Penyakit jantung selama ini lebih sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang kebanyakan menyerang pria. Hanya saja kenyataannya, penyakit jantung juga menjadi penyebab utama kematian pada wanita, karena beberapa gejala penyakit jantung pada wanita berbeda dengan pria, wanita seringkali tidak tahu apa yang harus diwaspadai. Semua wanita dapat menghadapi ancaman penyakit jantung.

Meskipun penyakit jantung kadang-kadang dianggap sebagai penyakit pria, banyak wanita juga terserang penyakit jantung dan meninggal setiap tahunnya akibat penyakit jantung. Tak jarang penyakit jantung yang menyerang pada wanita bersifat diam-diam namun mematikan. Langkah yang tepat untuk membantu melindungi jantung, yaitu dengan mengetahui gejala dan risiko khusus penyakit jantung pada wanita, dan dibantu dengan mengonsumsi makanan menyehatkan, serta berolahraga.

“Penyebab banyak kematian wanita adalah jantung, wanita memiliki karakteristik yang berbeda dengan pria, paparan penyakit jantung pun berbeda dengan pria. Faktor hormonal, kondisi wanita hamil dan melahirkan berperan menjadi beban jantung yang luar biasa” tutur dr. Sefri Noventi Sofia, M.Si.Med, Sp.JP, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Rumah Sakit Nasional Universitas Diponegoro.

Menurutnya gejala sakit jantung pada wanita itu variasinya sangat banyak. Wanita harus hati-hati jika memiliki anak-anak khususnya wanita, bila ada keluhan berupa batuk, panas berulang, dan pada ibu hamil ada keluhan tumbuh kembang janinnya terganggu jangan diabaikan. Anak-anak remaja dan wanita memiliki risiko jantung katub, yakni dari infeksi, misalnya keluhan sakit tenggorok atau disertai nyeri sendi yang berpindah-pindah. Ada infeksi rematik dari kuman tertentu bernama streptococcus beta hemolyticus. Biasanya menyerang  tenggorok tetapi ikut menyerang jantung sehingga klep jantung bermasalah.

Lebih lanjut, dr. Sefri menyampaikan perempuan hamil itu luar biasa beban di jantungnya, sehingga bagi wanita agar mengecek jantungnya untuk dilakukan upaya penanganan. Waspada jika anak-anak juga mengeluhkan mudah lelah, deg-degan, apalagi hingga pingsan. Beberapa pasien wanita mengalami gagal jantung akibat kehamilan, mekanismenya belum ada yang pasti, dan beberapa mengalami peningkatan tekanan darah saat hamil. Sehingga peningkatan tekanan darah pada wanita hamil jangan diabaikan, meskipun setelah melahirkan tensi turun, tetapi menurut data penelitian, sekian tahun ke depan wanita seperti ini memiliki risiko penyakit jantung jauh lebih tinggi. Dengan bertambahnya usia, wanita yang sudah menopause memiliki risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah jantung yang kemudian berpotensi pada serangan jantung. Dan wanita yang masih subur yang merencanakan akan melakukan proses hamil dan melahirkan, waspadalah untuk kesehatan jantungnya. Apabila selama proses kehamilan atau berkeluarga untuk men-screening kesehatan jantungnya.

“Mengenai pertolongan pertama untuk penanganan pada pasien henti jantung mendadak, kita jangan panik, cek respon pasien, segera panggil bantuan, baru mendekat ke pasien untuk dilebarkan jalur nafasnya, misalnya melonggarkan pakaian pasien, posisi terlentang, dan dilakukan pijat jantung” terangnya.

“Dalam rangka hari jantung sedunia marilah kita sama-sama mengingat kesehatan jantung dan jangan lupa bagi para wanita agar mengenali kelainan-kelainan jantung yang berpotensi akan menimbulkan masalah saat hamil karena memiliki peluang penyakit jantung yang cukup tinggi. Pada wanita yang ingin merencanakan kehamilan untuk men-screening jantungnya. Jika ada keluhan-keluhan seperti berdebar-debar, nyeri dada, dan sebagainya saran saya di cek saja. Apabila saat hamil ada peningkatan tekanan darah atau sesak nafas yang bertambah berat, maka lakukan pemeriksaan jantung dan jika sudah melahirkan tetap memantau kesehatan jantungnya, karena resikonya belum berhenti disitu. Bagi wanita  yang sudah menopause agar lebih rajin mengevaluasi tekanan darah, gula dan kolesterol serta berat badan,  karena memiliki risiko penyakit jantung penyumbatan” pesan dr. Sefri. (Linda Humas)