Indonesia yang secara geografis berada di garis khatulistiwa menjadi sebuah negara yang memiliki keanekaragaman, termasuk berbagai kenampakan alam di darat maupun laut. Dengan banyaknya daerah pegunungan dan perairan menyebabkan Indonesia rawan terhadap bencana sehingga banyak studi terus dilakukan untuk penanggulangan bencana alam yang kerap terjadi.

Dengan latar belakang tersebut, International Office (IO) Universitas Diponegoro (Undip) bekerjasama dengan Pusat Kajian Mitigasi Bencana dan Rehabilitasi Pesisir Undip, BASARNAS dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menyelenggarakan acara “Magnificent Javanese Interdisciplinary Course (MEJIC) 2022”. Summer course MEJIC 2022 ini bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih lanjut kepada mahasiswa internasional terkait bencana alam yang terjadi di kota Semarang pada khususnya dan di Jawa Tengah pada umumnya.

Acara yang berlangsung pada tanggal 18-30 Juli 2022 ini diikuti oleh lebih dari 20 mahasiswa internasional dari berbagai universitas di Indonesia. Dalam pembukaan acara MEJIC 2022 pada Selasa, 19 Juli 2022 di Undip Inn Hotel, IO Undip menghadirkan dua pembicara yaitu Prof. Sudharto P Hadi, MES, Ph.D (Dosen FISIP Undip) dan Agus Haryono, S.S, MBA (Direktur Kesiapsiagaan BASARNAS).

MEJIC 2022 dibuka secara resmi oleh Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. Rektor Undip menyambut kedatangan para peserta MEJIC 2022 yang akan mengikuti summer course di Undip selama 2 minggu. “Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dilewati oleh ring of volcanoes membuat wilayahnya rawan terkena bencana seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor dan sebagainya. Short course ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan hasil studi terbaru dari berbagai bidang keilmuan untuk mengatasi bencana di Indonesia. Let’s discuss it well to save more lives in the future,” pungkas Prof. Yos dalam sambutannya.

Prof. Sudharto P Hadi, MES, Ph.D dalam materinya berjudul “Environmental Disaster in Coastal Area in Central Java” menjelaskan tentang banjir rob dan penurunan tanah, faktor yang mempengaruhi dan implikasi dari banjir, serta langkah-langkah yang diupayakan oleh pemerintah dengan warga setempat untuk menanggulangi bencana banjir.

Penanggulangan bencana dilakukan untuk meminimalisir kenaikan level air, udara, temperatur, hujan, dan badai tropis yang dapat mengakibatkan tenggelamnya daratan, banjir rob, berkurangnya hasil perairan, munculnya penyakit, banjir dan penurunan tanah, berkurangnya hasil pertanian serta kelangkaan pangan. Prof. Sudharto menyebutkan di kota Semarang dengan topografi dataran tinggi, dataran rendah, pegunungan dan pantai, upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi banjir antara lain pembangunan polder, penanaman pohon dan pengendalian air secara rutin.

Kemudian Agus Haryono, S.S, MBA menyampaikan materi bertema “Contingency Plan Mount Merapi Eruption”. Dalam manajemen bencana, BASARNAS melakukan risk management (kesiapsiagaan) dan crisis management (operasi). Khususnya untuk menangani bencana gunung meletus di Gunung Merapi yang masih aktif sampai saat ini, BASARNAS di bawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat perencanaan Cluster Planning yang bertempat di Jawa Tengah, di mana agendanya meliputi Cluster of Post Management, Cluster of Search and Rescue, Cluster of Facility, Cluster of Medical dan Cluster of Food Supply and Logistic.  

Untuk lebih memahami mitigasi bencana khususnya di Jawa Tengah, selain berpartisipasi dalam sesi diskusi dengan para narasumber, peserta MEJIC 2022 berkesempatan untuk mengunjungi desa Timbulsloko, Demak untuk mempelajari banjir rob serta dampaknya terhadap lingkungan. Para peserta juga akan mengunjungi Laboratorium Bencana milik Undip yang bertempat di Desa Gulon, Magelang untuk mengamati dampak dan mitigasi bencana letusan gunung berapi. (Titis – Public Relations)