Semarang – Jawa Tengah (28/11). Batik merupakan warisan penting budaya Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Berbagai macam batik telah dikembangkan, salah satunya adalah Batik Dipokrista. Batik Dipokrista merupakan sebuah brand yang sedang dikembangkan, khususnya pada dunia mode dan seni budaya yaitu batik inovasi matematika berbasis konsep kristalografi.

Batik Dipokrista yang baru saja di-launching pada Jum’at (10/11) lalu ini dikembangkan melalui kegiatan Matching Fund Kedaireka antara Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip yang bekerja sama dengan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Batik Nilo Tirto Surakarta, dengan Ketua Tim Prof. Dr. Widowati, S.Si., M.Si. (Dekan FSM Undip); anggota tim Dr. Drs. Kartono, M.Si. (Dosen Departemen Matematika FSM Undip); Dr. Hanna Arini Parhusip (Dosen Departemen Matematika UKSW); Prof. Adi Darmawan, M.Si., Ph.D. (Dosen dept. Kimia FSM Undip); Dr. Ir. Arianti Ina Restiani H, M.Si. (lembaga Riset UKSW); Satriyo Adhy, M.T. (Dosen Departemen Informatika FSM Undip); dan Dwi Cahyo Utomo, Ph.D. (Dosen FEB Undip). Kegiatan ini melibatkan 40 (empat puluh) orang mahasiswa dari berbagai fakultas sebagai implementasi dari kegiatan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka).

Motif Batik Dipokrista dihasilkan dengan menggabungkan seni dan matematika. Sementara proses produksinya mengedepankan prinsip green economy. Kreasi dari batik cap ini memberikan berbagai pilihan corak batik yang menarik dan unik dengan satu canting cap kristalografi.

“Kita ingin mengenalkan matematika itu adalah seni yang indah, sehingga mahasiswa dapat termotivasi untuk membentuk inovasi yang kreatif dan dapat diaplikasikan ke permasalahan yang nyata, dalam hal ini yaitu untuk desain motif batik,” ucap Prof Widowati, Dekan Fakultas Sains dan Matematika Undip.

Keunikan lainnya adalah penggunaan pewarna alami Batik Dipokrista, yang tidak hanya aman bagi kulit tetapi juga tahan lama. Bahkan, seiring berjalannya waktu, warna batiknya akan semakin cerah. Proses pembuatan Batik Dipokrista dimulai dengan mordanting (menghilangkan kain dari kanji dengan membasahi kain dengan air tawas dan menjemurnya di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung); kemudian pengecapan; hingga proses akhir yaitu pelorotan.

Pewarna untuk kain batik ini menggunakan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan seperti dari kulit, kayu, daun, juga buah dan tumbuhan. Pewarnaan dilakukan 2 (dua) kali untuk menghasilkan warna yang diinginkan.

Konsep pembuatan Batik Dipokrista mengandalkan konsep kristalografi dalam transformasi bidang datar. Batik Dipokrista memiliki ciri khas yang mengedepankan konsep batik kristalografi yang telah dirancang dan disusun, dimana konsep ini merupakan implementasi dari transformasi geometri (translasi, rotasi, dan refleksi) sehingga sebuah motif dapat membentuk banyak pola pada karya batik cap.

“Saat ini ada 4 (empat) motif, yaitu Crop Circle, KrisMa (Kristalografi dan Batima), Bihani, dan UNDIPKu. Dari keempat desain motif dasar itu kita bisa menciptakan ribuan pola atau corak dengan menggunakan transformasi,” kata Prof Widowati.

Penggunaan canting cap kristalografi juga memiliki beberapa keunggulan antara lain: canting cap kristalografi ini dapat menghasilkan beragam pola batik cap; memperkaya ragam pola batik cap; biaya produksi batik cap kristalografi menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan canting cap biasa; dan metode pengecapan yang diterapkan merupakan peragaan dalam pembelajaran transformasi bidang datar yang kreatif, inovatif, dan produktif.

Metode pengecapan yang mudah diterapkan oleh pengrajin batik cap dan proses pembuatan kain batik cap kristalografi tidak berbeda dengan pembuatan kain batik cap pada umumnya. Yang berbeda pada desain motif ornamen fundamentalnya. Dengan inovasi tersebut, produsen batik cap dapat menghemat biaya produksinya, sehingga produk batik cap kristalografi dapat mempunyai daya saing dipasaran.

Selain itu, dalam pendekatan ekonomi melalui penggunaan pewarnaan alami dari bahan dasar alami mendukung pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi.

Bersama Matching Fund Kedaireka di Batik Nilo Tirto Surakarta telah memberikan pengalaman yang luar biasa bagi mahasiswa Undip karena ilmu matematika ternyata dapat diaplikasikan secara kreatif dalam proses produksi batik cap. Selain itu, kegiatan MBKM juga dapat memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengkonversikan sampai dengan 20 (dua puluh) sks mata kuliah yang relevan.

“Kami berharap pada pengembangan Batik Dipokrista kedepannya bisa memodifikasi lagi pola desain lainnya dan juga bisa dihilirisasi oleh industri,” pungkas Prof  Widowati.

Sumber: Fakultas Sains dan Matematika UndipDirektorat Inovasi dan Kerjasama Industri Undip (E-Book Karya Inovasi Undip hlm 173).

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, SH, M.Hum. (kiri) saat memberi pola batik cap pada launching Batik Dipokrista, Jum’at (10/11) di Dipo Hub.

Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, SH, M.Hum. beserta segenap pimpinan saat menghadiri launching Batik Dipokrista pada Jum’at (10/11) di Dipo Hub.

 

 

 

Share this :