Site icon Universitas Diponegoro

Apriyani Nurul Hidayah (Mahasiswa FPP UNDIP): Hidup Itu Pilihan, Tujuan dan Capaian pun Berbeda

“Saya bersyukur karena di Universitas Diponegoro ini saya bisa bertemu dengan orang-orang yang mempunyai semangat belajar yang tinggi, rasa penasaran yang tidak pernah berhenti, dan para tenaga pendidik yang banyak memberikan ilmu. Selain itu saya masih diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di pesantren juga, bagi saya semua proses yang saya lalui adalah sesuatu yang akan selalu saya syukuri seumur hidup, walaupun untuk mengatur waktunya memerlukan usaha yang maksimal” tutur Apriyani Nurul Hidayah, mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, beswan Karya Salemba Empat (KSE).

Selain menjadi beswan KSE, belajar di pesantren, penelitian, saat ini Apriyani magang di SEAMEO Biotrop, Bogor. Sedangkan salah satu kompetisi yang pernah ia ikuti adalah menjadi peserta yang lolos pada event Implementasi Technology For Indonesia yang pesertanya dari penerima beasiswa KSE se-Nusantara (2022).

“Event tersebut diselenggarakan di Bogor selama 10 hari, saya berkolaborasi dengan Ariya Permana Putra dari program studi Teknik Elektro. Di sana kami merancang teknologi dan mengimplementasikannya ke masyarakat. Pada bulan Agustus lalu saya juga bersama 2 rekan meraih juara 3 dalam ajang lomba Kreasi Inovasi Masyarakat (Krenova) yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Semarang. Pada kedua event tersebut kami membawa ide yang sama yaitu Slow Maturation Box: Alat Penunda Kematangan Buah menggunakan Oksidator Kalium Permanganat (KMnO4) melalui Sistem Deteksi Sensor TCS3200. Saat ini alat tersebut sudah kami serahkan kepada paguyuban KSE IPB sebagai tuan rumah ajang TFI 2022”

“Hidup itu pilihan, yang ingin dicapai dan tujuannya pun berbeda.  Pendidikan dan berorganisasi itu memang penting, akan tetapi capaian yang ingin saya raih tidak harus menjadi ukuran untuk orang lain. Mungkin di sini saya lebih menekankan pada skala prioritas serta tujuan. Karena sebenarnya organisasi itu wadah untuk berkembang. Misalnya ketika kita merasa public speaking kita kurang, silahkan untuk mencari wadah untuk mengembangkan itu. Tapi kalau diri kita merasa skill-skill yang menjadi standar diri sendiri sudah dipenuhi, kita bisa memilih untuk tidak mengkuti organisasi. Ini lebih ke kebutuhan kita, karena akan berdampak pada skala prioritas. Contohnya lagi, ketika kita sadar bahwa untuk bisa diterima kerja dengan posisi yang lebih tinggi harus memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun, silahkan untuk mencoba magang di berbagai perusahaan selama kuliah” ungkapnya. (Lin-Humas)

Exit mobile version