Perkembangan zaman membawa dampak bagi perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu sejarah. Perkembangan ilmu sejarah tidak bisa dilepaskan dari peran para akademisi  sebagai pengembang ilmu. Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum., selaku ketua Departemen Sejarah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan strategi-strategi pengembangan keilmuan dalam menghadapi tantangan di era modern saat ini.

“Ketua Departemen bertugas mengelola sumber daya manusia yang berada di bawah Departemen Sejarah yang menyelenggarakan tiga program studi, yaitu S1 Sejarah, S2 Sejarah, dan S3 Sejarah. Oleh karena itu, para dosennya harus memenuhi kualifikasi untuk penyelenggaraan program studi tersebut. Para dosen harus memutakhirkan pengetahuannya sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan sejarah melalui pendidikan dan pelatihan, misalnya Studi S3 bagi yang belum S3, keikutsertaan dalam workshop atau seminar,  penelitian dan publikasi ilmiah baik pada level nasional maupun internasional, serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat” tuturnya.

Menurutnya kurikulum Program Studi disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tuntutan masyarakat dan pasar kerja, dan teknologi informasi. Sebagai contoh, untuk Program Studi S1 Sejarah terdapat mata kuliah Manajemen Warisan Budaya, Manajemen Pariwisata, Sejarah Terapan, Jurnalisme Sejarah, Sinematografi Sejarah, dan Manajemen Aset Sejarah yang diharapkan dapat melengkapi kompetensi mahasiswa dengan ketrampilan yang lebih bersifat praktis dan  dibutuhkan oleh pasar kerja.  Dengan ketrampilan tersebut, para lulusan disiapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi dapat membuka atau menciptakan lapangan kerja atau bekerja mandiri. Penggunaan teknologi informasi untuk pembelajaran sejarah dan pemanfaatan teknologi informasi untuk pengembangan disiplin sejarah juga penting dilakukan agar mahasiswa tidak gaptek dan memiliki kompetensi dan ketrampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.

Sejarah tidak cukup dihafalkan dan dimengerti secara tekstual, namun perlu dihayati maknanya sehingga dapat memengaruhi dan membentuk sikap dan perilaku. Para dosen Departemen Sejarah melakukan sosialisasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat kepada para siswa SMA.  Para dosen yang mendapatkan kesempatan menjadi narasumber atas undangan para pihak  di luar UNDIP juga menjadi “juru bicara” atau agen untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda milenial, bahwa belajar sejarah itu penting dan menyenangkan.

“Upaya ini tidak mudah karena adanya stigma yang berkembang pada masyarakat bahwa belajar sejarah itu membosankan. Sebenarnya para guru pada jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA-lah yang memiliki peran penting dalam hubungan dengan penumbuhan kesadaran generasi muda milenial tentang arti penting sejarah bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kompetensi guru, penggunakan metode dan media pembelajaran sejarah yang tepat dapat mengubah stigma negatif tersebut, sehingga tujuan pembelajaran sejarah dapat dicapai.  Artinya, sejarah tidak hanya untuk dihafalkan, tetapi dimaknai untuk mendapatkan nilai-nilai dan kearifan yang sangat penting dalam pembentukan sikap dan perilaku” terangnya.

Ilmu Sejarah tentu memiliki peran penting juga dalam mengatasi konflik-konflik yang terjadi di masyarakat. “Sejarah merupakan disiplin yang mencari asal-usul atau penyebab terjadinya peristiwa. Dengan mengetahui asal-usul atau penyebab konflik, sejarah dapat memberi kontribusi bagi upaya-upaya untuk penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat. Selain itu, sejarah juga dapat memberi contoh dan kebijakan. Kita belajar sejarah bukan untuk masa lalu, tetapi untuk masa kini dan masa depan. Kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah atau learning from history. Peristiwa pada masa lampau dan kebijakan yang pernah diambil dapat memberi petunjuk dan dijadikan pedoman untuk mengatasi konflik-konflik yang terjadi di tengah masyarakat, apalagi bila konflik-konflik yang terjadi di masyarakat itu menunjukkan pola-pola yang sama dengan peristiwa konflik yang tejadi pada masa lampau. Dengan demikian, sejarah dapat memberi solusi penyelesaian konflik atas dasar pengalaman pada masa lampau” ungkapnya.

Dalam ranah studi humaniora, peluang dan prospek kerja lulusan Ilmu Sejarah justru sangat luas. Program Studi S1 Sejarah Undip telah menetapkan profil lulusannya, antara lain sebagai Peneliti Sejarah; mampu mengkaji permasalahan sejarah berdasar kaidah ilmu sejarah dan mempublikasikannya baik secara lisan, tertulis, maupun audio visual. Lulusan dapat bekerja pada lembaga penelitian dan pengembangan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah (LIPI dan Litbangda) maupun swasta. Pengajar Sejarah; sebagai pendidik dan fasilitator pembelajaran sejarah yang kreatif dan inovatif, menguasai materi sejarah dengan baik, serta mampu mengikuti perkembangan disiplin sejarah berbasis teknologi informasi. Lulusan dapat bekerja sebagai fasilitator pembelajaran yang diselenggarakan oleh pemerintah (sekolah) dan swasta (sekolah dan lembaga bimbingan belajar). Penulis Sejarah; mampu menyusun tulisan baik populer maupun jurnalistik dalam perspektif sejarah. Lulusan dapat menjadi jurnalis pada media cetak dan daring. Pegawai Sejarah; mampu mengelola warisan sejarah dan budaya berdasar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lulusan dapat bekerja pada lembaga pemerintah maupun swasta. Konsultan Sejarah; mampu memberikan jasa konsultasi sejarah, melakukan evaluasi, dan menyiapkan laporan hasil kerja. Lulusan dapat mendirikan lembaga/ perusahaan yang bergerak dalam penelitian sejarah, budaya, dan seni. Wirausahawan Sejarah; mampu membuka lapangan kerja dengan memanfaatkan bidang kesejarahan sebagai bidang usahanya, baik di bidang media jurnalistik, film, dan pariwisata. Dan ada juga lulusan Program Studi S1 Sejarah Undip yang bekerja dan mengembangkan karier di dunia perbankan dan bidang-bidang yang lain.

Dalam mendorong kemajuan Undip menuju World Class University, Departemen Sejarah (Prodi S1/S2/S3 Sejarah) menyelenggarakan seminar internasional, workshop, kuliah tamu dengan narasumber para pakar terkemuka dari luar negeri. “Departemen Sejarah juga menjalin kerja sama dengan beberapa universitas di luar negeri. Sebagian dosen Departemen Sejarah telah berhasil mempublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi dan menjadi visiting lecturer atau visiting professor di Universitas Nagoya, Jepang. Mereka juga telah mengikuti dan menjadi pembicara pada seminar internasional dengan luaran artikel pada prosiding terindeks Scopus. Pimpinan Undip dapat lebih menggerakan seluruh civitas akademik untuk menuju World Class University” pungkasnya. (Linda-Humas)