Sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber energi. Penggunaan Bahan Bakar Minyak secara terus-menerus dalam skala besar akan mengurangi ketersediaan cadangan minyak dunia. Efek penggunaan bahan bakar minyak ini banyak menimbulkan permasalahan. Selain akan menguras devisa negara akibat impor juga akan menimbulkan efek rumah kaca.

“Oleh sebab itu, permasalahan ini perlu diatasi yaitu dengan mencari bahan bakar alternatif yang dapat diperbaharui serta ramah lingkungan dan dapat mengatasi permintaan energi yang terus meningkat.” tutur Prof. Dr. Ir. Luqman Buchori, S.T., M.T., IPM. dalam pidatonya bertajuk “Inovasi Teknologi Produksi Biodiesel untuk Mendukung Kemandirian Energi di Indonesia” saat pelantikan menjadi Guru Besar, Kamis (16/06).

Dosen Fakultas Teknik ini mencanangkan bahan bakar alternatif dari energi baru terbarukan dalam risetnya, yakni biodiesel. Kelebihannya, bahan bakar nabati biodiesel ini diyakini akan menghemat devisa negara dan juga dapat mewujudkan kemandirian energi yang menjadi salah satu tolok ukur ketahanan nasional. Selain itu, biodiesel dapat menggantikan BBM jenis minyak solar tanpa memerlukan modifikasi pada mesin, serta dapat terdegradasi dengan mudah dan emisi pembakaran yang dihasilkan lebih ramah lingkungan.

Sejauh ini Pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan mandatori biodiesel, yakni  aturan penggantian secara bertahap energi solar fosil dengan biodiesel secara mandatori (wajib). Program mandatori biodiesel mulai diimplementasikan pada tahun 2008 dengan B2,5 yaitu kadar campuran biodiesel sebesar 2,5%. Kemudian, sejak 1 Januari 2020 program mandatori B30 mulai dilakukan dengan kadar pencampuran 30% biodiesel dan 70% minyak solar. Program ini, menurut Prof. Luqman, dinilai menjadi salah satu program prioritas nasional untuk mengurangi emisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil, khususnya di sektor transportasi.

Menariknya, saat ini biodiesel telah banyak diproduksi dengan skala besar. Bahkan, tahun 2022 produksi biodiesel sudah mencapai 10,15 juta kiloliter dengan menggunakan katalis homogen sebagai salah satu proses produksi. “Namun, kelemahan dari penggunaan katalis homogen ini adalah permasalahan pada proses pemisahan antara katalis dan produk,” imbuh Prof. Lukman.

Penggunaan plasma pada produksi biodiesel mampu mempersingkat waktu reaksi. Produksi biodiesel dengan menggunakan bantuan plasma tanpa katalis mampu menghasilkan rendemen biodiesel sebesar 75,65% dengan waktu reaksi 2 menit. Sedangkan, penggunaan plasma dengan katalis K2O/CaO-ZnO berhasil meningkatkan rendemen atau produk biodiesel menjadi 77,2% dan memperpendek waktu reaksi menjadi 1,25 menit.

Melalui fakta tersebut, dosen lulusan S3 Undip ini membuat terobosan dengan memanfaatkan limbah minyak goreng bekas (minyak jelantah) dan lemak dari kulit bebek sebagai bahan baku produksi biodiesel. Alasannya, minyak goreng sawit menghasilkan minyak jelantah sebesar 40-60%. Jika konsumsi minyak goreng sawit nasional tahun 2019 mencapai 16,2 juta kiloliter (KL) maka akan menghasilkan minyak jelantah sebesar 6,46 – 9,72 juta kiloliter. “Minyak jelantah ini berpotensi memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional,” jelasnya.

Sementara itu, penggunaan limbah lemak hewani yaitu lemak bebek sebagai bahan baku dan cangkang rajungan sebagai katalis mampu menghasilkan rendemen biodiesel sebesar 92,54% dengan kandungan esternya sebanyak 99,3%. Kemudian penggunaan limbah minyak nabati yaitu minyak goreng bekas dengan katalis tulang ayam mendapatkan rendemen biodiesel sebesar 97,56% dengan kandungan ester 96,06%.

Penggunaan katalis dari limbah padat geothermal dengan bahan baku minyak goreng bekas berhasil mendapatkan rendemen biodiesel cukup tinggi yaitu sebesar 98,23% dengan kandungan esternya sebesar 100%. Biodiesel yang dihasilkan juga sudah mampu memenuhi standar biodiesel. Penggunaan limbah sebagai bahan baku pembuatan biodiesel akan dapat mengurangi persaingan dengan minyak nabati maupun lemak hewani yang digunakan sebagai bahan pangan maupun kesehatan/farmasi.

Pada penelitian ini, Prof. Luqman bekerja sama dengan LPPM Undip dan Kemenristekdikti. Serta mempunyai beberapa manfaat bagi masyarakat, yakni mengenalkan dan mengajak masyarakat untuk menggunakan energi yang ramah lingkungan, serta mengatasi permasalahan limbah minyak goreng yang mencemari lingkungan. Dalam melaksanakan penelitian ini, Prof. Luqman mengaku mendapat dukungan dari peer grub bidang energi, mahasiswa bimbingan baik S1 maupun S2 dan Laboratorium Plasma-Catalysis Undip.

Prof. Luqman menyampaikan harapan agar inovasi yang ia hasilkan dapat mendukung program yang dicanangkan pemerintah. “Pengembangan potensi sumber daya alam baik digunakan sebagai bahan baku maupun katalis merupakan tantangan tersendiri bagi pengembangan produksi biodiesel. Inovasi teknologi produksi biodiesel ini diharapkan mampu mendukung program mandatori biodiesel yang dicanangkan oleh Pemerintah,” ungkapnya. Selain itu, ia berharap dengan dikukuhkannya menjadi Guru Besar Undip, ia dapat lebih memajukan Undip dan membawa nama Undip di kancah nasional maupun internasional dengan karya-karya nyata.

“Guru Besar bukan akhir dari segalanya namun menjadi penyemangat untuk bisa menghasilkan karya-karya yang lebih cemerlang dan bermanfaat bagi institusi, masyarakat, bangsa dan negara.” pungkasnya.

Prof. Dr. Ir. Luqman Buchori, S.T., M.T., IPM dikukuhkan menjadi Guru Besar ke-44 pada Fakultas Teknik Undip. Total jumlah Guru Besar aktif Universitas Diponegoro hingga saat ini adalah 161 orang. (Aslam-Tim Humas)