Senat Akademik Universitas Diponegoro menggelar presentasi calon guru besar, Jati Utomo Dwi Hatmoko, S.T., M.M., M.Sc., Ph.D (Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil), Selasa (25/9).

Dalam presentasinya yang berjudul Pengelolaan Risiko Konstruksi Melalui Transformasi
Digital, ia menyampaikan industri konstruksi dikenal mempunyai kompleksitas dan risiko yang tinggi, dan hingga kini secara global masih didera berbagai permasalahan klasik yang menghambat efisiensi proses kontruksi, antara lain: keterlambatan penyelesaian proyek (delay), pembengkakan biaya (cost overrun), kualitas pengerjaan rendah, tingkat keselamatan rendah, dan lain-lain. Permasalahan tersebut dapat terjadi karena tidak berbagai risiko proyek dengan baik, sehingga berdampak keberhasilan pelaksanaan proyek. Di sisi lain kebutuhan pembangunan infrastruktur yang tinggi membutuhkan terobosan metode dan teknologi inovatif yang mampu menjawab tantangan pengelolaan risiko yang efektif agar pembangunan infrastruktur dapat terselenggara dengan cepat, sesuai dengan target biaya, mutu yang baik dan berkelanjutan.

“Risiko akan selalu menyertai proyek konstruksi di sepanjang projek life cycle, mulai dari tahapan perencanaan, kontruksi, sampai tahap pasca kontruksi.  Pengelolaan risiko yang dilakukan selama ini dipandang masih bersifat statis dan tradisional, sedangkan perkembangan teknologi membuat proyek konstruksi semakin kompleks dan dinamis, serta dituntut visualisasi yang memudahkan komunikasi antarpemangku kepentingan proyek. Transformasi digital merupakan keniscayaan bagi industry konstruksi di masa mendatang. Implementasi Building Information Modeling (BIM) sebagai perwujudan transformasi digital yang utama memungkinkan tersedianya platform digital bagi para pemangku kepentingan proyek untuk dapat bekerja bersama dan berkoordinasi secara real time dalam proses konstruksi dan mengelola risiko-risiko konstruksi lebih efektif” terang Jati Utomo.

Lebih lanjut ia mengatakan kesiapan transformasi digital BIM di Indonesia yang diukur dengan menggunakan empat elemen utama meliputi organisasi, manajemen, sumber daya manusia, dan teknologi menunjukkan nilai rata-rata Company Readiness Index (CRI) sebesar 76,19%, yang mengindikasikan kesiapan untuk implementasi BIM. Namun demikian implementasi transformasi digital di Indonesia dipandang masih menghadapi kendala, antara lain kendala pada kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur teknologi digital, investasi dan biaya yang tinggi, kurangnya komitmen top manajemen, dan kurangnya sosialisasi, edukasi dan pelatihan. (Lin-Humas)