Minat mahasiswa Undip untuk terjun ke dunia bisnis dan usaha semakin meningkat. Hal itu ditandai dengan banyaknya mahasiwa yang hadir pada acara Ngobrol Bisnis Bersama Alumni yang digagas oleh Direktorat Komunikasi dan Hubungan Alumni Undip bekerja sama dengan Klinik Kewirausahaan dan Inkubator Bisnis (KKIB) Undip dan BEM Undip bertempat di Gedung Kewirausahaan FEB Undip Tembalang, Sabtu 26 Mei 2018.

“Para mahasiswa yang akan terjun dalam dunia usaha sebagai wirausaha akan sangat baik jika mendapat pendampingan dan mentor langsung dari para alumni, sehingga peluang sukses semakin tinggi. Berbeda jika para mahasiswa tidak mendapatkan pendampingan, maka akan banyak kendala yang dihadapi yang tidak tahu jalan keluarnya” tutur Direktur Komunikasi dan Hubungan Alumni Undip, Mujid F Amin dalam sambutan pembukaan acara tersebut.

Hadir sebagai narasumber alumni senior Ir. Murti Wibowo, pengusaha properti sekaligus pemiliki hotel Dalu, yang memaparkan pengalaman memulai bisnis di Kota Semarang. Paparan kedua disampaikan oleh Roy Wibisono AP, S.Si, pemilik PT Nanya Porcelain Indonesia. Roy menekankan perlunya calon wirausaha untuk fokus pada bisnis yang akan ditekuninya. Lebih bagus lagi jika bisnis yang ditekuninya merupakan kombinasi bakat dan soft skill yang diperoleh selama kuliah. Dalam sesi tanya jawab yang dipandu Wakil Direktur Komunikasi dan Hubungan Alumni, Abdul Syakur, ada 3 mahasiswa yang sudah memiliki usaha mandiri. Rizal, mahasiswa Teknik Sipil semester 6 ini memiliki Ruko untuk mengembangkan usaha konveksi. Usaha yang telah dirintis sejak duduk di sekolah SMP ini sampai saat ini masih terus ditekuninya, dengan omzet bisa mencapai 200 juta per bulan. Namun Rizal mengaku sedang galau, karena bisnis yang ditekuninya tidak sesuai dengan program studi kuliahnya yaitu di Teknik Sipil. Rizal minta pendampinga alumni, agar bisnisnya tetap jalan, namun cita-cita sebagai insinyur Sipil bisa tercapai. Murti Wibowo memberikan tips untuk Rizal, agar bisnis konveksinya terus berkembang salah satunya dengan mengangkat karyawan dengan sistem bagi usaha 70:30. Dengan demikian bisnis konveksi terus jalan, sementara Rizal bisa menekuni bidang Konstruksi.

Mahasiswa lainnya, Rofiq dari Teknik Elektro yang memiliki hobi dalam bidang Robot, telah merintis usahanya sejak terjun mengikuti kompetisi robot tingkat nasional tahun 2014. Robot-robot yang dibuatnya jenis robot line-follower ini banyak diminati dari beberapa perguruan tinggi lain, bahkan banyak juga peminatnya dari sekolah SMP dan SMA. Meskipun bisnis Robotnya terus bertambah, namun Rofiq sedang galau, karena keinginan dan cita-cita orang tuanya, meminta agar Rofiq menjadi guru atau dosen. Sementara Rofiq sendiri bercita-cita jadi bos, memiliki perusahaan. Rofiq ingin mendapatkan pendampingan dari para alumni agar bisnis yang sudah dirintisnya terus jalan, di sisi lain cita-cita orang tuanya juga tercapai. Atas kegalauan yang dialami Rofiq, alumni senior Murti Wibowo bersedia menjadi penyedia modal. Pengembangan bisnis robot dengan mengangkat beberapa karyawan. Murti melihat peluang bisnis robot ini masih sangat prospektif.

Mahasiswa ketiga, dari Prodi Siskom, sudah merintis usaha kuliner. Usahanya sudah berjalan dan memiliki dua cabang. Namun akhir-akhir ini mengalami kendala, omset menurun, karena anak buahnya / karyawannya susah dikendalikan. Sementara akan ditegur, tidak enak hati atau ewuh pekewuh. Atas permasalahan yang dihadapi itu, Murti Wibowo memberikan tips agar sebagai pemilik usaha bersikap tegas dan bisa membedakan antara bisnis dengan amal. “Bisnis is Bisnis. Amal is Amal” demikian tuturnya.

Sesi kedua dilanjutkan dengan narasumber Ir. Ahmad Basuki pemilik PT CMS dan Ir. Yudy Andaru, Direktur PT Tugu Beton. Dalam sesi kedua ini, para alumni memberikan peluang kepada para mahasiswa yang belum memiliki usaha, untuk bergabung dengan perusahaan milik alumni. Basuki menawarkan pekerjaan pemeliharaan mesin-mesin produksi, dengan area kerja Jawa Tengah. Mahasiswa diberikan kemandirian untuk bekerja di perusahaan alumni, sekaligus memperoleh pendampingan. Dengan demikian program pendampingan yang ditawarkan tidak hanya bersifat Bottom Up namun juga bersifat Top Down. Peserta yang hadir diminta untuk membuat bisnis plan dalam satu bulan ini, yang akan direview oleh para alumni. Bulan depan akan dilakukan wawancara dengan para calon wirausaha yang sudah memiliki rencana bisnis yang matang.

Mujid F Amin selaku Direktur Komunikasi dan Hubungan Alumni berjanji akan mengundang kembali para mahasiswa yang sudah hadir tersebut untuk mempresentasikan rencana bisnis di hadapan alumni. Rencana kegiatan itu akan dilaksanakan setelah lebaran. Agar rencana bisnis tersebut, bisa segera dilaksanakan