Universitas Diponegoro mengukuhkan 2 (dua) guru besar dari Fakultas Kedokteran di gedung Prof. Sudarto S.H., Tembalang (5/12). Acara pengukuhan guru besar ini merupakan rangkaian dari kegiatan pengukuhan 32 (tiga puluh dua) guru besar Undip yang terjadwal mulai 5 s.d. 14 Desember 2023. Adapun dua guru besar yang dikukuhkan pada hari pertama di sesi pagi, Selasa (5/12) yaitu Prof. Dr. Meidiana Dwidiyanti, S.Kp., M.Sc. dan Prof. Dra. Ani Margawati, M.Kes., Ph.D. Keduanya dari Fakultas Kedokteran.

Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Regulasi Emosi Jiwa untuk Kesehatan”, Prof Mediana mengatakan bahwa regulasi emosi adalah hal yang perlu di kembangkan dalam pelayanan kesehatan jiwa, sehingga pasien bisa mandiri dalam menyelesaikan masalah dengan gangguan jiwa.

“Gangguan mental emosional yang banyak ditemukan di masyarakat yaitu stress, ansietas dan depresi. Masalah tersebut akan mengakibatkan masalah perilaku gangguan jiwa yang lebih serius seperti menciderai diri sendiri, bunuh diri dan skizofrenia,” ungkap guru besar di bidang Ilmu Keperawatan Jiwa ini.

“Harapan kedepan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa berfokus pada kemampuan regulasi emosi secara mandiri pada pasien dan keluarganya. Pada pelayanan preventif dan promotif, regulasi emosi bisa digunakan sebagai alat ukur outcome pelayanan di rumah sakit ataupun di puskesmas,” lanjut Prof Meidiana.

Sementara Prof Ani menyampaikan materi ilmiah tentang “Upaya Mengatasi Masalah Gizi dan Kesehatan” menuturkan kekurangan gizi mengacu pada kejadian stunting, wasting, dan underweight, serta defisiensi zat gizi mikro akibat kekurangan gizi yang terus menerus selama daur kehidupan berlangsung khususnya pada perempuan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita.

Lebih lanjut guru besar di bidang Ilmu Gizi Ibu dan Anak dan Ilmu Antropologi Gizi ini mengungkapkan antropologi kesehatan adalah cabang dari ilmu mengenai manusia yang mempelajari aspek-aspek biologi dan kebudayaan manusia dari titik tolak pandangan untuk memahami kedokteran (medical), sejarah kedokteran (medico-history), hukum kedokteran (medico-legal), aspek sosial kedokteran (medico-social) dan masalah-masalah kesehatan manusia.

“Dengan dilakukannya studi antropologi kesehatan dengan metode kualitatif yang mendekatkan peneliti dengan subjek penelitian, diharapkan akar masalah kesehatan, terutama terkait perilaku dan budaya akan didapatkan, yang dapat diselesaikan dengan berbagai program dan intervensi, terutama untuk mengubah perilaku,” pungkasnya. (LW-Humas)

Share this :