Sudah lebih dari 43 tahun Prof. dr. Sultana M.H. Faradz, PAK., Ph.D., mengabdi di Universitas Diponegoro (Undip). Sudah tak terhitung lagi dedikasi yang telah dia berikan. Tahun 2022 ini, menandai tahun dimana Prof. Sultana memasuki masa purna tugasnya.

Dalam rangka memberikan perhargaan dan penghormatan atas segala dedikasi dan jasa yang telah Prof. Sultana berikan, Undip menggelar Sidang Terbuka Purna Adi Cendekia pada Rabu (06/07) bertempat di Gedung Prof. Soedarto SH, Kampus Undip Tembalang. Kegiatan ini merupakan sebuah tradisi akademik yang diberikan Undip sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada Guru Besar yang telah memasuki masa purna tugas sebagai Aparatur Sipil Negara.

Prof. Sultana merupakan Guru Besar Ilmu Kedokteran PNS golongan IV E dengan peminatan ilmu Genetika Medik, yang lahir di Purbalingga pada 2 Februari 1952. Dia menikah dengan Prof. Dr. M. Hussein Gasem, Ph.D., Sp.PD-KPTI dan memiliki 3 orang anak.

Lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) pada tahun 1978, dilanjutkan pada tahun 1987 mendapatkan ijazah S2 Keahlian Histologi dari Undip dan gelar Ph.D dari University of New South Wales, Sydney Australia pada tahun 1998. Selanjutnya, sejak tahun 1979 diangkat menjadi PNS dan menjadi dosen Histologi FK Undip.

Pada tahun 1999, Prof. Sultana merintis berdirinya laboratorium Molekuler dan Sitogenetika di Fakultas Kedokteran dan sebagai dosen dalam genetika medik untuk mahasiswa pascasarjana Undip. Pada tahun 2003, dia dikukuhkan sebagai profesor ilmu kedokteran. Kemudian pada tahun 2006, dia memprakarsai pendirian program Magister Konseling Genetik “joint program/ degree” dengan beberapa universitas di luar negeri yang merupakan program pertama di negara ASEAN dan dia selanjutnya sebagai ketua program tersebut.

Sejak tahun 2007-2022, dia diangkat sebagai direktur Pusat Penelitian Biomedik / Center for Biomedical Research (Cebior) di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Pada tahun 2009 dia mendapat tugas sebagai Kepala Departemen Histologi. Selanjutnya pada tahun 2011-2015 dia menjabat sebagai Wakil Rektor Undip untuk bidang pengembangan dan kerja sama.

Memasuki tahun 1988 dan 1990, dia belajar Sitogenetika di Tottori University Jepang. Lalu pada tahun 1992, dia mengikuti pelatihan Sitogenetika Kanker di Prince of Wales Hospital Sydney Australia. Dilanjutkan pada tahun 1994-1998 dengan pendidikan S3 dibidang Genetika Medik di University of New South Wales, Sydney Australia.

Selama masa pendidikan S3, dia juga mengikuti beberapa kegiatan, yaitu pendidikan Genetika Klinis di Sydney Children Hospital (1994-1995), Epidemiologi klinis di School of Community Medicine UNSW Sydney (1995), sebagai research fellow di bidang Genetika Molekuler di Laboratorium Riset DNA, Ongwanada Resource Centre, Queen’s University Kingston Kanada (1996 dan 1997). Dia mengikuti research fellow post doctoral di Rumah Sakit AMC, Amsterdam (2000), Departemen Genetika Manusia, RUNMC Nijmegen (2000) dan MIND Institute di University of California, Davis (2002).

Kemudian pada tahun 2010, Prof. Sultana mendapatkan beasiswa Dikti untuk program Akademic Recharging di Murdoch Children Research Institute / University of Melbourne Australia selama 3 bulan. Pada tahun 2018 mendapat beasiswa PMDSU untuk supervisi mahasiswa S3 ke Melbourne Australia bekerja sama dengan supervisor dari MCRI / University of Melbourne dan tahun 2019 mendapat beasiswa Erasmus Mundus untuk Scientific Exchange di University de Poitiers Prancis selama 2 minggu.

