Setelah sebelumnya berhasil mengembangkan ADA-KAMI (Adsorben Abu Sekam Padi) sebagai solusi produksi bahan bakar etanol. Kini, ketiga mahasiswa Teknik Kimia Undip kembali berhasil mengembangkan MER-C (Membrane Separation & Catalyst) yang berasal dari limbah serbuk marmer untuk produksi biodiesel pengganti bahan bakar jenis solar yang ramah lingkungan. Tiga mahasiswa tersebut adalah Misbahudin Alhanif, Ari Purnomo dan Ummi Az Zuhra dengan dosen pembimbing Prof. Dr. Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T.

Ketua tim PKM Mer-C Misbahudin Alhanif mengemukakan bahwa kebutuhan bahan bakar diesel yang semakin meningkat menyebabkan tingginya jumlah impor solar. Disisi lain, bahan bakar alternatif pengganti solar yakni biodiesel masih terbatas penggunaannya. Hal tersebut dikarenakan dalam produksi biodiesel tidak digunakan proses yang sederhana, memerlukan konsumsi energi yang tinggi. Hal ini menyebabkan harga biodiesel 2 kali lebih mahal dibandingkan solar.

“Berdasarkan pertimbangan proses produksi, konsumsi energi dan harga jual biodiesel yang tinggi, maka dikembangkan metode sederhana pembuatan dan pemurnian biodiesel dengan memanfaatkan bahan baku limbah minyak jelantah menggunakan membran yang berasal dari limbah serbuk marmer. Membran adalah lapisan tipis yang biasanya digunakan dalam pemurnian air,”ujarnya.

Berbeda dari penelitian sebelumnya, produksi biodiesel dengan menggunakan membran limbah serbuk marmer dapat dilakukan secara kontinyu dan simultan. Hal ini akan meningkatkan jumlah biodiesel yang dapat diproduksi hingga diperoleh biodiesel dengan harga yang murah. Selain itu, proses pembuatan biodiesel dengan menggunakan teknologi membran sangat sederhana yaitu dengan memanaskan campuran minyak jelantah dan metanol disertai penyaringan selama proses berlangsung hingga diperoleh biodiesel. Sehingga sebenarnya masyarakat dapat menghasilkan biodiesel sendiri dirumahnya dengan memanaskan minyak jelantah dan alkohol (metanol) dengan menggunakan membran Mer-C ini.

“Pada penelitian ini, limbah serbuk marmer yang berasal dari industri pengrajin marmer kabupaten Tulungagung. Kandungan CaO yang tinggi (60%) dari limbah serbuk marmer menjadi potensi yang besar untuk dijadikan katalis basa dalam pembuatan membran. Selain itu, bahan baku pembuatan biodiesel juga berasal dari minyak jelantah (minyak sisa penggorengan) yang selama ini hanya menjadi limbah yang sulit ditangani,”tambahnya.

“Kami berharap inovasi baru yang telah berhasil mendapatkan dana hibah penelitian Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian dari Kemenristekdikti tahun 2018 ini dapat menjawab permasalahan produksi biodiesel sebagai bahan bakar pengganti solar yang ramah lingkungan sehingga biodiesel dapat diproduksi dengan metode yang sederhana, konsumsi energi yang rendah dan memiliki harga jual yang mampu bersaing dengan bahan bakar fosil serta memanfaatkan lebih lanjut limbah serbuk marmer dan minyak jelantah yang masih minim pemanfaatannya,”tutupnya.

Lebih lanjut : (Misbahudin Alhanif/082282982551)