Farhan Gimnastiar Maslihan (Mahasiswa Sekolah Vokasi, D-4 Teknologi Rekayasa Kimia Industri), Tatia Ambar Inugrah (Fakultas Sains dan Matematika, S1 Kimia) dan Eva Noor Fitriana (Fakultas Teknik, Perencanaan Wilayah dan Kota) yang mana ketiganya adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Diponegoro yang berprestasi di bidang kesenian, khususnya puisi. Mereka akan mewakili Peksimida XVI Jawa Tengah 2022, Farhan tangkai baca puisi (Putra), Tatia tangkai baca (putri), dan Eva tangkai penulisan sastra (puisi). Selamat berjuang mahasiswa Undip.

Tatia menuturkan awal mula jatuh cinta pada puisi  saat sekolah dasar, ketika itu ditawari untuk mengikuti lomba baca puisi. Kemudian berlanjut sampai SMP, SMA hingga kuliah semakin suka pada puisi. Baginya puisi semacam media mencurahkan apa yang ada di hati serta mengelola emosi  saat sedih  dan bahagia dapat diungkapkan melalui puisi.

“Untuk ajang kompetisi, waktu SD dan SMP pernah menang cipta dan baca puisi, SMA menang lomba baca puisi selanjutnya saat kuliah menang di tingkat fakultas dan Event Diponegoro Art Comptetion atau DAC. Selain membaca puisi, sebenarnya saya suka menulis puisi juga tetapi saya simpan saja. Puisi favorit saya karyanya Chairil Anwar sama Taufiq Ismail” ungkapnya

“Melalui pendidikan kita bisa tahu tentang  banyak hal yang sebelumnya belum kita ketahui, belajar berbagai hal yang bermanfaat bagi kita sendiri, orang lain ataupun saat sudah berada di dunia kerja yang akan kita tekuni. Dalam organisasi kita belajar sofskill dan mendapatkan ilmu lain, pengalaman,  pengetahuan baru, selain itu belajar bagaimana bekerja sama dengan tim. Undip sangat support terhadap kegiatan-kegiatan mahasiswa maupun organisasi mahasiswa, termasuk memberikan penghargaan pada kegiatan akademik dan non akademik” terangnya Tatia.

Sementara Farhan juga mengatakan sejak SD sudah mengikuti kegiatan kesenian, yakni teater dan menjadi masa awal mengikuti lomba puisi juara I tingkat kota. Di tingkat SMP menjadi juara 3 Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional, lalu tingkat SMA menjadi juara  sampai di tingkat provinsi Jawa Barat. Saat SMP selain bidang puisi,  ia juga pernah menjuarai lomba tari kreasi baru serta berkecimpung di paduan suara. Penyair favoritnya adalah Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damano.

“Sejak lahir kita sudah bergerak, ketika kita bergerak, kita telah menggunakan yang namanya seni. Bagi saya setiap pergerakan adalah seni. Mendalami puisi membuat saya memiliki rasa empati terhadap orang-orang, tidak hanya mengolah vocal tetapi mengolah rasa juga” ujarnya.

“Undip memfasilitasi dan sangat mendukung  kegiatan-kegiatan kesenian, seperti Diponegoro Art Copetition dan persiapan untuk Pekan Seni Mahasiswa Daerah atau Peksimida. Undip tidak hanya mengasah kemampuan mahasiswa di bidang akademik saja tetapi juga mengasah kemampuan mahasiswa di bidang non akademik.  Artinya Undip mengapresiasi semua kegiatan mahasiswa.” Lanjut Farhan.

Baginya pendidikan dan organisasi tidak hanya mengasah hard skill dan soft skill saja, selain berpendidikan mahasiswa harus bisa bersosialisasi dengan orang lain, belajar mengatur waktu, dan menambah relasi penting dalam berorganisasi. Mencari ilmu tidak hanya tentang pelajaran tetapi dari berbagai sudut pandang baik bergorganisasi maupun berkesenian. Menurut Farhan yang harus diingat bahwa niat kuliah adalah untuk menuntut ilmu sehingga kesempatan tersebut harus digunakan sebaik sebaik mungkin karena kesempatan tidak datang dua kali. Apalagi masuk atau diterima di Undip bukan hal yang mudah.

Sedangkan Eva menyampaikan mulai mencintai puisi dari SD, menurutnya saat kecil ia adalah anak yang tidak suka bersosialisasi  sehingga sering menuliskan  perasaan di dalam hati di kertas-kertas. Tulisan-tulisannya semacam mencurahkan unek-unek di buku harian. Selanjutnya di masa SMA ia fokus menulis puisi dan mengikuti ajang seleksi penulisan puisi. Kelas 1 SMA mendapat juara 2 lomba cipta puisi tingkat nasional.

“Banyak puisi yang saya tulis berdasarkan apa yang saya rasakan dan terjadi dalam kehidupan bagi saya menulis adalah sebuah kebahagiaan. Penyair favorit saya Sapardi Djoko Damono, Bambang Sadono, serta Joko Pinurbo.  Memasuki bangku perkuliahan, saya mengembangkan diri di kepenulisan karya ilmiah dan aktif mengikuti lomba-lomba essai, ini bagian dari strtegi agar  akademik dan non akademik dapat seimbang” katanya.

“Organisasi mengasah kemampuan bersosialisasi sebagai bekal untuk nantinya kita bekerja sama di perusahaan maupun intitusi tempat bekerja. Tetapi kita tidak bisa menyamaratakan pilihan setiap orang, apakah mereka mau beroganisasi atau tidak karena mungkin ada orang yang mengejar kuliah memang fokus pada akademik. Namun ada yang akademik berjalan baik dan beroorganisasi juga berjalan karena kemampuannya membagi waktu serta keinginan mengasah segala potensi yang ada dalam dirinya. Jadi kita mesti mengenai diri kita sendiri agar yang menjadi prioritas sampai pada tujuan. Harapannya semoga Undip semakin maju, prestasi di segala bidang serta penelitiannya meningkat bahkan mampu menciptakan maestro-maestro kesenian yang lahir dan tumbuh  dari Undip. Kita harus bangga menjadi kebanggaan universitas” pungkasnya.  (Lin-Humas)