Luqman Nashirudin Nafiq yang akrab disapa Luqman berhasil membawa timnya menjadi juara 1 lomba desain rumah sehat untuk kategori mahasiswa. Pengumuman pemenang lomba tersebut diinformasikan pada Selasa (17/8) melalui akun Instagram @pln_id. Lomba ini diselenggarakan oleh PT. PLN bekerja sama dengan Asosiasi Lingkungan Industri Ketenagalistrikan Nasioanal (ALLIN).

Dengan tema “Lomba Desain Rumah Sehat Terjangkau dan Ramah Lingkungan dari FABA PLTU 2021,” Luqman bersama dengan Revaldo Andika Pratama, Muhammad Nur Zikri Rahardian, dan Muhammad Amirul Chanif Rizaldi membuat desain hunian sehat dengan konsep modular, fleksibel, dan adaptif. Konsep modular membuat sisa material dari bangunan rumah menjadi tidak terbuang sia-sia. “Dari prinsip modular itu sisa materialnya tidak terbuang, sehingga itu bisa menjadi salah satu keunggulannya,” tutur Luqman ketika dihubungi tim kontributor IKA Undip, Senin (23/8).

Penggunaan inovasi material FABA, yakni limbah dari hasil pembakaran batu bara yang berupa abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) juga menjadi bagian penting dalam desain rumah sehat karya Luqman dan tim. Bahan material FABA yang saat ini digunakannya sebagai paving block dan batako dapat dikembangkan untuk material lain seperti genteng sirap, panel dinding, ubin, dan lain-lain.

Lebih lanjut, Luqman menjelaskan tujuan dibentuknya ruang fleksibel dan ruang adaptif dalam desainnya. Menurutnya, ruang fleksibel berguna untuk merespon kebutuhan ruang bagi interaksi para penggunanya. Sedangkan ruang adaptif diinovasikan dengan menyesuaikan kondisi Covid-19. “Ruang adaptif itu untuk merespon isu Covid-19 sendiri, jadi ada ruang untuk isolasinya dan ruang untuk berjemur,” tambah mahasiswa Teknik Arsitektur Undip angkatan 2018 ini.

Dosen pembimbing mereka, Resza Riskiyanto mengungkapkan bahwa desain yang dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa Teknik Arsitektur Undip 2018 itu murni dari kreativitas dan inovasi mereka. “Saya hanya mengarahkan bukan artian semua desainnya harus begini dan begitu mengikuti saya. Segala keputusan desain tetap mereka yang buat jadi murni kreativitas dan inovatifnya mereka,” ungkap Rezsa kepada tim kontributor IKA Undip, Senin (23/8).

Rezsa melihat adanya nilai tambah yang membuat konsep desain milik mahasiswanya itu layak mendapatkan juara pertama. “Cukup baik dari sisi desain programming-nya, itu ibarat mereka kan bicara rumah tinggal ya, tapi anak-anak tidak hanya membuatnya sekadar tempat tinggal tetapi juga ada fungsi lain berupa ekonomi dan segala macam, sehingga itu bisa menjadi nilai tambah. Desain lainnya hanya mementingkan faktor sederhana dan fungsional,” jelasnya.

Meski semua diskusi antaranggota dan pengerjaan desain dikomunikasikan secara online, Luqman mengaku tidak memiliki kendala berarti. Proses pengerjaan desainnya memakan waktu kurang dari tiga minggu. Luqman bersama timnya juga mengatur waktu secara efisien ketika harus mempersiapkan diri dalam seleksi kedua berupa presentasi.

Kemenangan Luqman dan tim rupanya mampu membangkitkan semangat berkompetisi di lingkungan Teknik Arsitektur Undip, seperti disampaikan oleh Rezsa. “Ini mulai bergeliat sih meskipun masih ada dalam taraf ingin ikut dan yang penting ikut saja lah. Paling tidak itu bisa memicu semangat yang lain,” pungkasnya.

Sumber: Official Website IKA Undip