Selain itu, pada tahun 2000 Prof. Sultana juga mendapatkan penghargaan Penulisan Ilmiah Program dari Direktorat Pendidikan Tinggi, untuk Penelitian Skrining Molekuler sindrom Fragile-X pada anak-anak dengan keterbelakangan mental (Am J Med Genet. 1999). Pada tahun 2005, dia mendapat penghargaan sebagai dosen berprestasi di Fakultas Kedokteran Undip.

Pada tahun 2008 dia dianugerahi sebagai ilmuwan terbaik pemrakarsa laboratorium genetik di Jawa Tengah dari Walikota Kotamadya Semarang dan pada tahun 2009 menjadi Finalis Australian Alumni dalam bidang Penelitian dan Inovasi dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta.

Prof. Sultana juga telah menerima penghargaan Achmad Bakrie dari Freedom Institute sebagai peneliti terbaik bidang Kedokteran pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2002, Prof. Sultana menerima Satyalancana karya satya untuk pengabdian sebagai PNS dan tahun 2011 menerima penghargaan Satya Lencana Kesetiaan, 25 tahun pengabdian sebagai staf pengajar di Undip. Selanjutnya, pada tahun 2013, 2015, dan 2016 Prof. Sultana menerima Pengharagaan Dosen Universitas Diponegoro dengan jumlah artikel ilmiah terindex Scopus tertinggi.

Disisi lain, Prof. Sultana juga aktif dalam mengikuti beberapa kegiatan. Tercatat sejak tahun 1994 dia menjadi anggota American Society of Human Genetics dan Human Genetics Australia dan sejak tahun 2012 dia menjadi anggota Asia Pacific Society of Human Genetics. Kemudian sejak tahun 2015 menjadi anggota Profesional Society of Genetic Counseling Asia (PSGCA) dan tahun 2021 menjadi anggota Educational Committee of Human Genom Organization (HUGO).

Pada tahun 2016 Prof. Sultana memprakarsai pengaktifan kembali Perhimpunan Genetika Manusia Indonesia atau Indonesian Society of Human Genetics (InaSHG) dan dinominasikan menjadi Presidennya sampai tahun 2021 dan sejak tahun 2021 menjadi presiden Indonesian Society of Genetic Counselor (ISGC).

Di tahun 2005-2011, dia menjadi anggota dari Dewan Riset Nasional. Kemudian sejak tahun 2009 dia menjadi anggota komite dari Asosiasi Dokter untuk teknik jaringan dan terapi sel dan anggota Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI). Sejak tahun 2013 menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahaun Indonesia (AIPI) dan pada tahun 2006-2021 sebagai Ketua team Penyesuaian Kelamin Rumah Sakit dr. Kariadi / FK Undip untuk penanganan pasien dengan kerancuan kelamin. Sejak tahun 2014 menjadi editor ketua pada Journal Biomedicine and Translational Reserach FK Undip.

Prof. Sultana tercatat telah mempresentasikan dan mempublikasikan hasil penelitiannya dalam konferensi dan lebih dari 90 artikel pada jurnal internasional dengan H-index 18. Selain itu, dia melakukan aktifitas penelitiannya untuk bidang Genetika Medik terutama dalam riset dan penanganan anak-anak dengan disabilitas intelektual, malformasi multipel kongenital dan kerancuan kelamin.

Dia telah berhasil mengusulkan ke BPOM melalui salah satu perusahaan obat untuk pembuatan asam folat murni (golongan vitamin B) sebagai pencegahan cacat tabung saraf pada bayi dalam kandungan. Sehingga sejak tahun 2002 penggunaan asam folat pada ibu hamil telah dapat disosialisasikan. Usulan untuk penyediaan Hydrocortison tablet untuk pengobatan kerancuan kelamin kepada Kementrian Kesehatan dan BPOM dapat direalisasikan pada tahun 2014.

Penelitian di daerah dengan banyak penderita disabilitas intelektual membuktikan gangguan intelektual menurun dan mengangkat Cebior Undip sebagai pusat riset dan diagnosis sindrom Retardasi Mental Fragile X Nasional. Penelitian gangguan perkembangan seks dan keberadaan team multi disiplin yang pertama di Indonesia secara solid dan sukarela menangani penderita kerancuan kelamin telah menjadikan Rumah sakit Dr. Kariadi sebagai pusat rujukan penderita kerancuan kelamin dan diundang dua kali pada acara Kick Andy di Metro TV.