Semarang – Jawa Tengah (16/11). Desa Turunrejo Kecamatan Brangsong dan Desa Kumpulrejo Kecamatan Kaliwungu adalah dua desa di Kabupaten Kendal yang memiliki potensi pengembangan ternak  itik. Pemeliharaan itik, baik itik petelur maupun pedaging sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat, akan tetapi saat ini produktivitasnya rendah akibat harga pakan yang mahal serta dilarangnya penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan. Dua hal ini menjadi penyebab menurunnya pendapatan peternak. Melihat permasalahan di lapangan ini, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang menerjunkan Tim untuk melakukan pendampingan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertemakan Pendampingan Peternak dalam Aplikasi Sinbiotik dan Produksi Makanan Beku Asal Itik untuk Meningkatkan Pendapatan Peternak Itik di Kabupaten Kendal pada Minggu (13/11). Kegiatan Penguatan Komoditi Unggulan Masyarakat ini sebagai salah satu wadah untuk mendesiminasi hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan bentuk kepedulian Universitas Diponegoro terhadap lingkungan sekitar.

Tim pengabdian diketuai oleh Istna Mangisah, S.Pt., M.P. dan direncanakan akan dilaksanakan selama dua tahun. Tahun pertama kegiatan dititikberatkan pada pelatihan kepada peternak itik dalam memproduksi pakan murah berbasis limbah dan kaya sinbiotik. “Sinbiotik merupakan kombinasi probiotik dan prebiotik yang memberi manfaat besar terhadap produktivitas itik karena dapat memperbaiki mikroflora usus dan memacu pertumbuhan bakteri menguntungkan, meningkatkan ketahanan tubuh, menurunkan mortalitas dan memperbaiki kesehatan ternak serta memperbaiki performan unggas (ayam, itik, puyuh)” papar Istna Mangisah, di hadapan para peternak itik di Desa Turunrejo dan Kumpulrejo. Dijelaskan lebih lanjut oleh Istna bahwa pemberian sinbiotik memiliki efek yang lebih baik dibandingkan pemberian probiotik dan prebiotik secara terpisah, karena substrat spesifiknya tersedia untuk fermentasi.

Di samping pelatihan pembuatan sinbiotik yang murah dan mudah, dilakukan juga pelatihan formulasi ransum berbasis bahan pakan limbah, baik dari limbah pertanian, limbah industri maupun limbah rumah tangga. Ransum yang murah diperoleh dengan memanfaatkan potensi bahan lokal dan limbah yang ada. Untuk itu peternak juga diberikan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga untuk budidaya maggot.  Maggot merupakan larva dari lalat hitam BSF, yang kandungan proteinnya tinggi (mencapai 38%) dan dapat diberikan kepada ternak unggas.  “Sampai saat ini, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa maggot aman digunakan sebagai campuran pakan untuk ternak unggas, karena lalat BSF bukan vector pembawa penyakit” Jelas Prof. Dr. Ir. Vitus Dwi Yunianto B.I., M.S, M.Sc., salah satu guru besar Undip yang terlibat aktif dalam kegiatan ini.

Tim Pengabdian juga telah menyerahkan bantuan berupa pakan itik sebanyak 6 kuintal, sinbiotik 20 L, bibit maggot (telur) sebanyak 120 gram, dan seperangkat peralatan untuk budidaya maggot. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memberi kontribusi untuk meningkatkan produktivitas ternak, penyediaan pangan hewani yang sehat dan juga meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan.