutama dari aspek spasial.

Pergerakan masyarakat desa berpengaruh terhadap perkembangan dan transformasi desa yang ditimbulkan dari adanya arus pergerakan orang, barang, dan uang. “Sebagai dampak dari adanya perkembangan spasial adalah urbanisasi atau juga transformasi wilayah desa sebagai akibat dari adanya urbanisasi atau aglomerasi perkotaan.” ucap Prof. Iwan.

Pergerakan masyarakat desa ke kota merupakan fenomena yang telah berlangsung dalam beberapa dekade dimana sektor pertanian dianggap tidak dapat menampung ketersediaan tenaga yang ada. Di Indonesia, perbandingan antara lahan pertanian dan tenaga kerja dalam rumah tangga petani rata-rata kurang dari 1 ha sehingga membuat masyarakat desa mencari peluang yang lebih baik dengan melakukan migrasi ke kota.

Peraih gelar Magister dari Technishe Universitaet Muenchen-Germany dalam bidang Manajemen Lahan dan Land Tenure tahun 2005 ini mengungkapkan pergerakan masyarakat desa ke kota akan menghasilkan pola pergerakan tersendiri yang kemudian juga dapat diidentifikasi lebih lanjut dengan melihat pola aliran uang/remittance yang terjadi terhadap pembangunan desa asal dari para migran tersebut.

Multi-fungsionalitas menyangkut isu dan permasalahan perdesaan dalam satu kesatuan gradien ruang yang terkait dengan nilai-nilai, komunitas/sosial, ekonomi, dan perubahan lingkungan. Kesatuan gradien ruang ini dapat dibedakan secara topografi, karakter perdesaan/rurality, maupun secara fungsional.

“Secara topografi, konteks multi-fungsionalitas dapat dijabarkan dengan perbedaaan ketinggian dari suatu wilayah perdesaan (dataran tinggi, sedang dan rendah). Secara karakter/rurality, gradien ruang digunakan untuk mendeskripsikan tipologi kewilayahan desa-kota dari suatu proses tranformasi yang terjadi, pengelolaan lahan, dan konteks kerentanan-ketahanan dari bencana. Sedangkan secara fungsional, multi-fungsionalitas dan gradien ruang dapat dideskripsikan dalam bentuk hubungan desa-kota.” ungkap lulusan Program Doktor bidang Perencanaan dan Pembangunan Perdesaan Universitaet Hohenheim-Germany tahun 2010 ini.

Prof. Iwan menambahkan Multi-fungsionalitas dalam kesatuan ruang tersebut merupakan bagian penting dalam perencanaan dan pembangunan perdesaan dalam satu rangkaian desa-kota/rural-urban continuum. Multi-fungsionalitas dalam perencanaan dan pembangunan perdesaan mencakup aspek-aspek yang saling terintegrasi dalam satu gradien ruang yang meliputi nilai-nilai, komunitas, sosial, ekonomi, dan perubahan lingkungan.

Secara keilmuan, khususnya dalam konteks perencanaan dan pembangunan wilayah dan desa, pendekatan yang diutamakan lebih kepada bagaimana memahami interelasi, interaksi, dan interdepedensi antara berbagai aspek yang telah disebutkan sebelumnya.

Pemahaman secara holistik dalam melihat permasalahan dengan dinamika yang terjadi pada setiap gradien ruang menuntut adanya suatu system thinking untuk memberikan rekomendasi dan solusi yang akan bermuara kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama pada upaya untuk lebih memajukan daerah perdesaan melalui ide-ide yang kreatif, cerdas, dan inovatif.

Prof. Dr. sc.agr. Iwan Rudiarto, S.T., M.Sc., merupakan Guru Besar ke-42 di Fakultas Teknik Undip. Total jumlah Guru Besar aktif Undip saat ini adalah 161 Guru Besar.