Pemerintah telah berkomitmen pada tahun 2060 Indonesia dapat mewujudkan Net Zero Emission dan tengah menyusun sebuah roadmap untuk mencapai Net Zero Emission tersebut. Untuk mencapai realisasi Net Zero Emission, diperlukan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai wujud transisi energi menuju Net Zero Emission.

Dalam rangka mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT), Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (FT Undip) bekerja sama dengan PT. Indonesia Power telah menggelar Seminar Nasional dengan tema “Pengembangan Energi Baru Terbarukan sebagai Wujud Transisi Energi Menuju Net Zero Emission dalam Pembangunan Indonesia di Masa Depan” pada Rabu, 20 Juli 2022 pukul 08.15 WIB bertempat di Engineering Hall Lantai 5 Gedung Dekanat FT Undip Tembalang.

Acara kali ini turut dihadiri oleh Dekan FT, Wakil Dekan FT, para Ketua Departemen dan Ketua Prodi di lingkungan FT Undip, Direktur Utama PT. Indonesia Power beserta jajarannya, dan mahasiswa peserta seminar nasional.

Seminar nasional yang dimoderatori oleh Dosen Departemen Teknik Lingkungan Undip Dr. Ika Bagus Priyambada, S.T., M.Eng.Sc., ini mengundang tiga pembicara, antara lain Direktur Utama PT. Indonesia Power Dr. Ir. H. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU, Guru Besar Ilmu Lingkungan Undip Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph.D., dan Dosen Departemen Teknik Elektro/Kaprodi Magister Energi Undip Dr. Ir. Jaka Windarta, M.T., IPU, ASEAN Eng.

Dekan FT Undip Prof. Ir. Mochamad Agung Wibowo, M.M., M.Sc., Ph.D. saat membuka acara mengungkapkan seminar nasional ini merupakan wujud dari kolaborasi dan sinergi antara Perguruan Tinggi dengan kalangan industri yakni PT. Indonesia Power. “Dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Tri Dharma Perguruan Tinggi harus ditambah lagi dengan adanya networking, kolaborasi, atau sinergi. Seminar nasional ini menjadi titik awal bagi kita untuk saling berkolaborasi dan bersinergi.” ucap Prof. Agung.

Menurut Prof. Agung dengan adanya program MBKM, program magang di industri perlu lebih diperhatikan. “Jadi kita harus memberikan makna lebih bagi program magang di industri. Sekarang sumber ilmu sudah ada dimana-mana. Dengan adanya program MBKM, the driver is you, jadi mahasiswa harus membuat peta jalan karir sejak dini.” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Indonesia Power Dr. Ir. H. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU., dalam paparan materinya yang berjudul Strategi PT. Indonesia Power Dalam Transisi Energi dan Pengembangan EBT menuju Zero Emission Carbon Neutral 2060, mengungkapkan bahwa Pemerintah telah berkomitmen mengembangkan bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025 dan mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% pada tahun 2030 dan PT. Indonesia Power ikut melaksanakannya.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru pada tahun 2021 lebih dominan pada pengembangan EBT sampai 56%. PLN telah menyampaikan program karbon netral (CZN) pembangkit listrik pada tahun 2060 tidak ada lagi fossil base. PT. Indonesia Power sebagai anak perusahaan PLN telah membuat program transformasi dan transisi energi melalui inovasi dan green booster dengan program dediselisasi semua wilayah dengan berbasis energi lokal, cofiring substitusi batubara dengan biomass.

Lebih lanjut Ahsin Sidqi menjelaskan PT. Indonesia Power turut mendukung komitmen Pemerintah mengenai Net-Zero Emission. “Dalam rangka pertemuan G-20 pada bulan November 2022, PT. Indonesia Power telah menyiapkan beberapa program EBT dan show case untuk menunjukkan komitmen Pemerintah Republik Indonesia pada dunia.” jelasnya.

Perguruan Tinggi dan civitas akademika dapat mencermati dan mengambil peran yang strategis dalam kebijakan dunia menekan emisi karbon dan pengembangan EBT. Dengan proses pengembangan EBT, Ahsin Sidqi mengajak Undip untuk turut aktif dalam penelitiannya. “Nanti Undip bisa bekerja sama dengan kita, sebagian research-nya bisa kita titipkan disini. Saya yakin Undip sangat siap.” pungkasnya.

Guru Besar Ilmu Lingkungan Undip Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph.D., dalam paparan materinya yang berjudul Mengembangkan Energi Berkelanjutan dan Berkeadilan, menjelaskan bahwa dalam pengembangan EBT akan menghadapi sebuah masalah yakni dalam sisi ekonomi akan sulit di capai karena masih tergolong mahal. Tetapi bila tetap melanjutkan pemakaian energi fosil, dampak sosial dan lingkungan secara ekonomi juga sangat mahal.

Prof. Sudharto menambahkan ada dua cara yang dapat dilakukan dalam menghadapi persoalan energi. “Menghadapi persoalan energi ada dua hal yang bisa dilakukan, pertama adalah mengembangkan EBT, dan yang kedua melaksanakan efisiensi energi.” tambahnya. Dalam kesempatan ini pula, Prof. Sudharto turut memberikan saran dan masukan pada Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tengah dibuat oleh Pemerintah.

Selain itu, Dosen Departemen Teknik Elektro/Kaprodi Magister Energi Undip Dr. Ir. Jaka Windarta, M.T., IPU, ASEAN Eng., dalam paparan materinya menjelaskan bahwa penggunaan energi fosil yang selama ini menjadi tumpuan dunia telah terbukti berkontribusi menpercepat laju pemanasan global.

“Laporan khusus dari Interngovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2018 bahkan dengan tegas menyatakan perlu dilakukan transformasi energi secara cepat dan besar untuk mencegah kenaikan suhu bumi ditingkat 1,5C. Untuk membatasi kenaikan tersebut, perlu dilakukan penurunan emisi tahunan. Sektor energi memiliki peranan penting dalam penurunan emisi tersebut.” jelas Jaka Windarta.

Menurut Jaka Windarta, ada banyak potensi EBT yang bisa dikembangkan di Indonesia, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), Pembangkit Listrik Tenaga Surya, Pembangkit listrik Tenaga Bayu (PLTB), dan Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi.

Dalam mencapai target Net Zero Emission, Pemerintah tengah menerapkan lima prinsip utama, yakni peningkatan pemanfaatan EBT, pengurangan energi fosil, kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan indistri, dan pemanfaatan carbon capture and storage (CCS).

“Dalam hal energi, terdapat beberapa kebijakan yang dapat dilakukan untuk mendukung Net Zero Emission, yaitu penurunan intensitas energi (efisiensi energi), EBT, dan transisi ke kendaraan listrik. Komitmen dan kolaborasi multipihak diperlukan untuk merencanakan pembangunan Net Zero Emission Indonesia.” pungkas Jaka Windarta.