Menurut Dr. Kartika Sari Dewi, S.Psi., M.Psi., Psikolog., Dosen Psikologi Universitas Diponegoro, keluarga merupakan relasi pertama dan terpenting, yang berperan krusial dalam menentukan kesehatan mental individu dan kesejahteraan keluarga. Teori Struktur Keluarga menjelaskan bahwa keberadaan ayah, ibu, dan anak merupakan struktur ideal yang menunjang keberfungsian keluarga untuk meraih kesejahteraannya (family well-being). Keberfungsian keluarga yang dapat mengakomodasi kebutuhan dasar dan coping anggotanya dalam melakukan penyesuaian dari tuntutan diri dan lingkungan dianggap sebagai indikator kesejahteraan keluarga.

Lebih lanjut, Dr. Kartika menyatakan realita menunjukkan terjadinya pergeseran tren struktur keluarga hampir di seluruh dunia dalam lima dekade terakhir akibat berkembangnya konsep orangtua tunggal, yang salah satu sebabnya adalah perceraian. Fenomena perceraian di Indonesia setiap tahun terus meningkat, yang berdampak pada peningkatan jumlah keluarga ibu tunggal. Dampak perceraian tidak hanya dirasakan oleh ibu, namun juga diyakini mempengaruhi kesejahteraan anak. Di sisi lain, Teori Sistem Keluarga (FST) memahami perceraian bukan sebagai kondisi patologis pada kehidupan keluarga, namun merupakan transisi dalam perkembangan keluarga.

“Penelitian yang saya angkat merupakan pengembangan mendasar dalam Teori Sistem Keluarga (FST),  yang sebelumnya hanya menjelaskan bahwa kualitas interaksi dalam keluarga merupakan inti dari keluarga untuk dapat tetap menjalankan keberfungsiannya. Belum terjelaskannya bagaimana pola dinamika keberfungsian keluarga berstruktur tidak utuh dalam kesejahteraannya menjadi dasar penyusunan disertasi ini. Argumennya, bahwa kesejahteraan keluarga tetap dapat diraih oleh keluarga berstruktur tidak utuh akibat perceraian. Dua studi yang dilakukan berusaha memberikan penjelasan bahwa bukan struktur keluarganya yang jadi kunci suatu keluarga itu bisa bahagia, namun bagaimana kualitas interaksi antar anggotanya. Kekhasan penelitian ini ada pada sudut pandang ibu-anak sebagai unit sistem keluarga yang mengalami perubahan struktur pasca perceraian” terang Dr. Kartika.

Studi pertama mengungkapkan gambaran kesejahteraan ibu tunggal pasca perceraian yang merupakan kepala keluarga, serta faktor-faktor internal yang mendukung dalam menghadapi tantangan pasca perceraian. Studi kedua lebih berfokus pada dinamika interaksi keluarga, dukungan sosial, dan peran ayah pasca perceraian dalam menghadapi tantangan keluarga yang tidak utuh agar dapat meraih kesejahteraan. Kedua studi ini menggunakan perspektif metode kualitatif, yang mengutamakan kedalaman data dalam memahami kondisi psikologis ibu dan anak, pasca perceraian ibunya.

“Bukti empiris mengungkapkan bahwa keluarga bercerai dapat memperoleh kesempatan mencapai kesejahteraannya ketika memiliki kondisi penyangga protektif berupa kemandirian finansial ibu, keterbukaan dalam interaksi dan relasi positif antara ayah-anak, proaktif dalam mencari dukungan sosial, dan spiritual positif pada ibu. Konsep maternal gatekeeping memegang peran kunci dalam kualitas interaksi keluarga pasca perceraian.

Temuan lain juga mengungkap bahwa peran ayah pasca perceraian tetap dibutuhkan dalam menyediakan relasi positif bersama anak. Meskipun demikian, perceraian ternyata tetap membawa dampak psikologis pada anak terkait dengan makna keluarga, skema gender, perbedaan persepsi terhadap dukungan keluarga besar, dan timbulnya Adverse Chilhood Experiences (ACE).” jelas Dr. Kartika. (Lin-Arbi/Humas)

Share this :